BANDASAPULUAH.COM – Viralnya bangunan yang disebut-sebut mirip klenteng di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan, memantik perhatian luas dan memunculkan beragam tafsir di tengah masyarakat.
Namun di balik polemik itu, muncul satu pertanyaan penting: lantas bagaimana jejak keberadaan orang Tionghoa di Pesisir Selatan?
Apakah benar komunitas ini memiliki akar sejarah yang panjang di daerah ini, atau sekadar fenomena baru?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaan tersebut membawa kita menelusuri kembali catatan sejarah. Sebelumnya, jejak orang Tionghoa di Pesisir Selatan telah dibahas di wilayah selatan seperti Kambang, Surantih, dan Taluk yang termasuk kawasan Banda Sapuluah. Baca juga: Sejarah Cina di Banda Sapuluah, Pesisir Selatan
Kini, penelusuran itu bergeser sedikit ke arah utara, yakni ke Batang Kapas dan Painan—dua wilayah yang juga menyimpan rekam jejak penting komunitas Tionghoa dalam lintasan sejarah.
Sejak lama, Sumatera dikenal sebagai pulau yang kaya akan sumber daya alam. Julukan Swarnabhumi atau Negeri Emas melekat kuat, merujuk pada kekayaan emas yang telah termasyur sejak masa lampau
Nama Swarnabhumi, menurut Gusti Asnan dalam Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra adalah nama yang diberikan oleh Adityawarman Raja Minangkabau pada abad ke-14.
Selain emas, pulau yang disebut Java Minor oleh Marco Polo ini juga dikenal sebagai penghasil lada. Lada merupakan tanaman yang sangat laku dalam perdagangan internasional pada abad ke-16 hingga ke-18.
Hendrik Kroeskamp dalam De Westkust en Minangkabau menyebut budidaya tanaman lada telah dikenal oleh penduduk Sumatra dibagian pantai baratnya sebelum datangnya orang Eropa.
Bahkan, kualitas lada di daerah ini tergolong baik dan sangat baik.
Karena emas dan lada tadi, Sumatra terutama di pantai barat menjadi kota-kota pantai dan bandar yang menjadi pusat perdagangan kedua komiditi tersebut.
Sebagai pusat perdagangan yang terkenal dan penting, tak ayal Sumatra ramai dikunjungi oleh bangsa asing.
Salah satu bangsa asing yang ikut meramaikan dunia niaga dan pelayaran di daerah ini adalah bangsa Tionghoa. Kelompok masyarakat bermata sipit ini hadir di Pantai Barat Sumatera sejak penghujung abad ke-16 dan mereka datang dari Banten.
Tentu saja kedatangan Bangsa Tionghoa ini untuk mencari lada dengan kapal-kapal mereka sendiri. Memasuki dekade ke-14 abad ke-17, mereka telah bermukim di Kota Pariaman dan itu adalah pemukiman mereka yang pertama di Pantai Barat Sumatra.
Pada abad ke-18 dan 19, orang Tionghoa tadi telah tersebar secara merata di hampir semua kota utama di pantai barat, tak terkecuali di daerah selatan Kota Padang yang sekarang di kenal sebagai Kabupaten Pesisir Selatan.
Jejak Orang Tionghoa di Batang Kapas
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






