BANDASAPULUAH.COM –
Batam | Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Padang Belakang menorehkan prestasi membanggakan dalam kegiatan Diskusi Budaya LAM di enam kecamatan se-Kota Batam. Kontingen Balik Padang berhasil meraih juara pertama pada empat kategori perlombaan, yakni menari 60an, tari persembahan, membuat doa, dan kompang.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa kesenian dan tradisi Melayu masih tumbuh kuat di kalangan masyarakat Belakang Padang, sekaligus menunjukkan komitmen para penggiat adat dalam menjaga warisan budaya tetap hidup lintas generasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Obrolan Budaya berjudul Merajut Ukhuwah, Menjaga Harmoni dalam Keberagaman dengan Memadukan Seni Budaya Melayu dilaksanakan pada tanggal 8–10 Oktober 2026 di Bazar Vitka Square, Tiban, Sekupang, Batam.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi enam pengurus LAM kecamatan, yakni Sekupang, Belakang Padang, Batu Ampar, Lubuk Baja, Batu Aji, dan Sagulung. Berbagai lomba tradisional dan pertunjukan seni digelar sebagai sarana mempererat tali silaturahmi sekaligus melestarikan budaya Melayu di tengah keberagaman masyarakat Batam.
Ketua LAM Kabupaten Padang Belakang Amri Bedu mengatakan, keberhasilan meraih juara pertama pada empat kategori lomba tidak terlepas dari kekompakan dan kerjasama seluruh peserta serta masyarakat yang terlibat.
Menurutnya, kesenian dan tradisi Melayu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bawah Padang sehingga para peserta mempunyai ketrampilan untuk tampil dalam acara ini.
“Alhamdulillah atas solidaritas dan kerjasama teman-teman di Belakang Padang, kami berhasil meraih juara pertama di semua lomba yang kami ikuti,” kata Amri.
Ia menilai, prestasi tersebut bukan sekedar prestasi dalam kompetisi, namun juga merupakan tanggung jawab moral untuk terus mengembangkan dan menjaga tradisi Melayu di Balik Padang.
Amri berharap keberhasilan ini dapat menjadi motivasi bagi masyarakat khususnya generasi muda untuk semakin mengenal, mencintai dan melestarikan seni dan budaya Melayu.
“Menjadi tanggung jawab moral kami di Belakang Padang untuk terus mengembangkan budaya ini agar benar-benar menjadi ciri khas Melayu yang terus hidup di masyarakat,” ujarnya.
Barzanji dan Marhaban Diusulkan Masuk MTQ
Selain prestasi yang diraih para peserta, Amri juga mengapresiasi inisiatif Ketua LAM Kota Batam Kepri, HE H. Raja Muhammad Amin yang mendorong pembacaan Albarzanji dan marhaban agar mendapat ruang lebih luas dalam kegiatan keagamaan di Kota Batam.
Menurut Amri, langkah ini penting agar tradisi yang berkembang pada masyarakat Melayu tidak hanya tetap terpelihara dalam lingkungan tradisional, tetapi juga mempunyai ruang untuk pembangunan dan pembangunan berkelanjutan.
Dikatakannya, LAM Kepri Kota Batam berencana menggandeng Kementerian Agama Kota Batam untuk mengusulkan agar bacaan Albarzanji dan Asrakal dapat diperlombakan dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kota Batam.
“Salah satu hal yang sangat kami apresiasi adalah inisiatif Ketua LAM Kota Batam Kepri, Yang Mulia Raja Muhammad Amin terkait lomba zanji dan marhaban. Semoga rencana agar tradisi ini bisa dipertandingkan di MTQ tingkat Kota Batam bisa terwujud,” ujarnya.
Amri menilai upaya ini merupakan langkah positif untuk memperluas pelestarian budaya Melayu sekaligus memperkenalkan nilai-nilai agama dan tradisi kepada generasi penerus.
Ia berharap budaya Melayu dapat terus menjadi payung pemersatu masyarakat Batam di tengah perbedaan suku, agama, dan latar belakang sosial.
Camat Padang Apresiasi Prestasi LAM
Camat Padang Belakang, Abdul Hanafi pun menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan LAM Kecamatan Padang Belakang meraih juara pertama empat kategori lomba di Sembang Budaya.
Menurutnya, prestasi tersebut menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat Balik Padang sekaligus menunjukkan bahwa kekayaan kesenian dan tradisi daerah masih terjaga dengan baik.
Ia berharap prestasi tersebut tidak berhenti pada memenangkan persaingan saja, namun juga menjadi penyemangat masyarakat untuk terus menjaga adat istiadatnya dan mewariskannya kepada generasi muda.
Pelestarian budaya, menurutnya, memerlukan dukungan bersama, baik dari lembaga adat, pemerintah, dan masyarakat. Dengan begitu, tradisi Melayu bisa terus berkembang tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas masyarakat setempat.
Kesenian Melayu Sebagai Perekat Keberagaman
Ketua LAM Kepri Kota Batam, HE H. Raja Muhammad Amin sebelumnya menegaskan, kesenian dan tradisi Melayu bisa menjadi jembatan mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Batam.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus membangun komunikasi dan menjaga hubungan baik antar lembaga adat, organisasi masyarakat, dan berbagai asosiasi.
“Batam bukan sekedar desaku atau desa kita, tapi Batam adalah desa kita bersama,” ujarnya.
Raja Amin meyakini keberagaman harus dilihat sebagai kekuatan untuk membangun masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera. Oleh karena itu, semangat persaudaraan dan saling menghormati perlu terus dipupuk.
Dalam kegiatan ini masyarakat juga diperkenalkan dengan berbagai tradisi Melayu, termasuk prosesi adat tepung terigu. Sejumlah perlombaan seperti kompang, tari persembahan, tari 60-an, dan pembacaan doa juga menjadi sarana memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata berharap kegiatan Cultural Chat dapat terus dilakukan sebagai ruang pertemuan lintas budaya sekaligus sarana penguatan identitas lokal.
Ia menilai keterlibatan LAM dari enam kecamatan menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberlangsungan tradisi Melayu di tengah perkembangan saat ini.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, KH Lukman Rifai, Camat Sekupang dan Lubuk Baja, Sekretaris Camat Lubuk Baja, perwakilan Kementerian Agama Kota Batam, serta sejumlah tokoh adat dan masyarakat.
Perwakilan organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat antara lain Perpat, Gagak Hitam, LMB, serta berbagai asosiasi di Kota Batam juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Keberhasilan LAM Kabupaten Padang Belakang meraih juara pertama empat kategori lomba menjadi salah satu highlight Sembang Budaya 2026. Pencapaian ini sekaligus menegaskan bahwa melestarikan seni dan tradisi tidak hanya sekedar melestarikan warisan masa lalu, namun juga menjaga jati diri dan mempererat persaudaraan masyarakat Melayu di tengah keberagaman Batam.
Reporter : M. Yusuf Suhaili Editor : Zaki
Dilarang mengambil dan/atau mempublikasikan ulang sebagian atau seluruh artikel di atas untuk tujuan komersial tanpa izin redaksi.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency





Foto: Dok. UMJ 
Foto: Dok. UMJ