Jejak Orang Tionghoa di Batang Kapas dan Painan

Sabtu, 25 April 2026 - 15:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di Batang Kapas, jejak keberadaan orang Tionghoa dapat ditelusuri di Koto Tuo. Koto Tuo adalah sebuah kampung yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Painan dan kini termasuk dalam Nagari IV Koto Hilie.

Seorang pejabat Belanda yang pernah bertugas di Dinas Kehutanan Hindia Belanda di Pantai Barat Sumatra pada dekade 1865-1887 bernama Jan Willem Hugo Cordes juga melihat makam orang Cina saat mengunjungi daerah tersebut.

Cordes dalam bukunya yang berjudul Herinneringen aan Sumatra’s Westkust (1874) menyatakan bahwa Koto Tuo adalah ibu kota dari landschap Batang Kapas. Lanschap ini dimungkinkan setingkat nagari untuk pemerintahan saat ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Koto Tuo memiliki luas wilayah yang besar dengan penduduk yang banyak pula dan dikatakan sebagai kampung yang paling padat di afdeeling Painan. Hal ini dimungkinkan karena saat itu Batang Kapas adalah kawasan yang paling makmur di afdeeling Painan dan memiliki perdagangan yang cukup aktif.

Di kampung yang berjarak sekitar 4,5 kilometer dari Muara Batang Kapas inilah banyak orang Tionghoa tinggal dan mengambil peran penting dalam perdagangan. Mereka membeli hasil-hasil pertanian dan hutan, dan di sisi lain mereka mengimpor dalam jumlah besar kain linen.

Hasil pertanian utama di daerah ini adalah padi yang dipanen setiap satu kali setiap tahun. Meskipun hanya ada satu kali panen padi setiap tahun, hasilnya cukup banyak sehingga setiap tahun banyak diekspor ke luar daerah.

Hasil bumi lainnya adalah kopi. Di Kota Tuo, kebun kopi tercatat mulai dibuka sejak tahun 1858 dan hasilnya dikumpulkan di sebuah gudang. Selain padi dan kopi, juga terdapat tempat pengolahan gula, akan tetapi pengolahannya masih sangat terbatas.

Beberapa hasil penting dari hutan di daerah ini adalah getah balam atau getah perca, dan getah kajai atau karet elastis. Produk lain dari hutan yang diekspor dari Batang Kapas meliputi papan, balok, kayu bakar, papan nibung, daun nipah yang digunakan untuk pembungkus cerutu dan berbagai kayu dari berbagai pohon berkualitas.

Hasil tani dan berbagai hasil hutan yang dibeli oleh orang-orang Tionghoa itu, kemudian diangkut menggunakan perahu atau rakit ke Padang untuk dijual. Sungai Batang Kapas adalah sungai yang sangat berguna untuk perdagangan.

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ke Rumah Pewaris dan Makam Pewaris Sultan Tarusan.
Jejak Keindahan Pesisir Selatan dalam Catatan Penjelajah Asing
Perburuan Zaini Zen Gagal, Lumpo Dibombardir Belanda
Kala Surantih, Amping Parak dan Kambang Melawan Belanda Tahun 1745
Sultan Indra Azhir Osman Seuntai Salam Sinopsis Kesultanan Indrapura
Selayang Pandang Cimpu
Pertalian Darah Pesisir Selatan dengan Kesultanan Brunei Darussalam
Gejolak PRRI di Surantih: Kayu Aro Jadi Lautan Api

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 15:05 WIB

Jejak Orang Tionghoa di Batang Kapas dan Painan

Selasa, 7 Oktober 2025 - 07:25 WIB

Ke Rumah Pewaris dan Makam Pewaris Sultan Tarusan.

Senin, 14 April 2025 - 16:43 WIB

Jejak Keindahan Pesisir Selatan dalam Catatan Penjelajah Asing

Minggu, 23 Maret 2025 - 22:12 WIB

Perburuan Zaini Zen Gagal, Lumpo Dibombardir Belanda

Jumat, 21 Maret 2025 - 15:17 WIB

Kala Surantih, Amping Parak dan Kambang Melawan Belanda Tahun 1745

Berita Terbaru