BANDASAPULUAH.COM — Semangat menjaga adat dan budaya Minangkabau tetap hidup di tanah rantau. Hal itu terlihat dalam baralek pernikahan Nuraini Agustini dengan Fahrozy Yayang Midi Pratama yang digelar di Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (7/8/2026).
Pernikahan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan mengusung adat Minangkabau.
Keluarga besar dan para perantau asal Punggasan, Kabupaten Pesisir Selatan, turut hadir dalam alek tersebut. Turut hadir Asmil Ilyas, Jhonisa Efendi, Helmi Siran, Yulpardi Ishak,Sahminan, Afrisal Sukardi dan tokoh perantau lainnya
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi keluarga mempelai perempuan, baralek dengan nuansa adat Minang di perantauan bukan sekadar pelaksanaan tradisi pernikahan. Lebih dari itu, alek tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas budaya dan mempererat hubungan sesama perantau.
Nuraini Agustini merupakan putri ketiga pasangan Syafriadi dan Jusmarni. Sementara Fahrozy Yayang Midi Pratama merupakan putra pertama pasangan Sri Wahyudi dan Misdiana.
Syafriadi, ayah Nuraini, merupakan salah seorang perantau asal Punggasan, Pesisir Selatan. Ia mengatakan, meski keluarga berada jauh dari kampung halaman, adat dan budaya Minangkabau tetap berusaha dipertahankan dalam berbagai momentum keluarga.
“Walaupun kami berada di rantau, adat dan budaya Minangkabau tetap kami junjung. Ini bagian dari cara kami mengingat kampung halaman dan menjaga nilai-nilai yang diwariskan orang tua kepada anak-anak,” ujar Syafriadi.
Menurutnya, pernikahan merupakan salah satu momentum penting untuk memperkenalkan dan meneruskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya.
Ia berharap pernikahan Nuraini dan Fahrozy menjadi awal kehidupan baru yang penuh keberkahan serta mampu membangun keluarga yang harmonis.
“Semoga anak kami dan menantu bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Mudah-mudahan selalu diberi keberkahan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan berumah tangga,” katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Perantau Punggasan (Forkap), Ahman Nurdin, menyampaikan kebahagiaannya atas terlaksananya baralek keluarga perantau Punggasan tersebut.
Menurut Ahman, alek di tanah rantau seperti ini memiliki makna yang lebih luas. Selain menjadi ungkapan rasa syukur atas pernikahan kedua mempelai, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi warga Punggasan yang berada di perantauan.
“Ini bukan hanya baralek keluarga, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sesama urang Punggasan di rantau. Yang lebih penting, adat dan budaya Minangkabau tetap kita hidupkan meskipun berada jauh dari kampung halaman,” ujar Ahman.
Ia menyebut, keberadaan perantau Punggasan di berbagai daerah merupakan bagian penting dari hubungan ranah dan rantau. Karena itu, komunikasi dan kebersamaan antarperantau perlu terus dipelihara.
“Ranah dan rantau tidak boleh terputus. Walaupun kita mencari kehidupan di rantau, hubungan dengan kampung halaman harus tetap dijaga. Salah satunya melalui kegiatan keluarga, alek, silaturahmi dan pelestarian adat seperti ini,” katanya.
Ahman juga mengapresiasi keluarga Syafriadi yang tetap menghadirkan nuansa Minangkabau dalam baralek putrinya.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi pesan penting bagi generasi muda bahwa menjadi perantau bukan berarti kehilangan akar budaya.
“Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang. Kita menghormati lingkungan tempat tinggal, tetapi jati diri dan nilai-nilai Minangkabau tetap kita pegang,” tuturnya.
Ia berharap pernikahan Nuraini dan Fahrozy menjadi keluarga yang bahagia dan sekaligus membawa keberkahan bagi kedua keluarga besar.
“Selamat kepada ananda Nuraini dan Fahrozy. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Semoga Allah memberikan keturunan yang saleh dan salehah serta kehidupan yang penuh keberkahan,” pungkasnya.
Baralek keluarga perantau Punggasan di Karawang tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa adat Minangkabau tetap tumbuh di rantau. Jauh dari Pesisir Selatan, semangat menjaga silaturahmi, adat dan identitas budaya tetap menjadi bagian dari kehidupan urang Punggasan.






