Asmara Subuh: Melankolia dan Romantisme Ramadan

Minggu, 15 Maret 2026 - 10:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDASAPULUAH.COM – Bila bulan ramadan tiba, ingatanku langsung melompat ke masa tahun 2000an. Momen-momen ramadan yang nyaris tak dapat lepas dari ingatan sampai sekarang. Tidak heran banyak video seweliran mengenang masa-masa indah itu di media sosial. Kelindan ingatan itu juga mengantarkan kita pada banyak kenangan, tentu saja tak hanya bersama keluarga. Tetapi juga di luar rumah. Ingatan yang sewaktu-waktu seakan ingin dikembalikan, ingatan yang barangkali telah diperuntukan untuk masa itu dan takkan mungkin kembali. Meski ia terus menjadi tradisi tahunan.

Momen ramadan sudah serupa ingatan akut yang kerap datang kalau bulan puasa tiba. Kenangan menjalankan puasa (menahan hawa nafsu), momen taraweh, permainan tradisional, agenda ramadan. Dan yang tak kala membekas adalah Asmara Subuh. Rangkaian Asmara Subuh ini sudah dimulai sejak taraweh pertama. Walau namanya begitu romantisme kawula muda, tetapi percayalah, Asmara Subuh tidak semata persoalan kisah kasih sejoli. Atau kisah asmara yang liar dan problematik. Asmara Subuh sebagai ingatan ialah kenangan bersama sebaya sehabis sahur/salat subuh di masjid. Setelahnya diteruskan dengan aktivitas jalan santai ke tempat yang telah menjadi ikon tradisi ini. Di wilayah pesisir pantai barat sumatra (kawasan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat) dimulai dari Kecamatan Batangkapas hingga Air Haji biasanya berlokasi di pantai. Dari beberapa tempat tersebut, saya bisa memastikan kawasan pantai di wilayah kecamatan Sutera adalah yang paling ramai. Tempat-tempat tersebut terdiri dari beberapa titik: Pantai belakang Pasar Surantih, Samudera, Gunung Rajo, Anggar/dermaga Lansano, dan Taratak. Tiga nama pertama adalah lokasi yang berdekatan, lokasi tersebut menjadi tiga pintu masuk sebelum pemuda dan pemudi bertemu di Pasia Samudera. Momen ini menjadi semacam pertemuan, janjian yang sudah diatur dari malam taraweh. Puncak keramaian selama bulan ramadan ialah hari minggu. Barangkali, serupa malam minggu yang menjelma subuh begitu.


Ada banyak kegiatan dan kenangan yang membekas pada masa itu. Selain mandi air laut, sepak bola, mercun dan senda gurau. Tentu tak bisa juga kita lupakan kisah curi pandang layaknya kasmaran malu-malu. Aku tidak tahu teman-teman yang lain menjalani bagian ini seperti apa, tetapi bisa dipastikan anak-anak yang terlibat kisah curi pandang cari perhatian kepada lawan jenis tersebut hanya sebatas perasaan caper saja. Jika saling merasa respon yang sama, mereka akan lanjut berkirim surat. Kenangan berkirim surat itu barangkali tidak begitu lama dirasakan anak-anak kelahiran 90an. Pasalnya, setelah beranjak ke tahun 2005/2006. Telepon genggam sudah mulai masuk di kehidupan kami. Ya, tentu saja tidak semua anak-anak memilikinya. Biasanya di antara kelompok akan ada satu atau dua orang yang memilik telepon genggam. Maka hape tersebut akan digilir untuk telponan atau sekadar sms-an setelah mendapatkan kontak telpon yang bisa menghubungkan ke seseorang yang curi pandang itu. Kami akan patungan untuk mengisi pulsa, memasang paket dan antri untuk mendapatkan giliran agak 30 menit. Paket Telkomsel memang sangat populer pada masa itu. Paket malam dan siang. Jika malam sabtu, pada pukul 23:59 wib, kami sudahlah mengatur giliran untuk menelpon. Biasanya sejak taraweh kami mengingatkan kepada pemilik kontak yang akan dihubungi nantinya, bahwa dini hari akan menelpon. Itu sebabnya tak jarang pula pada masa itu satu hape bisa menjadi alat komunikasi satu-satunya bagi beberapa pasangan. Sehingga untuk Asmara Subuh, mereka datang berkelompok. Tak heran momen tersebut yang membuat suasana subuh begitu semarak, asyik dan menyenangkan. Sulit menggambarkan bagaimana subuh menjelma pertemuan puitik, bahkan menjadi kenangan tahunan yang sulit untuk tidak diingat bila bulan puasa tiba.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Asmara Subuh telah menjadi tradisi di bulan ramadan. Subuh yang dingin seakan menyediakan cerita lain dari bulan puasa yang khusyuk. Berbekal titik kumpul, kadang beberapa teman tidak datang bersamaan. Ada yang menyukai berjalan kaki, ada juga yang memilih menggunakan motor. Dua mode itu memiliki sisi berbeda dalam momen Asmara Subuh. Penamaan tersebut barangkali terkesan romantisme kawula muda, tetapi ada banyak bagian menarik yang dapat dibuhul sebagaimana bulan sakral umat Islam (ramadan) dijalani. Walau tak dapat dipungkiri pula kegiatan ini juga menyimpan sisi mubasir dan sumbangnya. Misalnya, bagi mereka yang melakukan aktivitas Asmara Subuh dengan berjalan kaki 5-10 Km, tak pelak pada akhirnya menyebabkan batal puasa. Pada masa itu, jarak berjalanan kaki memang tak menjadi halangan. Bahkan, sepulang dari pantai, kalau-kalau hari minggu, kami menumpang saja dengan oto balai (angkutan umum) untuk pulang. Aku lupa berapa kilo berjalan kaki dari rumah untuk sampai ke pantai. Kira-kira menempuh waktu 1/2 jam.

Sekarang, paling tidak satu dekade terakhir, momen Asmara Subuh ini tidak lagi menjadi tradisi kawula muda yang menyenangkan dan semarak. Atau mungkin saja, saya tidak lagi mengalami langsung sebagaimana masa-masa remaja. Tradisi ini telah menjelma dalam bentuk lebih kepada gaya hidup modern, kadang nampak norak dan menohok. Dimana kecanggihan merenggut semarak berkomunal—komunikasi tempat obrolan berlangsung. Beberapa tahun belakangan, saya melihat wajah baru dari Asmara Subuh yang ugal-ugalan, liar, kelewatan, dan dipenuhi gairah romansa yang kebablasan. Motor-motor bersuara nyaring hilir mudik, sengaja mengganggu telinga: tengil dan menyebalkan. Bukan berarti dulu tidak ada, namun kapasitasnya memang sangat berjarak sekali. Jika harus memberi volume, 1 berbanding 10. Tidak berlebihan pula pada akhirnya aktivitas Asmara Subuh menjadi perhatian pemerintah, seperti razia rutin Satpol-PP dan Polisi. Sangat jauh berbeda dengan dulu, bahkan untuk sekadar kenakalan remaja seperti berkelahi, cukup habis di tempat saja. Jika harus mencatat momen pertengkaran sesama remaja, saya jadi ingat banyak nama teman-teman pada masa itu. Baik teman sekampung ataupun dari kampung lain.

Hari-hari depan, mungkin ditahun-tahun murung Asmara Subuh. Momen puitik itu tidak lagi terlihat, kekhusyukan atau suasana asyik serta menyenangkan tidak terlihat dari bagaimana anak-anak melakukan kegiatan komunal. Dari wajahnya, dari gelagatnya hanya nampak pongah dan keakuan nauzubillah. Bila ramadan tiba, saya kerap menyempatkan diri agak sekali dua kali melihat tradisi ini secara langsung. Asmara Subuh tidak lagi menjadi fenomena, ia telah membekas sebagai warisan budaya. Tradisi yang terus diulang-ulang. Tahun berganti, tradisi nyatanya mengikuti pula. Asrama Subuh yang dulunya khas dan semarak layaknya kegiatan komunal perjumpaan antar remaja, sekarang berganti ajang individu saling pamer kemampuan diri; bagak dan menguasai. Jika harus dibandingkan, di masa lampau, siapa saja mempunyai posisi sama untuk saling tegur, bahkan tak ada pembatas kelompok ini menonjol (paling bagak) dan ini paling penakut.

Semuanya setara, siapa saja boleh sparing tangan kosong satu lawan satu. Bullying tentu saja ada, tapi kadarnya terlihat jauh berbeda. Dulu, umumnya bullying sebatas cemooh untuk lucu-lucuan saja. Tak sampai pada fisik atau menganiaya. Tapi, entahlah. Sesuatu yang terjadi sekarang, barangkali juga akumulasi dari masa lampau.

Asmara Subuh serupa momen puitik yang memorable, bahkan ingatan sendiri tak sanggup menangkisnya untuk tidak teringat. Kenangan ramadan tak semata ingatan masa lampau yang haru dan kilas-berkilas. Ia hadir menjadi pilinan yang kait berkait, kelindan yang bahkan hanya haribaan sanggup merenggutnya. Ingatan tentang Asmara Subuh bukan tentang gejolak kawula muda saja, lebih dari itu ia memberikan banyak pelajaran yang kelak–mungkin terbawa sampai saat ini. Tradisi ini telah merangkum ragam cerita, kisah yang terus membekas nyalang sebagai pertemuan di hari muka, meski perpisahan telah tanggal sejak jauh-jauh hari. Tapi tiap mengingat Asmara Subuh, tiap itu pula perasaan janggal mengetuk, “adakah tumpangan ke sana untuk sekadar menyapa?

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Buka Sosialisasi KTA Digital Pramuka, Risnaldi Targetkan Seluruh Anggota Miliki KTA
Buka P3AB Ampalu Cup II, Wabup Risnaldi Puji Semangat Pemuda Bangun Olahraga Nagari
Lewat Tanam Serentak, Wabup Risnaldi Dorong Peningkatan Produksi dan Kesejahteraan Petani
Dukung Program Nagari Pandai, Dispusker Pessel Gelar Lomba Bertutur
Bupati dan Wabup Pessel Sapa Jamaah Haji di Tanah Suci, Doakan Pulang Sehat dan Mabrur
Program Nagari Kanyang Diperkuat Lewat Tanam Serentak, Risnaldi Bidik Pessel Jadi Lumbung Pangan
Bupati Hendrajoni Buka Portas Cup I, 24 Tim dari 3 Provinsi Ambil Bagian
PMI Salurkan 500 Paket School KIT di Pessel, Risnaldi Dorong Anak-anak Makin Semangat Belajar

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 12:08 WIB

Buka Sosialisasi KTA Digital Pramuka, Risnaldi Targetkan Seluruh Anggota Miliki KTA

Sabtu, 6 Juni 2026 - 22:24 WIB

Buka P3AB Ampalu Cup II, Wabup Risnaldi Puji Semangat Pemuda Bangun Olahraga Nagari

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:47 WIB

Lewat Tanam Serentak, Wabup Risnaldi Dorong Peningkatan Produksi dan Kesejahteraan Petani

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:40 WIB

Dukung Program Nagari Pandai, Dispusker Pessel Gelar Lomba Bertutur

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:44 WIB

Bupati dan Wabup Pessel Sapa Jamaah Haji di Tanah Suci, Doakan Pulang Sehat dan Mabrur

Berita Terbaru