BANDASAPULUAH.COM –
Sebuah cermin untuk melihat bahwa bangsa ini masih membutuhkan lebih dari sekedar perubahan wajah. Kita membutuhkan kepemimpinan yang kompeten, kekuasaan yang berintegritas, dan negara yang dekat dengan rakyat.
Oleh : M.Isa Ansori
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
KEKUATAN: Perombakan Kabinet sering kali dibaca sebagai persoalan pergantian orang. Siapa yang masuk, siapa yang keluar, siapa yang naik, siapa yang bergeser. Politik kemudian sibuk membaca peta kekuasaan dari wajah-wajah baru yang menghuni ruang pemerintahan.
Tetapi perombakan 1 Oktober 2026 tidak boleh berhenti pada pertanyaan itu saja.
Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah menteri, wakil menteri, dan pejabat negara. Beberapa jabatan strategis mengalami pergantian, antara lain sejumlah menteri koordinator, Menteri Luar Negeri, Kepala Staf Presiden, dan Kapolri.
Bagi saya, peristiwa ini menarik dibaca sebagai pertanda pemerintahan Prabowo sedang memasuki babak baru. Setelah hampir dua tahun, alasan transisi semakin tipis. Prabowo perlahan-lahan membentuk wajah pemerintahannya sendiri.
Namun di sinilah pertanyaan sebenarnya dimulai: Apakah wajah baru otomatis berarti karakter baru?
Pergantian pejabat baru mempunyai arti bila dibarengi dengan perubahan cara kerja, cara mengambil keputusan, dan terutama cara penggunaan kekuasaan.
Di titik inilah saya melihat Anies Baswedan sebagai referensi penting untuk membaca terbitan ini. Bukan untuk mengadu Anies dengan Prabowo, apalagi menempatkannya dalam pertarungan elektoral, namun karena gagasan Anies tentang integritas, kompetensi, dan kepercayaan publik relevan untuk dijadikan cermin bagi siapa pun yang saat ini memegang kekuasaan.
Dalam forum di IPB pada Februari 2026, kata Anies memercayai atau kepercayaan sebagai “mata uang masa depan” yang berakar pada integritas. Ia menegaskan, ketika integritas tidak dibangun maka kepercayaan masyarakat akan rapuh.
Idenya sederhana, tetapi dalam konteks perombakan itu menjadi sangat penting. Negara membutuhkan pejabat yang kompeten dan berintegritas: kompetensi itulah yang menjamin terselesaikannya pekerjaan, sedangkan integritas menentukan arah pemanfaatannya.
Keduanya juga harus dibarengi dengan kedekatan dengan masyarakat agar pemerintahan tidak hanya efektif di atas kertas, namun dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, perombakan Hal ini tidak boleh sekedar menjadi momentum untuk mengubah wajah pemerintahan, namun juga menjadi peluang untuk mengubah karakter kekuasaan.
Prabowo kini mempunyai ruang lebih besar untuk menunjukkan bahwa pemerintahannya bukan sekedar kelanjutan dari pemerintahan sebelumnya. Kontinuitas tentu saja penting. Namun suatu pemerintahan pada akhirnya harus memiliki karakter, ukuran keberhasilan, dan juga akuntabilitas politiknya sendiri.
Dua tahun pertama bisa menjadi masa konsolidasi. Namun setelah itu orang-orang akan mulai bertanya dengan lebih sederhana: Apa yang berubah dalam hidup kita?
Apakah pelayanan publik semakin mudah? Apakah hukum semakin dipercaya? Apakah pendidikan menjadi lebih manusiawi? Apakah peluang kerja terbuka? Apakah korupsi semakin sulit dilakukan? Apakah masyarakat miskin semakin mempunyai jalan keluar dari kemiskinan?
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan daftar nama pejabat baru. Hal itu harus dijawab dengan kerja nyata.
Di sinilah gagasan Anies memercayai hal ini kembali menemukan relevansinya. Kepercayaan masyarakat tidak lahir dari pidato, namun dari pengalaman masyarakat berhadapan dengan negara.
Ketika layanan diberikan dengan baik, kepercayaan tumbuh. Ketika pejabat berani mengatakan kebenaran meski tidak populer, kepercayaan akan tumbuh. Ketika pemerintah mengakui kesalahan dan memperbaikinya, kepercayaan akan tumbuh.
Sebaliknya, ketika kepentingan pribadi bercampur dengan kepentingan negara, ketika hukum kehilangan rasa keadilannya, atau ketika kritik dianggap sebagai ancaman, maka kepercayaan akan terkikis.
Oleh karena itu, integritas bukan sekedar kualitas moral seorang pejabat. Integritas adalah infrastruktur demokrasi.
Tanpa integritas, lembaga-lembaga negara mungkin akan tetap berdiri, namun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga tersebut perlahan-lahan akan runtuh.
Anies dalam konteks ini menarik bukan hanya karena pernah terlibat dalam kontestasi politik nasional, namun karena ia bisa diposisikan sebagai salah satu suara di luar pemerintahan yang mengusung gagasan tentang hubungan kepemimpinan, integritas, dan kepercayaan masyarakat.
Demokrasi yang sehat membutuhkan suara dari dalam dan luar kekuasaan. Bukan berarti semua orang harus setuju, tapi agar kekuasaan selalu punya ruang untuk dikritik, diuji, dan dikoreksi.
Indonesia tidak boleh terjebak dalam politik yang hanya sibuk mencari siapa yang akan berkuasa selanjutnya, dan lupa menanyakan bagaimana kekuasaan digunakan saat ini.
Dalam perspektif nasional, kekuasaan bukanlah sebuah anugerah. Itu adalah amanah rakyat. Dalam perspektif Pancasila, kekuasaan harus kembali pada kemanusiaan, keadilan sosial, dan kepentingan bersama.
Dari sudut pandang agama, kedudukan itu merupakan amanah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan. Jadi perombakan Apa yang dilakukan Presiden Prabowo kali ini patut dibaca sebagai sebuah peluang.
Kesempatan bagi Prabowo untuk menata pemerintahan dengan karakter dan ukuran dirinya sendiri. Kesempatan bagi pejabat baru untuk membuktikan bahwa jabatannya bukan sekadar jabatan, melainkan amanah.
Dan peluang bagi masyarakat sipil untuk terus menjaga ruang publik agar demokrasi tidak kehilangan perbincangan mengenai nilai-nilai.
Di sinilah Anies bisa menjadi cermin, bukan tujuan.
Sebuah cermin untuk melihat bahwa bangsa ini masih membutuhkan lebih dari sekedar perubahan wajah. Kita membutuhkan kepemimpinan yang kompeten, kekuasaan yang berintegritas, dan negara yang dekat dengan rakyat.
Karena mengubah orang hanya mengubah siapa yang duduk di kursi. Integritas itulah yang menentukan kegunaan kursi tersebut.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menduduki Istana. Hal ini bisa ditentukan dari karakter pengguna kekuasaan, kualitas institusi yang dibangunnya, dan keberanian masyarakat untuk terus mengingatkannya.
Perombakan dapat membentuk wajah pemerintahan. Namun bangsa ini masih menunggu perubahan sifat kekuasaan.
Dan barangkali, di situlah Anies menjadi cermin: bukan untuk melihat siapa yang harus memerintah, tapi untuk mengingatkan kita semua bahwa kekuasaan, siapapun yang memegangnya, hanya akan mendapat kepercayaan bila kompetensinya dibarengi dengan integritas, dan keduanya hadir untuk kemaslahatan rakyat.
*) M.Isa Ansori, Kolumnis dan Dosen, Wakil Ketua ICMI Jawa Timur
Pendapat yang dikemukakan dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






