BANDASAPULUAH.COM –
BLITAR – Candi Penataran di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mengandung jejak sejarah yang melampaui satu masa pemerintahan. Kompleks candi terbesar di Jawa Timur ini dibangun secara bertahap selama lebih dari satu abad, dalam beberapa periode politik, dengan akar keramat yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Kadiri.
Ismail Lutfi, arkeolog, epigrafer, dan dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) menjelaskan kepada TIMES Indonesia pada 6 Oktober 2026, bangunan-bangunan yang terlihat saat ini merupakan bagian dari proses pembangunan yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kompleks tersebut terdiri dari candi induk, candi kecil seperti Candi Naga dan Candi Angka Tahun, serta sejumlah bangunan dan struktur lainnya, antara lain Balai Teras, Petirtaan, gapura, dan sepasang arca Dwarapala.
Rentang waktu pembangunan Candi Penataran hampir satu abad
Jejak pembangunan Candi Penataran dapat ditelusuri melalui angka tahun yang terdapat pada sejumlah bagian kompleks. Angka tahun tertua yang tercatat pada dorpel atau pintu, yaitu 1240 Saka atau 1318 Masehi. Tanggal tersebut adalah beberapa tahun setelah Raden Wijaya naik takhta sekitar tahun 1215 Saka.
Sedangkan angka tahun termuda yang terdapat pada plakat belakang kompleks yaitu 1337 Saka atau 1415 Masehi. Rentang waktu kedua tanggal tersebut hampir satu abad.
Meski demikian, Lutfi mengingatkan, angka tahun belum tentu menunjukkan keseluruhan masa pembangunan suatu bangunan suci.
“Bangunan keramat tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses awal dulu,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pembangunan bangunan suci dapat dilakukan dalam beberapa tahap. Oleh karena itu, jangka waktu keberadaan dan perkembangan bangunan tersebut bisa lebih lama dari rentang waktu yang ditunjukkan oleh angka tahun ditemukannya.
“Bangunan itu mungkin masih menjalani proses lebih lanjut… umurnya akan lebih lama,” ujarnya.
Prasasti Palah dan Akar Kesucian Sejak Zaman Kadiri
Jejak sejarah Candi Penataran tidak hanya terdapat pada bangunan fisiknya saja. Di lokasi yang sama, terdapat Prasasti Palah bertanggal 1119 Saka yang berasal dari abad ke-12 M pada masa pemerintahan Raja Kertajaya dari Kerajaan Kadiri.
Lutfi menjelaskan, prasasti tersebut ditemukan di lokasi kompleks candi dan merupakan petunjuk penting dalam menelusuri sejarah tempat tersebut. Ia juga membahas hubungan prasasti dan bangunan candi dalam tesisnya.
“Karena prasasti itu di situ“Dia ditemukan sudah lama di sana,” kata Lutfi.
Prasasti Palah menyebutkan sosok yang dipuja dengan nama Bhatara Palah. Raja menugaskan Catur Lurah, empat pejabat, untuk mengagungkan sosok tersebut setiap hari.
Nama Palah juga muncul di sumber sejarah lainnya. Kakawin Deśawarṇana atau Nagarakretagama mencatat perjalanan Raja Hayam Wuruk ke wilayah selatan hingga Palah. Sementara itu, naskah Bujangga Manikditulis setelah masa Majapahit, menceritakan tentang tokoh utama yang tinggal di sana selama kurang lebih satu tahun.
“Dia belajar agama di Palah,” kata Lutfi merujuk pada cerita di naskah Bujangga Manik.
Menurut Lutfi, berbagai sumber tersebut menunjukkan bahwa Palah telah dikenal sebagai tempat ibadah setidaknya sejak masa Kadiri dan terus memiliki arti penting pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit.
Artinya, nama Palah sebagai tokoh yang diagungkan di tempat itu setidaknya ada pada masa Kadiri, kemudian berlanjut hingga masa Hayam Wuruk berkuasa, ujarnya.
Nama Palah bertahan hingga saat ini. Candi Penataran dikenal juga dengan nama Candi Palah.
Pura Penataran sebagai Lembaga Pemasyarakatan Dharma
Di Kakawin Deśawarṇanabangunan suci terbagi menjadi dua kategori yaitu Dharma Haji dan Dharma Lpas. Dharma Haji berkaitan dengan keluarga kerajaan, sedangkan Palah termasuk dalam kategori Dharma Lpas.
Penggolongan ini menunjukkan kedudukan Palah sebagai bangunan suci yang bukan merupakan proyek langsung kerajaan. Namun status tersebut tidak mengurangi arti pentingnya bagi para penguasa pada masa Majapahit.
Lutfi menjelaskan, Hayam Wuruk terus mengunjungi Palah, bahkan menginap selama beberapa hari.
“Padahal dia Penjara Dharma, bahkan Raja Majapahit, raja terhebat saat itu, Hayam Wuruk, dia perlu datang ke sana,” ujarnya.
Meski demikian, Lutfi mengingatkan kunjungan Hayam Wuruk jangan langsung dimaknai sebagai tindakan politik atau kegiatan keagamaan semata.
“Apakah itu politik atau agama, kami tidak bisa mengklaim secara langsung,” ujarnya.
Kombinasi Batu Bata dan Andesit pada Struktur Candi
Selain prasasti dan manuskrip kuno, sejarah pembangunan Candi Penataran juga dapat ditelusuri melalui struktur bangunannya. Lutfi menekankan pentingnya pengamatan langsung terhadap bentuk dan bahan candi untuk memahami teknik pembangunannya.
“Kita tidak bisa mengandalkan informasi yang beredar di internet. Tapi kita melihatnya langsung di sana,” ujarnya.
Candi Induk Penataran mempunyai lapisan luar terbuat dari batu andesit dengan bagian dalam terbuat dari batu bata. Sedangkan Candi Naga dan Candi Angka Tahun semuanya menggunakan batu andesit dan ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan candi induk.
Menurut Lutfi, penggunaan batu bata dan andesit secara bersamaan bukanlah teknik yang hanya ditemukan di Penataran. Perpaduan kedua bahan ini juga digunakan dalam pembangunan candi di berbagai daerah di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Mekanisme pembangunan bangunan candi di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, merupakan gabungan dari kedua bahan tersebut, ujarnya.
Penggunaan batu bata juga memiliki dimensi keagamaan. Lutfi menghubungkannya dengan konsep tersebut pancamahabhutayaitu lima unsur utama pembentuk alam semesta.
Dari segi teknis, penggunaan batu bata pada struktur tertentu juga dapat dikaitkan dengan karakter konstruksi bangunan. Lutfi mencontohkan Candi Rimbi di Jombang yang menggunakan pondasi batu bata.
“Dengan pondasi arsitektural berupa pondasi batu bata akan fleksibel,” ujarnya.
Menurut dia, karakter tersebut membuat struktur bangunan tidak mudah pecah atau retak saat terjadi gempa.
Jejak angka tahun, prasasti, naskah kuno, dan teknik pembangunannya menunjukkan bahwa sejarah Candi Penataran tidak lepas dari proses panjang yang melintasi sejumlah masa kerajaan. Kompleks ini tidak hanya menyimpan bangunan-bangunan masa lalu, tetapi juga mencatat kelangsungan tradisi peribadahan dan pembangunan bangunan suci di Jawa.
Dengarkan berita terhangat dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp Anda! Klik 👉
Saluran TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp anda sudah terinstall.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






