Siswa SKB Purwakarta Paket C Belajar Sosiologi dan Matematika di Gunung Hejo

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Advertisement . Scroll to see content

i

Advertisement . Scroll to see content

BANDASAPULUAH.COM –

Dengan pendekatan ini, Sosiologi tidak berhenti sebagai teori di dalam buku saja, namun digunakan untuk membaca fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar siswa.

Mereka melakukan perhitungan terkait langsung dengan kegiatan penghijauan, mulai dari menentukan jarak tanam, memperkirakan jumlah benih berdasarkan luas lahan, hingga menghitung kebutuhan air tanaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jarak tanam 3 x 3 meter misalnya, merupakan bagian dari pembelajaran memahami penerapan konsep dan perhitungan luas pada kondisi nyata.

Matematika yang biasanya disajikan melalui angka dan rumus di dalam kelas, telah menjadi alat untuk membantu siswa memahami kebutuhan dan mengambil keputusan di lapangan.

Setelah berdiskusi dan melakukan perhitungan, siswa mempraktekkan langsung proses penanaman.

Mereka belajar mengenal jenis tanaman, memilih bibit, menyiapkan lubang tanam, mengaplikasikan pupuk dasar, memasang bibit, menutup tanah, dan menyiram. Mereka juga diperkenalkan dengan tanaman tahunan dan Multi Purpose Tree Species (MPTS) yang memiliki manfaat dan manfaat ekologis bagi masyarakat.

Baca Juga :  Dinilai Mengancam Kebebasan Pers untuk Liputan Bencana, AJI Kecam Pernyataan Sekretaris Kabinet dan KSAD: Kembali ke Otoritarianisme!

Bagi Maman, proses ini penting karena pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mengetahui, namun berlanjut pada kemampuan berbuat dan peduli.

“Karakter, Angka, dan Akar” juga tidak dirancang sebagai kegiatan yang selesai dalam satu kali penanaman.

Maman mengatakan pembelajaran luar kelas seperti ini bertujuan menjadi agenda berkelanjutan dengan tema, lokasi, dan objek pembelajaran yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan siswa.

Kegiatan ini bukan hanya untuk hari ini saja dan bukan merupakan kegiatan yang selesai setelah penanaman dilakukan. Mereka ingin agenda seperti ini terus berlanjut.

“Tanaman yang ditanam hari ini bisa menjadi objek pembelajaran selanjutnya, mulai dari mengukur pertumbuhan, memantau pemeliharaan, hingga melihat interaksi masyarakat dengan lingkungan,” ujarnya.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran TDBA (Act, Listen, Read, Experience) di Kabupaten Purwakarta.

Siswa menjalani proses belajar secara utuh: mendengar penjelasan, membaca situasi lingkungan, melakukan perhitungan, bertindak melalui budidaya, dan merasakan langsung proses belajar di alam.

Baca Juga :  Tanggapan Greenpeace atas pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF

Pendekatan ini juga memberi ruang penguatan karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Cageur tercermin melalui aktivitas di alam; Bageur melalui kepedulian terhadap lingkungan; Benar melalui tanggung jawab; Cerdas melalui kemampuan memahami dan memecahkan masalah; sedangkan Penyanyi melalui keterampilan menerapkan ilmu.

Maman berpendapat bahwa pendidikan kesetaraan perlu memberikan bekal yang lebih luas dari sekedar prestasi akademik.

“Pendidikan kesetaraan harus mampu memberikan bekal hidup. Pembelajaran harus dekat dengan realitas peserta didik, membangun karakter, serta memberikan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Pembelajaran di Gunung Hejo juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang mengingatkan manusia untuk tidak merusak bumi dan mendorong manusia untuk memberikan manfaat bagi kehidupan.

Bagi siswa SKB Purwakarta Paket C, pengalaman ini lebih dari sekedar kegiatan sehari-hari.

Baca Juga :  Bolsonaro dari Brasil ditangkap beberapa hari sebelum dimulainya hukuman penjara 27 tahun | Berita Jair Bolsonaro

Dengan pakaian bersimbah keringat dan kotoran, mereka membawa kembali pengalaman bahwa pembelajaran tidak selalu harus dilakukan di depan papan tulis.

Di Gunung Hejo, mereka belajar bahwa Sosiologi membantu membaca kehidupan, Matematika membantu memahami realitas secara terukur, dan lingkungan memberikan ruang untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.

Skrip membantu membaca kehidupan. Angka membantu memahami kenyataan. Dan akar mengajarkan bahwa masa depan harus ditanam dan dirawat saat ini.

Dari Gunung Hejo, pendidikan kesetaraan menunjukkan bahwa ruang belajar bisa dimana saja baik di kelas, di masyarakat, maupun di alam terbuka asalkan ilmu mampu tumbuh menjadi pengalaman, karakter, keterampilan dan tindakan nyata.

Redaktur: Iwan Setiawan

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Liang Wenfeng, Jenius Matematika Jadi Bos AI Tiongkok Senilai Rp 715 T
Apakah mahasiswa pendidikan yang mengejar gelar master di luar negeri harus mengembalikan biaya sekolah?
Bangga Membatik, Melestarikan Warisan Budaya Indonesia – Panduan Acara
Menjelajahi Komplek Candi Penataran Blitar, peninggalan sejarah lintas kerajaan
Peserta TKA Menjalani Latihan Bersih Sebelum Ujian Utama
PB Porprov
Ketua KPU Banggai Apresiasi DPC Gerindra yang Konsisten Memberikan Edukasi Politik kepada Masyarakat
Bupati Yohanis Manibuy Tegaskan Yakati Tanah Sejarah Awal Kitab Suci di Teluk Bintuni – Garda Papua

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Liang Wenfeng, Jenius Matematika Jadi Bos AI Tiongkok Senilai Rp 715 T

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Apakah mahasiswa pendidikan yang mengejar gelar master di luar negeri harus mengembalikan biaya sekolah?

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:30 WIB

Bangga Membatik, Melestarikan Warisan Budaya Indonesia – Panduan Acara

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:05 WIB

Siswa SKB Purwakarta Paket C Belajar Sosiologi dan Matematika di Gunung Hejo

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Menjelajahi Komplek Candi Penataran Blitar, peninggalan sejarah lintas kerajaan

Berita Terbaru