BANDASAPULUAH.COM –
JAKARTA, KOMPAS — Revitalisasi museum-museum di Jakarta diharapkan bukan titik akhir, melainkan menjadi proses berkelanjutan untuk memperkuat relevansi museum dalam kehidupan publik. Salah satu langkah yang perlu dilakukan, yakni memperkuat komunikasi dan pemaknaan warisan budaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari Museum Nasional yang diperingati setiap tanggal 12 Oktober menjadi momentum memperkuat revitalisasi museum. Kurator dan praktisi permuseuman yang juga Co-founder Sintas Karya Bernas, Diana Trisnawati Yudhistira, saat dihubungi pada Minggu (11/10/2026), menekankan, perlu ada penguatan komunikasi museum sebagai institusi pengetahuan dan pemaknaan warisan budaya.
Museum Nasional Indonesia, misalnya, memberikan sarana edukasi dengan koleksi arkeologi, sejarah, etnografi, dan geografi. Museum ini menyajikan keragaman budaya Indonesia mulai dari masa prasejarah hingga kini. Pada Minggu (11/10/2026), wisatawan mancanegara hingga turis domestik memenuhi museum tersebut.
Beberapa dari mereka datang bersama keluarga, pasangan, anak, dan orangtua. Nur Mita Arumsari (37), salah satu pengunjung, datang bersama keluarga dan anaknya. Sebagai lulusan sejarah, ia hendak mengenalkan sejarah Indonesia kepada anaknya sejak dini.
Ruang Imersifa, menurut Mita, merupakan bagian paling menarik dan interaktif untuk memberikan edukasi bagi anak-anak. Ruangan ini memberikan pengalaman realis berupa audiovisual kepada pengunjung dengan menampilkan binatang-binatang purba. Anaknya lebih menyukai ruang Imersifa karena interaktif dan anak-anak lebih cepat menyerap pengetahuan dari visual.
Imersifa menjadi spot paling ramai pengunjung dan menjadi daya tarik bagi anak-anak. Ruangan ini menampilkan video berdurasi 30 menit dengan proyeksi 360 derajat yang ditampilkan pada dinding dan lantai. Dengan audiovisual ini, pengunjung seolah diajak bertualang bersama hewan-hewan purba.
Fungsi edukasi di dalam Museum Nasional Indonesia kepada anak-anak sudah berjalan baik. Namun, bagi pengunjung mancanegara, penjelasan beberapa situs dan artefak prasejarah dinilai terlalu singkat. Mita yang juga arsiparis Arsip Nasional itu menilai seharusnya museum memiliki katalog atau scan barcode yang bisa memberi penjelasan lebih panjang.
”Lebih enak kalau ada katalog dan peta wilayah agar bisa dengan mudah menentukan mau ke mana. Kalau ada peta, setidaknya kita bisa menentukan peta berpikirnya karena sejarah itu kan kronologis,” ujarnya.
Menurut Mita, situs sejarah yang ditampilkan di bagian artefak prasejarah pada museum ini belum disusun sesuai alur diakronisnya. Penyusunan alur diakronis yang memanjang dalam waktu bisa membantu alur berpikir pengunjung pula. ”Kalau tidak sesuai alur, kita lompat-lompat berpikirnya. Seandainya ada katalog, kita bisa tahu alur yang benar,” tambahnya.
![]()
Lebih enak kalau ada katalog dan peta wilayah agar bisa dengan mudah menentukan mau ke mana. Kalau ada peta, setidaknya kita bisa menentukan peta berpikirnya karena sejarah itu kan kronologis.
Pengunjung mancanegara yang hadir pada museum ini juga merasa puas dengan situs-situs yang ditampilkan. Vederico (34) dan Sonya (32) misalnya, wisatawan asal Italia yang baru saja berkunjung ke Indonesia dan memutuskan untuk menjadikan museum ini sebagai destinasi wisata.
Seusai berkeliling museum, Vederico menilai pengalaman di dalam museum cukup berkesan untuknya. Situs paling menarik untuknya ada pada situs arca prasejarah dan Semai yang menampilkan rempah-rempah lokal khas Nusantara. Dengan adanya situs dan sudut pangan di museum ini, Vederico merasa lebih mengenal Indonesia.
Pascarevitalisasi
Seperti Museum Nasional Indonesia, Museum Sejarah Jakarta juga telah direvitalisasi. Setelah direvitalisasi, museum ini semakin ramai dikunjungi terutama di kalangan anak muda. Mereka terlihat antusias mengunjungi museum ini pada Minggu (11/10/2026).
Museum ini menampilkan sejarah kota Jakarta dari masa kolonialisme Belanda hingga setelah kemerdekaan. Namun, penggambaran masa kolonial di museum ini tidak terlalu kontekstual dalam penggambarannya.
Hal ini terlihat dari teks kuratorial yang dibaca oleh pengunjung. Prof Charles Jeurgens (66), sejarawan asal Belanda yang berkunjung ke museum ini menilai, teks kuratorial mengenai Belanda masih digambarkan terlalu ramai.
Selain itu, ia menilai kronologi waktu yang digambarkan dalam museum tersebut tidak terlalu jelas. Meski demikian, ia mengapresiasi perkembangan Museum Sejarah Jakarta yang telah mengalami kemajuan setelah direvitalisasi.
Charles telah berkunjung ke museum ini enam kali sejak 1990-an. Ketika kunjungan pertama, bangunan museum belum memadai. Atapnya bocor sehingga jika hujan air merembes ke dalam museum. Kini bangunan sudah lebih baik, tetapi wacana dan teks kuratorial di dalamnya perlu diperbaiki.
Esti Wening Driyati (52), salah seorang pengunjung, juga menilai perlu perbaikan kuratorial museum. Ia melihat beberapa barang seperti meja, kursi, dan lemari yang disegel dan tidak diberikan keterangan teks kuratorial. Ini membuatnya dan beberapa pengunjung lain bingung.
”Saya bingung melihat ada meja kursi dan lemari yang ditaruh begitu saja di sini tanpa ada keterangannya. Sebaiknya diberi tulisan informatif supaya pengunjung enggak bingung,” ujarnya.
Selain itu, Esti menilai akan lebih baik jika museum ini diberikan pemandu museum yang ada di setiap ruangan agar bisa menjawab pertanyaan pengunjung. Ia berharap, jika terdapat pemandu, dirinya tidak lagi bingung. Sebab beberapa teks kuratorial, menurut dia, belum dapat memberikan pemahaman mendalam.
Meski demikian, Esti mengapresiasi kehadiran papan interaktif digital yang dihadirkan di museum. Menurut dia, papan ini dapat menarik kaum muda untuk memasuki museum dan membantu memahami isi museum.
Penguatan komunikasi
Melihat revitalisasi museum yang ada di Jakarta, co-founder Sintas Karya Bernas, Diana Trisnawati, menyatakan selain konstruksi dan interior, museum perlu memperhatikan proses riset, narasi, dan kuratorial.
Sebagai contoh, di Museum Nasional Indonesia, sesuai namanya, pengunjung berekspektasi melihat dan memahami Indonesia. Jadi, museum ini memiliki tanggung jawab merepresentasikan keragaman dan kompleksitas sejarah Indonesia secara proporsional dengan tetap memperhatikan keilmiahannya.
”Ini menjadi penting untuk selalu dievaluasi, apakah kekayaan koleksi yang ditampilkan sudah merepresentasikan perjalanan sejarah dan keragaman budaya Indonesia dari Timur ke Barat,” tuturnya.
Diana juga menilai, koleksi-koleksi pada museum perlu ditempatkan secara konstekstual agar pengunjung memahami maknanya dalam kehidupan masyarakat pada masanya. Ia juga menilai pentingnya mencantumkan benang merah yang menghubungakan antarkoleksi agar diperoleh makna yang utuh.
![]()
Revitalisasi bukanlah titik akhir setelah ruang pamer diperbarui. Revitalisasi adalah proses berkelanjutan untuk memperkuat relevansi museum dalam kehidupan publik.
Praktisi museum ini menekankan, tujuan museum tidak hanya sekadar bagus secara visual dan menarik untuk dikunjungi. Namun, juga harus mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, memperluas wawasan, dan membangun hubungan yang lebih bermakna antara masyarakat dengan sejarah serta warisan budayanya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






