Mengapa Indonesia begitu agresif dalam mencapai target kelapa sawit?

Selasa, 23 Desember 2025 - 14:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengapa Indonesia begitu agresif dalam mencapai target kelapa sawit?

i

Mengapa Indonesia begitu agresif dalam mencapai target kelapa sawit?

Gelombang lumpur besar melanda Pulau Sumatera antara 25-29 November 2025. Badai banjir tersebut disertai jutaan meter kubik kayu berjatuhan dari pegunungan dan menghantam pemukiman serta perkampungan masyarakat di bawahnya. Banjir dan banyaknya kayu yang datang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh manusia. Bahkan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem menyebut peristiwa tragis ini sebagai tsunami kedua.

Di Aceh, badai lumpur dan kayu telah menenggelamkan ratusan desa di 18 kabupaten/kota terdampak. Masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Langsa, Aceh Utara hingga Bener Meriah, Gayo Lues dan sebagian Pidie Jaya, tepatnya di Kabupaten Meureudu dan Meurah Dua, mengalami kehancuran yang sangat parah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga saat ini, kerusakan tersebut secara kuantitatif ditunjukkan oleh data statistik yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun kehancuran kualitatif tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Korban berteriak dan mengibarkan bendera putih sebagai isyarat meminta bantuan Negara secara cepat, tepat dan bermartabat.

Alhasil, bencana yang terjadi akhir November lalu meninggalkan luka mendalam dan menimbulkan trauma yang sulit dilupakan. Saat itu, logika dan perasaan masyarakat Aceh seolah kembali ke masa ketika mereka menghadapi masa perang, konflik bersenjata, atau luka yang tiada tara. Sangat sulit!

Baca Juga :  Putra Minang Kembali Duduki Jabatan Penting di Pemerintahan Prabowo, MDN-G Sampaikan Apresiasi

Pembaca! Meski penderitaan belum usai, luka belum kering dan bantuan pemulihan masih diperlukan, jauh di Jakarta, Presiden RI Prabowo justru mengeluarkan pernyataan mengejutkan yang menyatakan harapannya agar Tanah Papua juga ditanami kelapa sawit, sehingga bisa swasembada energi dengan memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dari kelapa sawit. Padahal banjir bandang besar di Aceh-Sumatera diduga erat kaitannya dengan deforestasi kelapa sawit.

Pertanyaannya“Mengapa Indonesia begitu agresif dalam mencapai target kelapa sawit?”

Pembaca! Indonesia bukan hanya negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Ia menjadikan kelapa sawit sebagai poros utama pembangunan ekonomi, energi, bahkan politik. Target demi target kelapa sawit ditetapkan secara agresif, seolah-olah perluasan perkebunan adalah satu-satunya jalan menuju kesejahteraan. Pertanyaannya adalah, mengapa negara-negara begitu bertekad untuk mengejar kelapa sawit, meskipun hutan terus menyusut dan bencana ekologi terus terjadi?

Jawaban paling sederhana adalah ekonomi. Kelapa sawit menyumbang devisa dalam jumlah besar, menciptakan lapangan kerja dan menopang neraca perdagangan. Dalam bahasa negaranya, kelapa sawit adalah “penyelamat”. Namun ketika suatu komoditas diberi peran yang terlalu dominan, maka komoditas tersebut akan berubah dari sekedar alat menjadi penentu arah kebijakan. Kelapa sawit bukan lagi sekadar tanaman pangan, melainkan sebuah ideologi pembangunan.

Baca Juga :  Update Skor Langsung India vs Afrika Selatan, T20I ke-5: Quinton De Kock Dorong India Dengan Langkah Mundur; SA Mencetak 50 Dalam 21 Bola

Agresivitas ini juga erat kaitannya dengan agenda kedaulatan energi. Program biodiesel—B35 hingga B40—menjadikan minyak sawit sebagai tulang punggung transisi energi. Negara ini ingin melepaskan diri dari ketergantungan pada impor solar dan fluktuasi harga minyak global. Kelapa sawit kemudian dipoles menjadi energi yang ramah lingkungan, ramah lingkungan, dan nasionalis. Namun narasi tersebut seringkali mengabaikan fakta bahwa bahan baku biodiesel berasal dari pembukaan lahan secara besar-besaran yang justru mempercepat deforestasi dan krisis iklim.

Di balik alasan ekonomi dan energi, terdapat faktor yang lebih tenang namun menentukan: kepentingan politik dan oligarki. Industri kelapa sawit dikendalikan oleh segelintir perusahaan besar yang memiliki ikatan kuat dengan pusat kekuasaan. Dalam banyak kasus, kebijakan negara tampaknya lebih siap melindungi kepentingan industri dibandingkan hak-hak masyarakat adat, petani kecil, atau ekosistem. Konflik agraria, kriminalisasi warga negara, dan ketimpangan penguasaan tanah menjadi harga yang dinilai adil.

Tekanan internasional, terutama dari Uni Eropa, justru memperkeras sikap negara tersebut. Alih-alih melakukan koreksi serius terhadap tata kelola kelapa sawit, pemerintah justru sering membingkai kritik lingkungan hidup sebagai serangan terhadap kedaulatan nasional. Minyak sawit digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap Barat. Faktanya, masyarakatlah yang pertama kali merasakan dampak dari kebijakan ekspansif ini: banjir, tanah longsor, kekeringan, dan hilangnya ruang hidup.

Baca Juga :  Pengemudi Kazakh menabrak pohon Natal yang terekam dalam video CCTV

Agresifnya kelapa sawit juga mencerminkan sifat pembangunan Indonesia yang masih sangat ekstraktif. Hutan dipandang sebagai cadangan ekonomi, bukan sebagai sistem penyangga kehidupan. Selama pertumbuhan ekonomi menjadi satu-satunya tujuan, pembukaan lahan akan selalu mendapat pembenaran. Biaya ekologi tidak pernah benar-benar diperhitungkan dalam neraca negara. Banjir dianggap sebagai bencana alam, bukan konsekuensi kebijakan.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa Indonesia secara agresif mengejar kelapa sawit, namun berapa lama model ini akan dipertahankan. Ketika keuntungan terkonsentrasi pada beberapa pihak, sedangkan kerugian ditanggung bersama oleh rakyat dan generasi mendatang, maka agresivitas layak untuk dituntut. Negara harus berani mengkaji ulang arah pembangunan, menempatkan keberlanjutan dan keadilan ekologis sebagai landasan, bukan sekedar slogan.

Kelapa sawit bukanlah musuh, namun cara negara memperlakukannya bisa menjadi ancaman. Jika hutan terus dikorbankan untuk target produksi, maka yang sebenarnya dikejar bukanlah kemakmuran, melainkan ilusi pertumbuhan. Dan seperti semua ilusi, hal itu akan runtuh—meninggalkan banjir, lumpur, dan pertanyaan-pertanyaan yang terlambat untuk dijawab. ()

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. bandasapuluah.com tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini.

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Calvin Verdonk berpeluang mengukir sejarah sebagai WNI pertama di Liga Champions
Komnas HAM Dalami Alasan Komdigi Blokir Konten 486 Saat Demo Agustus
Siswa SMAN 1 Taman Ubah Rumus Matematika Menjadi Batik Berbasis AI – monitorday
Tinjauan Lengkap – BMKG: Titik Panas di Sumatera Capai 3.663, di Lampung Ada 471 Titik
Kementerian Agama Rejang Lebong
Kabupaten Pesisir Selatan Tetapkan Status Tanggap Darurat Pasca Dilanda Banjir dan Longsor
Bupati M. Syukur Tegaskan Transparansi Pengelolaan Dana BOSP dan Melepaskan Kepentingan Pribadi
Cetak Sejarah di Kampar, Koperasi Plasma Berkat Lestari Dapatkan Hibah PSR untuk Peremajaan Kelapa Sawit — Sawit Indonesia

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:01 WIB

Calvin Verdonk berpeluang mengukir sejarah sebagai WNI pertama di Liga Champions

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Komnas HAM Dalami Alasan Komdigi Blokir Konten 486 Saat Demo Agustus

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Siswa SMAN 1 Taman Ubah Rumus Matematika Menjadi Batik Berbasis AI – monitorday

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Tinjauan Lengkap – BMKG: Titik Panas di Sumatera Capai 3.663, di Lampung Ada 471 Titik

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:40 WIB

Kementerian Agama Rejang Lebong

Berita Terbaru