BANDASAPULUAH.COM –
MADIUN – Dosen UNIPMA Madiun (Universitas PGRI Madiun) mengembangkan model Pembelajaran Collaborative STEM berbantuan Energy Teaching Kit (ETK) untuk meningkatkan kemampuan Computational Thinking calon guru matematika. Penelitian yang didanai melalui Hibah Kompetitif UNIPMA Tahun 2026, skema Penelitian Kolaboratif Dalam Negeri ini mengintegrasikan pembelajaran matematika, teknologi energi, investigasi berbasis data dan kerja kelompok.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Swasti Maharani, M.Pd., dengan anggota Irna Tri Yuniahastuti, S.Pd., MT, Dr. Davi Apriandi, S.Pd.Si., M.Pd., dan Anwas Mashuri, M.Pd. dari STKIP Modern Ngawi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim mengembangkan model ini untuk membekali calon guru matematika dengan kemampuan memecahkan masalah secara sistematis. Siswa tidak hanya mempelajari rumus, tetapi juga berlatih mendeskripsikan masalah, mengenali pola, menganalisis data, membangun model, dan mengevaluasi solusi.
“Melalui model pembelajaran ini kami ingin mendorong calon guru matematika untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkan pemikiran sistematis dalam menyelesaikan permasalahan nyata,” kata Swasti Maharani.
Penelitian ini menggunakan media penyelidikan Energy Teaching Kit berupa miniatur sistem energi yang dilengkapi dengan panel surya, baterai, pengontrol, dan perangkat beban seperti lampu dan kipas angin.
Siswa melakukan observasi, mengumpulkan data, membandingkan penggunaan beban, mengenali pola, dan menyusun representasi matematis. Hasil analisis digunakan untuk membangun model dan merumuskan rekomendasi berdasarkan bukti.
Konteks energi memungkinkan siswa untuk mengintegrasikan empat bidang STEM, yaitu Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika. Melalui pendekatan ini, matematika digunakan untuk memahami fenomena, menganalisis data, menguji alternatif, dan mengambil keputusan.
“Penggunaan Energy Teaching Kit memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui investigasi. Mereka dapat menghubungkan konsep matematika dengan observasi, data dan permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Swasti.
Model pembelajaran ini memiliki enam tahapan, dimulai dari orientasi masalah kontekstual STEM–energi; penguraian masalah dan perencanaan kolaboratif; Investigasi ETK dan pengenalan pola; abstraksi dan representasi matematika; pemodelan matematika dan desain solusi algoritmik; untuk evaluasi, debugging, presentasi, dan refleksi.
Siswa juga bekerja dalam kelompok dengan peran sebagai koordinator, operator ETK, pencatat data, analis dan presenter. Kegiatan ini mendorong mereka untuk berdiskusi, menyampaikan argumen, membandingkan alternatif, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Untuk mendukung implementasi, tim menyiapkan modul pengajaran, Lembar Kerja Siswa (LKPD), instrumen penelitian, serta rubrik penilaian Computational Thinking, HOTS matematika, kolaborasi, dan produk atau solusi.
Penilaian tidak hanya fokus pada hasil akhir, namun juga proses pemecahan masalah. Siswa diarahkan untuk mendokumentasikan cara merumuskan masalah, mengolah data, mengenali pola, dan memperbaiki solusi jika ditemukan hasil yang tidak konsisten.
Saat ini penelitian masih dalam tahap pengembangan dan implementasi, meliputi validasi, evaluasi penggunaan perangkat, dan penyempurnaan model berdasarkan data yang diperoleh.
Melalui penelitian ini, UNIPMA mendorong inovasi pembelajaran matematika yang kontekstual dan kolaboratif. Model ini diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mempersiapkan calon guru yang mampu berpikir kritis, sistematis dan berbasis bukti dalam menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
Dengarkan berita terhangat dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp Anda!
Klik 👉 Saluran TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp Anda sudah terinstal.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






