Seratusan Pelajar di Sutera Terancam Putus Sekolah, Orang Tua Mengadu ke Bupati

Jumat, 11 Juli 2025 - 01:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDASAPULUAH.COM – Seratusan pelajar tingkat SMP sederajat di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Mereka gagal diterima di SMAN 1 Sutera melalui jalur domisili dalam Seleksi Penerimaan Masuk Bersama (SPMB) tahun 2025.

Padahal, sebagian besar dari pelajar tersebut tinggal sangat dekat dengan lingkungan sekolah. Bahkan ada yang rumahnya berdampingan langsung dengan gedung SMAN 1 Sutera.

Kondisi ini mendorong puluhan orang tua murid menyampaikan keluhan mereka langsung kepada Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, saat melakukan kunjungan kerja ke SDN 28 Pasar Surantih pada Kamis (10/7/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka menyampaikan keresahan dan harapan agar anak-anak mereka tetap bisa bersekolah tanpa harus keluar dari kecamatan atau menambah beban biaya yang tinggi.

“Saya kecewa sekali. Anak saya mendaftar lewat jalur domisili karena rumah kami sangat dekat dengan sekolah. Tapi tetap tidak diterima,” ujar Fitriani, salah satu orang tua murid.

Ia mengungkapkan, pihak sekolah menyatakan bahwa faktor nilai menjadi dasar dalam perankingan meski menggunakan jalur domisili.

Fitriani menyesalkan hal ini karena sebelumnya salah satu guru di sekolah itu menyampaikan bahwa anak-anak sekitar sekolah akan diterima jika mendaftar lewat jalur zonasi atau domisili.

Senada dengan itu, Sari, orang tua murid lainnya, mengaku tidak menyangka anaknya akan gagal di jalur domisili.

“Kami kira yang dekat dengan sekolah pasti diterima. Kalau tahu dari awal ada penilaian nilai juga, kami tentu pilih jalur afirmasi atau prestasi,” katanya.

Menurut para orang tua, solusi yang ditawarkan saat ini adalah menyekolahkan anak-anak ke SMAN 2 Sutera, SMKN 1 Sutera, atau sekolah lain di luar kecamatan seperti di Lengayang dan Batang Kapas. Namun mereka menilai opsi tersebut membebani secara ekonomi dan emosional.

“Anak-anak kami nanti jauh dari pengawasan, dan biaya transportasi bertambah. Ini berat bagi kami,” ucap Yeni, salah satu orang tua lainnya.

Ia juga menambahkan, sekolah itu dulunya diperjuangkan oleh masyarakat setempat agar generasi mereka tidak harus pergi jauh untuk mengenyam pendidikan. Namun sekarang, justru anak-anak dari lingkungan terdekat tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah tersebut.

Mereka juga mempertanyakan implementasi amanat undang-undang yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan gratis. Karena itu, para orang tua berharap pemerintah hadir dan mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini.

Bahkan, sejumlah perwakilan orang tua menyatakan akan menggelar aksi damai jika tidak ada solusi konkret yang diberikan oleh pemerintah dalam waktu dekat.

“Kami tidak ingin membuat keributan, tapi ini soal masa depan anak-anak kami. Kalau tidak ada jalan keluar, kami akan melakukan aksi damai sebagai bentuk protes dan harapan,” kata salah satu orang tua.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat selaku pihak yang berwenang atas pengelolaan pendidikan tingkat SMA.

“Kami sudah mencatat semua aspirasi masyarakat. Saya minta jajaran terkait segera mencarikan solusinya,” ujar Hendrajoni.

Ia menegaskan, secara kewenangan, pemerintah kabupaten hanya bertanggung jawab atas pendidikan tingkat SD dan SMP. Meski demikian, Hendrajoni berjanji akan memperjuangkan aspirasi masyarakat agar tidak ada anak-anak di Pesisir Selatan yang putus sekolah.

“Saya tidak ingin ada anak-anak kita yang gagal sekolah hanya karena masalah ini. Saya juga sudah meminta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Salim Muhaimin, untuk segera berkoordinasi dengan dinas pendidikan provinsi,” ujarnya.

Hendrajoni juga mengimbau masyarakat untuk bersabar dan mempercayakan penyelesaian masalah ini kepada pemerintah.

“Saya paham keresahan yang dirasakan orang tua. Tapi saya minta agar masyarakat tetap tenang dan bersabar. Kami akan berupaya maksimal mencari solusi terbaik,” tutupnya.

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Oktarina Risnaldi: Bundo Kanduang Bukan Sekadar Simbol Adat, tetapi Mitra Niniak Mamak Menjaga Nagari
Buka Sosialisasi KTA Digital Pramuka, Risnaldi Targetkan Seluruh Anggota Miliki KTA
Buka P3AB Ampalu Cup II, Wabup Risnaldi Puji Semangat Pemuda Bangun Olahraga Nagari
Lewat Tanam Serentak, Wabup Risnaldi Dorong Peningkatan Produksi dan Kesejahteraan Petani
Dukung Program Nagari Pandai, Dispusker Pessel Gelar Lomba Bertutur
Bupati dan Wabup Pessel Sapa Jamaah Haji di Tanah Suci, Doakan Pulang Sehat dan Mabrur
Program Nagari Kanyang Diperkuat Lewat Tanam Serentak, Risnaldi Bidik Pessel Jadi Lumbung Pangan
Bupati Hendrajoni Buka Portas Cup I, 24 Tim dari 3 Provinsi Ambil Bagian

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:16 WIB

Oktarina Risnaldi: Bundo Kanduang Bukan Sekadar Simbol Adat, tetapi Mitra Niniak Mamak Menjaga Nagari

Senin, 8 Juni 2026 - 12:08 WIB

Buka Sosialisasi KTA Digital Pramuka, Risnaldi Targetkan Seluruh Anggota Miliki KTA

Sabtu, 6 Juni 2026 - 22:24 WIB

Buka P3AB Ampalu Cup II, Wabup Risnaldi Puji Semangat Pemuda Bangun Olahraga Nagari

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:47 WIB

Lewat Tanam Serentak, Wabup Risnaldi Dorong Peningkatan Produksi dan Kesejahteraan Petani

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:40 WIB

Dukung Program Nagari Pandai, Dispusker Pessel Gelar Lomba Bertutur

Berita Terbaru