Keberadaan pria Tionghoa ini menunjukkan bahwa Painan juga menjadi salah satu tempat tinggal komunitas Tionghoa pada masa itu. Lebih jauh lagi, jika mengacu pada kebiasaan orang Tionghoa yang cenderung hidup berkelompok dalam suatu wilayah, dapat diasumsikan bahwa terdapat sejumlah orang Tionghoa lain yang menetap di Pasar Painan.
Kehidupan mereka kemungkinan besar berkisar pada aktivitas perdagangan seperti orang-orang Tionghoa di beberapa daerah di Pesisir Selatan, mengingat peran penting yang biasanya dimainkan oleh komunitas Tionghoa di berbagai daerah Sumatra Barat pada masa itu.
Sementara itu, berdasarkan keputusan Gubernur Sumatra Westkus tahun 1884 yang disampaikan tadi, wilayah untuk orang Tionghoa di Painan, ibu kota Afdeeling Painan, dibatasi oleh jalan sepanjang pantai laut di sebelah barat dan selatan, sawah milik orang Melayu Si Begen di sebelah selatan dan timur, serta pekarangan orang Melayu dan jalan militer menuju Batangkapas di sebelah timur dan utara, sementara di sebelah barat dan timur terdapat kebun kelapa milik orang bernama Radja Kabaw.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak keberadaan orang Tionghoa di Pesisir Selatan juga tercatat dalam peristiwa banjir bandang hebat yang melanda daerah tersebut pada penghujung tahun 1915. Banjir ini terjadi pada tanggal 27-28 Desember 1915, sebagaimana dilaporkan oleh Controleur B.A. Bruins.
Surat kabar De Sumatra Post edisi 31 Desember 1915 juga memuat kabar duka akibat banjir bandang yang disebabkan oleh meluapnya Batang Salido.
Dalam surat kabar itu, disebutkan bahwa seorang Tionghoa dan enam perempuan pribumi terbawa arus deras. Dari jumlah tersebut, tubuh seorang Tionghoa dan satu perempuan pribumi ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, sementara empat orang lainnya tidak pernah ditemukan jejaknya.






