BANDASAPULUAH.COM –
Klikwarta.com, Daerah semarang – Bahasa ibu akan tetap hidup jika generasi muda terus menggunakannya, bukan hanya sekedar mengenalnya sebagai warisan budaya. Oleh karena itu, menumbuhkan kecintaan anak terhadap bahasa daerah merupakan bagian penting dalam pendidikan. Melalui Festival Menembak Lidah Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak anak-anak untuk merawat bahasa Jawanya melalui kegiatan yang dekat dengan dunianya, yaitu menulis, bercerita, puisi, menyanyi, bahkan komedi.
Sebanyak 560 peserta dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang terdiri dari 490 siswa SD dan SMP serta 70 orang pendamping mengikuti festival yang digelar Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah pada 9–11 Oktober 2026. Para siswa tersebut merupakan juara pertama FTBI tingkat kabupaten/kota yang melanjutkan kompetisi di tingkat provinsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan pelestarian bahasa daerah tidak hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah. Kebiasaan menggunakan bahasa Jawa perlu ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga.
“Tidak cukup bahasa Jawa menjadi muatan lokal dalam kurikulum di sekolah kita, namun membiasakan mereka berbahasa Jawa di rumah, di masyarakat, atau di berbagai forum adalah bagian penting agar bahasa daerah tersebut bisa kita lestarikan,” kata Mendiknas.
Menurut Menteri Mu’ti, pengalaman pribadi juga bisa menjadi pengingat akan pentingnya mewariskan bahasa kepada anak. Dia mengatakan bahwa dia sudah lama tidak menggunakannya. Ketika ia menyadari bahwa anak-anaknya juga belum terbiasa berbahasa Jawa, ia mulai mengajarkannya kembali. Hal ini menunjukkan bahwa pewarisan bahasa memerlukan peran serta orang tua, tidak hanya sekolah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyoroti nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa Jawa. Dijelaskannya, bahasa daerah tidak hanya mengajarkan cara berbicara, tetapi juga mengenalkan sopan santun dalam berinteraksi.
“Bahasa Jawa tidak hanya mengajarkan kita berbicara. Di dalamnya ada _unggah-ungguh_, ada akhlaknya,” kata Taj Yasin.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebiasaan berbahasa Jawa di tengah perkembangan zaman dan derasnya pengaruh media. Keberagaman dialek di Jawa Tengah, mulai dari daerah Pantura hingga daerah yang menggunakan dialek _Ngapak_, merupakan bagian dari kekayaan bahasa yang perlu dijaga.
Kepala Badan Pembinaan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin mengatakan bahasa daerah memiliki kedudukan penting dalam menjaga jati diri bangsa dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.
“Bahasa daerah tentunya bukan sekedar alat komunikasi, tetapi sebagai media nilai-nilai luhur, jati diri, dan jati diri bangsa,” ujarnya.
Pesan tersebut diwujudkan melalui tujuh lomba FTBI, yaitu menulis dan membaca aksara jawa, membaca _geguritan_, menulis _cerkak_, bercerita, berpidato atau _sesorah_, _nembang macapat_, dan komedi tunggal atau _ndhagel ijen_. Melalui kegiatan ini, siswa mempunyai ruang untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan sastra serta mengekspresikan kreativitasnya.

FTBI merupakan puncak dari program perlindungan atau revitalisasi bahasa daerah yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2021. Program ini meliputi pelatihan guru bahasa Jawa, pemberian pembelajaran di 35 kabupaten/kota, serta penyelenggaraan festival secara bertahap hingga tingkat provinsi.
Upaya konservasi tersebut juga membuahkan hasil yang menggembirakan. Pada tahun 2024, Pusat Bahasa Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Jepara mencatatkan rekor MURI dengan penulisan luhur pitutur menggunakan aksara Jawa pada 3.386 lembar daun lontar. Pada tahun 2025, bersama Pemerintah Kota Surakarta, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah kembali mencatatkan rekor MURI dengan penulisan geguritan secara serentak oleh 1.120 siswa SD dan SMP se-Jawa Tengah.
Penyelenggaraan FTBI 2026 didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Semarang, Universitas Ngudi Waluyo, pemerintah kabupaten/kota, guru, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Semangat festival ini sejalan dengan pesan Badan Bahasa, “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.” Penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dapat berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya.
(Kontributor: Arif)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






