BANDASAPULUAH.COM — Pengajian rutin bulanan DPW Perkumpulan Keluarga Pesisir Selatan (PKPS) Lampung kembali memperlihatkan kuatnya tradisi keagamaan dan persaudaraan warga Pesisir Selatan, Sumatera Barat, di perantauan.
Kegiatan ini mempertemukan alim ulama, akademisi, tokoh adat, pengurus organisasi, serta berbagai generasi dalam satu ikatan silaturahmi.
Pengajian kali ini dihadiri tiga Guru Besar (Profesor) putra Pesisir Selatan, yakni Prof. Dr. Elfahmi, Apt., S.Si., M.Si., Rektor Institut Teknologi Sumatera (ITERA); Prof. Dr. Abdurahman, M.Si., dari Universitas Lampung (Unila); serta Prof. Syafrimen, M.Ed., Ph.D., dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Turut hadir Ustaz Armin Pane dari unsur alim ulama, Dr. Junaidi Johan, S.Pd., M.Pd., dari unsur Dewan Pakar, serta Dr. Jekvi Hendra, M.Si., dari unsur Niniak Mamak.
Kegiatan ini juga dihadiri pengurus DPD PKPS Lampung Tengah yang berasal dari Bandar Jaya. Kehadiran pengurus dari daerah tersebut semakin memperkuat jalinan silaturahmi lintas wilayah dalam keluarga besar PKPS Lampung.
Pengajian berlangsung di kediaman Bapak Adrisman dan Ibu Zuraida, Jalan Sultan Haji, Gang Cempedak, No. 13/39, Sepang Jaya 2, Kelurahan Kota Sepang, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung.
Salah satu hal istimewa dari kegiatan ini adalah keberlanjutan tradisi pengajian rutin yang telah berlangsung selama kurang lebih 58 tahun, sejak masa awal berdirinya IKPS (Ikatan Keluarga Pesisir Selatan), yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah organisasi keluarga Pesisir Selatan di Lampung hingga masa PKPS sekarang.
Tradisi tersebut terus dipelihara oleh para pengurus dan warga dari generasi ke generasi. Meski sempat terhenti pada masa pandemi COVID-19, khususnya periode 2019–2021, pengajian kembali dilanjutkan sebagai bagian penting dari kehidupan keagamaan dan kekeluargaan warga.
Keberlangsungan kegiatan ini menjadi bukti bahwa kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur kepengurusan, tetapi juga oleh tradisi, kepercayaan, dan partisipasi warga yang terus dirawat bersama.
Dalam sambutan perkenalannya, Prof. Dr. Elfahmi menyampaikan rasa haru dan apresiasi saat menyaksikan kekompakan serta antusiasme jamaah yang tetap hadir dalam pengajian rutin bulanan PKPS Lampung.

Ia mengapresiasi konsistensi warga dalam menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Menurutnya, semangat tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam mempertahankan persaudaraan dan memperkuat identitas masyarakat Pesisir Selatan di perantauan.
Kehadiran para jamaah dari berbagai latar belakang, mulai dari kalangan pendidik hingga Guru Besar, alim ulama, tokoh adat, dan generasi muda, menunjukkan bahwa pengajian tetap menjadi ruang pertemuan lintas generasi yang bermakna.
Ketua DPW PKPS Lampung, Mansurdin, S.Pd., M.Pd., bergelar Rajo Bungsu, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah dan tamu undangan yang telah hadir.

Ia secara khusus mengapresiasi kehadiran para guru dari berbagai jenjang pendidikan, Guru Besar, alim ulama, cadiak pandai, ibu-ibu Bundo Kanduang, para sepuh dan pembina, generasi muda, serta pengurus DPD PKPS Lampung Tengah dari Bandar Jaya.
Menurut Mansurdin, pengajian rutin bulanan merupakan salah satu kekuatan utama PKPS Lampung dalam menjaga persaudaraan sekaligus meneruskan nilai-nilai luhur dari generasi terdahulu.
“Pengajian rutin ini kita laksanakan secara bergiliran dari rumah ke rumah. Selain untuk meningkatkan keimanan dan menambah ilmu agama, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi, diskusi program organisasi, serta membangun kepedulian sosial melalui pemberian bantuan atau donasi kepada warga yang berhak menerimanya,” ungkap Mansurdin.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Adrisman dan Ibu Zuraida yang telah menyediakan tempat dan memfasilitasi pelaksanaan pengajian kali ini.
Mansurdin menegaskan bahwa keterlibatan seluruh unsur keluarga besar PKPS, termasuk para sepuh, akademisi, alim ulama, Bundo Kanduang, dan generasi muda, sangat penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi.
Baginya, PKPS Lampung harus terus menjadi wadah yang bukan hanya mempertemukan warga, tetapi juga memperkuat nilai keagamaan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab bersama dalam membangun organisasi yang lebih bermartabat dan berkemajuan.
Dalam tausiah agama, Ustaz Muhamad Alzir menekankan pentingnya penanaman nilai silaturahmi antargenerasi agar warga saling mengenal, memahami, dan menjaga hubungan persaudaraan.
Ia menilai PKPS Lampung sebagai perkumpulan kedaerahan yang solid dan konsisten menyelenggarakan pertemuan setiap bulan. Berdasarkan pengalamannya yang kerap memberikan ceramah di pengajian tersebut, ia melihat tradisi pertemuan rutin sebagai salah satu kekuatan dalam memelihara persatuan warga.
Silaturahmi, menurutnya, bukan hanya tentang bertemu, tetapi juga tentang membangun kepedulian, menjaga hubungan baik, dan memperkuat rasa kekeluargaan di tengah kehidupan masyarakat perantauan.
Pengajian rutin PKPS Lampung merupakan warisan kebersamaan yang telah melintasi perjalanan panjang organisasi, sejak masa IKPS hingga sekarang. Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai keagamaan dan kekeluargaan dapat menjadi fondasi kuat dalam menjaga persatuan masyarakat perantauan.
Kehadiran tiga Guru Besar, alim ulama, Dewan Pakar, Niniak Mamak, serta pengurus PKPS dari Lampung Tengah memperlihatkan bahwa pengajian memiliki makna yang lebih luas daripada kegiatan keagamaan semata.
Melalui kegiatan rutin ini, PKPS Lampung diharapkan terus merawat warisan para pendahulu, memperkuat solidaritas lintas wilayah, serta menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga marwah organisasi.
Semangat saiyo sakato diharapkan terus menjadi pegangan agar keluarga besar Pesisir Selatan di Lampung tetap bersatu, saling mendukung, dan menghadirkan manfaat nyata bagi warga maupun masyarakat luas.








Komentar