Jejak Orang Tionghoa di Batang Kapas dan Painan

Sabtu, 25 April 2026 - 15:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDASAPULUAH.COM – Viral­nya bangunan yang disebut-sebut mirip klenteng di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan, memantik perhatian luas dan memunculkan beragam tafsir di tengah masyarakat.

Namun di balik polemik itu, muncul satu pertanyaan penting: lantas bagaimana jejak keberadaan orang Tionghoa di Pesisir Selatan?

Apakah benar komunitas ini memiliki akar sejarah yang panjang di daerah ini, atau sekadar fenomena baru?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaan tersebut membawa kita menelusuri kembali catatan sejarah. Sebelumnya, jejak orang Tionghoa di Pesisir Selatan telah dibahas di wilayah selatan seperti Kambang, Surantih, dan Taluk yang termasuk kawasan Banda Sapuluah. Baca juga: Sejarah Cina di Banda Sapuluah, Pesisir Selatan

Kini, penelusuran itu bergeser sedikit ke arah utara, yakni ke Batang Kapas dan Painan—dua wilayah yang juga menyimpan rekam jejak penting komunitas Tionghoa dalam lintasan sejarah.

Sejak lama, Sumatera dikenal sebagai pulau yang kaya akan sumber daya alam. Julukan Swarnabhumi atau Negeri Emas melekat kuat, merujuk pada kekayaan emas yang telah termasyur sejak masa lampau

Nama Swarnabhumi, menurut Gusti Asnan dalam Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra adalah nama yang diberikan oleh Adityawarman Raja Minangkabau pada abad ke-14.

Selain emas, pulau yang disebut Java Minor oleh Marco Polo ini juga dikenal sebagai penghasil lada. Lada merupakan tanaman yang sangat laku dalam perdagangan internasional pada abad ke-16 hingga ke-18.

Hendrik Kroeskamp dalam De Westkust en Minangkabau menyebut budidaya tanaman lada telah dikenal oleh penduduk Sumatra dibagian pantai baratnya sebelum datangnya orang Eropa.

Bahkan, kualitas lada di daerah ini tergolong baik dan sangat baik.
Karena emas dan lada tadi, Sumatra terutama di pantai barat menjadi kota-kota pantai dan bandar yang menjadi pusat perdagangan kedua komiditi tersebut.

Sebagai pusat perdagangan yang terkenal dan penting, tak ayal Sumatra ramai dikunjungi oleh bangsa asing.

Salah satu bangsa asing yang ikut meramaikan dunia niaga dan pelayaran di daerah ini adalah bangsa Tionghoa. Kelompok masyarakat bermata sipit ini hadir di Pantai Barat Sumatera sejak penghujung abad ke-16 dan mereka datang dari Banten.

Tentu saja kedatangan Bangsa Tionghoa ini untuk mencari lada dengan kapal-kapal mereka sendiri. Memasuki dekade ke-14 abad ke-17, mereka telah bermukim di Kota Pariaman dan itu adalah pemukiman mereka yang pertama di Pantai Barat Sumatra.

Pada abad ke-18 dan 19, orang Tionghoa tadi telah tersebar secara merata di hampir semua kota utama di pantai barat, tak terkecuali di daerah selatan Kota Padang yang sekarang di kenal sebagai Kabupaten Pesisir Selatan.

Jejak Orang Tionghoa di Batang Kapas

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ke Rumah Pewaris dan Makam Pewaris Sultan Tarusan.
Jejak Keindahan Pesisir Selatan dalam Catatan Penjelajah Asing
Perburuan Zaini Zen Gagal, Lumpo Dibombardir Belanda
Kala Surantih, Amping Parak dan Kambang Melawan Belanda Tahun 1745
Sultan Indra Azhir Osman Seuntai Salam Sinopsis Kesultanan Indrapura
Selayang Pandang Cimpu
Pertalian Darah Pesisir Selatan dengan Kesultanan Brunei Darussalam
Gejolak PRRI di Surantih: Kayu Aro Jadi Lautan Api

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 15:05 WIB

Jejak Orang Tionghoa di Batang Kapas dan Painan

Selasa, 7 Oktober 2025 - 07:25 WIB

Ke Rumah Pewaris dan Makam Pewaris Sultan Tarusan.

Senin, 14 April 2025 - 16:43 WIB

Jejak Keindahan Pesisir Selatan dalam Catatan Penjelajah Asing

Minggu, 23 Maret 2025 - 22:12 WIB

Perburuan Zaini Zen Gagal, Lumpo Dibombardir Belanda

Jumat, 21 Maret 2025 - 15:17 WIB

Kala Surantih, Amping Parak dan Kambang Melawan Belanda Tahun 1745

Berita Terbaru