BANDASAPULUAH.COM –
gondokusuman – Dinding tersebut menjadi ruang bagi pelajar Kota Yogyakarta untuk bercerita tentang budaya, lingkungan, dan wajah kota yang diimpikannya. Melalui guratan warna dan kreativitas, pesan menjaga kebersihan sekaligus menjaga jati diri Yogyakarta dituangkan dalam Lomba Mural Pelajar dalam rangka memeriahkan HUT Kota Yogyakarta ke-270.
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori meninjau langsung pelaksanaan lomba mural siswa di depan SMP Negeri 8 Yogyakarta, Sabtu (10/10). Kompetisi ini diikuti oleh 74 tim dari tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA se-Kota Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kenapa lomba mural? Ya, untuk melatih anak-anak mengekspresikan kemampuan seninya sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang baik, bagaimana kota Yogyakarta bisa lebih baik ke depan. Budaya yang kuat, kota Jogja yang bersih, kota yang berbudaya, dan sebagainya,” kata Budi.
Menurutnya, lomba mural tidak hanya sekedar ajang adu kreativitas, namun juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan aksi nyata dalam menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat. Kegiatan ini juga sebagai sarana pendidikan karakter melalui karya seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Ini aksi nyata mahasiswa. Sekaligus P5 adalah pembinaan moral, dan ada pesan di setiap gambarnya,” ujarnya.
Budi berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta mendorong mereka untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
Harapannya, anak-anak sekolah di Kota Yogyakarta bersih, sehat. Itu yang terpenting. Berprestasi, tegasnya.
Lomba mural pelajar yang diselenggarakan Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga ini bertemakan “Budaya Otentik, Beton Bersih”. Tema ini mengajak generasi muda untuk menerjemahkan ciri khas Yogyakarta melalui karya visual yang memadukan kekayaan budaya dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Kreativitas tersebut terlihat dari karya Antonius Andro Putra, peserta dari SMP Yohanes Bosco, Yogyakarta. Ia berkisah tentang seorang dalang yang bercerita tentang Yogyakarta melalui tokoh wayang dan simbol budaya.
Temanya dalang, bercerita tentang Jogja. Di dalamnya ada wayang, ceritanya di pegunungan, jelas Antonius.
Dijelaskannya, dalam karyanya ada seseorang yang membersihkan kawasan Pantai Parangtritis sambil menerbangkan layang-layang. Karya ini juga menampilkan aktivitas bermain gamelan dan tokoh Hanoman yang membersihkan Jalan Malioboro dan area depan kantor.
Melalui perpaduan unsur tradisional dan pesan kebersihan, Antonius ingin menggambarkan kekayaan budaya Yogyakarta sekaligus mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Sedangkan Zulfa Konita dari SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta mengangkat tema kebersihan lingkungan melalui ilustrasi isi kepala seseorang yang menggambarkan berbagai hal tentang Yogyakarta.
“Kita gambarkan wajah seseorang dengan menunjukkan apa yang ada di pikirannya, kita gambar tugu, sungai kode, lalu sampah dan beberapa orang berusaha membersihkan sampah tersebut,” ujarnya.
Ide ini merupakan cara Zulfa dalam mengungkapkan pandangannya terhadap kota tempat tinggalnya, sekaligus menyampaikan pesan bahwa kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dapat dimulai dari pemikiran dan kesadaran setiap individu.
Beragam karya mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa seni mural tidak hanya sebagai media berekspresi, namun juga sebagai sarana penyampaian pesan kepada masyarakat. Melalui kreativitas generasi muda diharapkan semangat menjaga budaya dan kebersihan Kota Yogyakarta dapat tumbuh menjadi kepedulian nyata dalam kehidupan sehari-hari. (Chi)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






