Risiko Kekerasan Seksual Mengintai Perempuan di Pengungsi Bencana

Minggu, 14 Desember 2025 - 14:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Risiko Kekerasan Seksual Mengintai Perempuan di Pengungsi Bencana

i

Risiko Kekerasan Seksual Mengintai Perempuan di Pengungsi Bencana

Situasi bencana di sejumlah daerah kembali menyoroti tingginya risiko kekerasan seksual terhadap perempuan di pengungsian. Perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia dianggap sebagai pihak yang paling rentan dalam situasi darurat, sementara risiko non-fisik seperti kekerasan seksual seringkali diabaikan dalam prioritas penanggulangan bencana.

Gulir ke bawah untuk melanjutkan membaca

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN

Akademisi pengamat gender dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Ratna Noviani, mengatakan respons pemerintah dan relawan selama ini masih terfokus pada pemulihan fisik, mulai dari distribusi logistik, evakuasi, hingga perbaikan infrastruktur.

Baca Juga :  Update Bencana Aceh: 441.842 Warga Terdampak

Kekerasan seksual yang terjadi terhadap perempuan saat situasi bencana menjadi bukti nyata bahwa risiko non-fisik masih sangat mudah terabaikan, kata Ratna, dikutip dari keterangan resmi, Minggu 14 Desember 2025.

Menurut Ratna, minimnya perspektif gender dalam kebijakan penanggulangan bencana menjadi tantangan utama dalam melindungi perempuan di pengungsian. Pejabat dan relawan, kata dia, kerap memandang pemenuhan kebutuhan dasar sebagai satu-satunya prioritas, sehingga isu kekerasan seksual tidak dianggap sebagai kebutuhan mendesak. Padahal, dalam situasi darurat, kerentanan justru meningkat.

“Respon bencana harus lebih sensitif gender karena perempuan menghadapi beban ganda, baik akibat struktur sosial yang patriarki maupun kondisi tidak aman di kamp pengungsian,” ujarnya.

Baca Juga :  Bluefire Peduli Batam Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Aceh

Ratna menekankan pentingnya mekanisme tanggap bencana yang sejak awal mencakup analisis gender. Dalam kondisi darurat sekalipun, penanganan pengungsi perlu mempertimbangkan aspek keamanan berbasis gender, seperti penyediaan sanitasi terpisah, penataan ruang tidur yang aman, dan kawasan yang melindungi privasi perempuan.

Selain itu, layanan pelaporan dan bantuan terhadap korban kekerasan seksual perlu dipersiapkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana. Ia menyebutkan sejumlah langkah yang harus menjadi standar, antara lain penempatan petugas perempuan di titik evakuasi, informasi yang memadai, pelatihan relawan tentang kekerasan berbasis gender, dan penguatan kerja sama dengan lembaga layanan korban. “Penguatan mekanisme pelaporan, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas institusi penting untuk menghentikan potensi kekerasan sejak dini,” kata Ratna.

Baca Juga :  Ilmuwan Baru Saja Menemukan Bagaimana Rabies Membajak Sel Manusia

Ia berharap perlindungan perempuan tidak lagi dipandang sebagai elemen tambahan dalam penanggulangan bencana, namun menjadi komponen utama dalam setiap fase tanggap darurat. “Kita membutuhkan sistem yang mengakui kerentanan berbasis gender sehingga keselamatan dan martabat perempuan selalu menjadi prioritas, sehingga kekerasan seksual dalam situasi bencana dapat dicegah dan tidak terus terulang kembali,” ujarnya.

Agensi Digital JetMedia

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. bandasapuluah.com tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini.

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Calvin Verdonk berpeluang mengukir sejarah sebagai WNI pertama di Liga Champions
Komnas HAM Dalami Alasan Komdigi Blokir Konten 486 Saat Demo Agustus
Siswa SMAN 1 Taman Ubah Rumus Matematika Menjadi Batik Berbasis AI – monitorday
Tinjauan Lengkap – BMKG: Titik Panas di Sumatera Capai 3.663, di Lampung Ada 471 Titik
Kementerian Agama Rejang Lebong
Kabupaten Pesisir Selatan Tetapkan Status Tanggap Darurat Pasca Dilanda Banjir dan Longsor
Bupati M. Syukur Tegaskan Transparansi Pengelolaan Dana BOSP dan Melepaskan Kepentingan Pribadi
Cetak Sejarah di Kampar, Koperasi Plasma Berkat Lestari Dapatkan Hibah PSR untuk Peremajaan Kelapa Sawit — Sawit Indonesia

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:01 WIB

Calvin Verdonk berpeluang mengukir sejarah sebagai WNI pertama di Liga Champions

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Komnas HAM Dalami Alasan Komdigi Blokir Konten 486 Saat Demo Agustus

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Siswa SMAN 1 Taman Ubah Rumus Matematika Menjadi Batik Berbasis AI – monitorday

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Tinjauan Lengkap – BMKG: Titik Panas di Sumatera Capai 3.663, di Lampung Ada 471 Titik

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:40 WIB

Kementerian Agama Rejang Lebong

Berita Terbaru