Belajar dengan AI Boleh Dimulai sejak Dini

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Belajar dengan AI Boleh Dimulai sejak Dini

i

Belajar dengan AI Boleh Dimulai sejak Dini

BANDASAPULUAH.COM –

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau AI, ruang kelas menjadi salah satu tempat bagi anak-anak untuk mengenal teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Meski penggunaannya menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, pengenalan AI sejak pendidikan dasar tetap dinilai penting asalkan dibarengi program pembelajaran yang sesuai usia dan pendampingan orang dewasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal itu ditegaskan oleh dosen senior Departemen Analitik dan Operasi National University of Singapore (NUS) Business School, Tan Hong Ming. Menurut dia, pendidikan dengan AI sebaiknya dimulai sejak sekolah dasar, dikembangkan secara lebih sistematis di sekolah menengah, dan diperdalam di perguruan tinggi. Pendidikan dengan AI harus berjenjang sesuai usia, kemampuan berpikir, dan kebutuhan peserta didik.

Namun, tambah Tan, dunia pendidikan perlu membedakan antara mengenal teknologi dan bergantung pada teknologi. Siswa perlu mengetahui AI, memahami cara kerjanya, dan belajar berinteraksi dengan AI. Namun, mereka tetap perlu menjalani proses belajar secara mandiri, termasuk menghadapi kesulitan yang diperlukan untuk membangun pemahaman.

”Kita harus mengenalkan dan mengajari anak-anak kita sedini mungkin, tetapi kita harus membatasi penggunaannya lebih awal. Ini sama seperti kita dulu mengenalkan anak pada kalkulator, tetapi ketika mereka mengerjakan Matematika, singkirkan kalkulator untuk soal-soal mendasar,” kata Tan di The Ridge NUS Campus Hotel, Kent Ridge, Singapura, Kamis (8/10/2026).

Tiga hal utama yang perlu dikembangkan dalam pendidikan AI sejak dini adalah rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa, dan pemikiran matematis. Ketiganya dinilai menjadi bekal penting agar siswa dapat memanfaatkan AI secara optimal, menyerap informasi dengan lebih baik, serta mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan mereka.

Rasa ingin tahu yang kuat merupakan kemampuan paling mendasar yang perlu dimiliki siswa di era AI.

Tan menjelaskan, rasa ingin tahu yang kuat merupakan kemampuan paling mendasar yang perlu dimiliki siswa di era AI. Kebermanfaatan AI akan sangat bergantung pada sejauh mana seseorang memiliki keinginan untuk bertanya, mencari tahu, dan memahami dunia di sekitarnya.

Kedua, interaksi manusia dengan AI masih sangat bergantung pada bahasa, baik ketika menyusun pertanyaan, memberikan instruksi, membaca jawaban, maupun mengevaluasi informasi yang dihasilkan. Kemampuan berbahasa yang baik memungkinkan siswa bisa menyampaikan maksud secara jelas dan memahami informasi lebih efektif.

Ketiga, siswa perlu memiliki pengetahuan Matematika yang kuat, bukan semata-mata untuk menguasai perhitungan, melainkan juga untuk membangun pola pikir yang logis, sistematis, dan kritis.

”Mereka memerlukan kemampuan Matematika yang bagus karena saya percaya bahwa Matematika bukan hanya untuk melatih kemampuan pemikiran kritikal,” ujarnya.

Mulai dari dasar

Tan melanjutkan, siswa jenjang pendidikan dasar tidak harus langsung belajar pemrograman atau algoritma AI yang rumit. Mereka hanya perlu memahami secara sederhana apa itu AI, bagaimana AI mengenali pola, serta mengapa jawaban AI tidak selalu benar.

Baca Juga :  Situs Sejarah Diduga Peninggalan Era Megalitik Ditemukan di Padang Pariaman

Warga mengakses aplikasi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) ChatGPT di Jakarta, Sabtu (28/3/2026). 

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
28-03-2026

Tan mencontohkan, putranya yang masih berusia enam tahun sudah ia kenalkan dengan AI generatif. Bagi dia, hal itu bukan sesuatu yang harus sepenuhnya dihindari, selama penggunaan teknologi tetap sesuai dengan tahap perkembangan anak.

”Putra saya yang berusia enam tahun sudah bisa mengobrol dengan ChatGPT dan sebagainya. Saya pikir itu bagus karena dia perlu belajar cara menggunakannya dan cara berinteraksi dengannya,” ucapnya.

Memasuki jenjang menengah, siswa sudah dapat mempelajari konsep AI secara lebih terstruktur, termasuk cara sistem belajar dari data, keterbatasan model, dan konsekuensi penggunaannya. Fokus pembelajarannya pada dasar-dasar teknis, menggunakan AI untuk pemecahan masalah, memeriksa bias atau kesalahan AI, dan membahas etika penggunaan AI.

Di tingkat pendidikan tinggi, lanjut Tan, pendidikan AI dapat disesuaikan dengan bidang studi dan profesi. Tidak semua mahasiswa harus menjadi ahli AI, tetapi mereka perlu memahami bagaimana teknologi tersebut memengaruhi bidangnya.

Perkembangan AI menuntut peningkatan kompetensi guru. Setiap guru masa kini harus bisa menerima kemungkinan bahwa siswa menggunakan AI. Karena itu, guru tidak seharusnya secara otomatis melarang penggunaannya atau memberikan nilai buruk hanya karena mahasiswa memakai AI.

Guru yang lolos sebagai finalis mempresentasikan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam metode pengajarannya dalam ajang "Educators Innovation Award" Perhimpuan Vincentius Jakarta (PVJ) di SMP Sint Vincentius Yoseph, Jakarta, Sabtu (9/5/2026). 

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Guru masa kini perlu menilai hasil kerja siswa dalam perspektif yang lebih luas, termasuk membandingkan kualitas karya antarsiswa. Ia mencontohkan banyak presentasi mungkin terlihat profesional. Namun, karena dibuat dengan AI, pola, struktur, atau tempat hampir serupa.

”Jadi masih ada perbedaan, dan itu membantu guru dalam menilai,” kata Tan.

Di Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memulai penerapan mata pelajaran koding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan sejak kelas V SD hingga SMA. Ini demi menanamkan kemampuan berpikir komputasional, literasi digital, pemecahan masalah, serta pemahaman mengenai pemanfaatan AI secara etis dan bertanggung jawab.

Quote

Guru masa kini perlu menilai hasil kerja siswa dalam perspektif yang lebih luas, termasuk membandingkan kualitas karya antarsiswa.

Namun, keterbatasan guru yang berkompeten serta sarana dan prasarana sekolah yang belum merata membuat mata pelajaran ini belum diterapkan di semua sekolah di Indonesia.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan, pihaknya terus mengadakan pelatihan guru, baik secara langsung maupun melalui modul pembelajaran mandiri. ”Murid yang bertumbuh adalah buah dari guru yang terus bertumbuh,” kata Nunuk.

Selama setahun penerapan mata pelajaran koding dan AI, belum ada setengah dari total 445.532 sekolah dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang menerapkannya. Jumlah guru yang dilatih untuk memiliki kompetensi koding dan AI juga baru sekitar 59.000 guru dari total 3,4 juta guru dalam Dapodik.

Baca Juga :  Venezuela menyerukan OPEC untuk melawan ancaman AS | Berita Minyak dan Gas

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Puluhan Tokoh Adat dan Budaya Kunjungi Gedung Negara Grahadi
Pantau Persiapan Porprov Atlet di Palu, KONI Bangga Berikan Dukungan Moral dan Hadiah Motivasi – Luwuk Times
”Editor yang Terhormat”: Jangan takut tidak dipromosikan
Dekatkan Budaya Solo ke Wisatawan, Wali Kota Respati Pamerkan Koleksi Museum di 9 Hotel Solo Raya
TJSL BRI Finance Tingkatkan Mutu Pendidikan di Tabanan Bali
Legislator Minta Pengelolaan Benda Bersejarah dari Belanda Libatkan Ahli Waris
Pangeran Khairul Saleh meminta ahli warisnya ikut terlibat dalam pengelolaan benda cagar budaya asal Belanda
KLH/BPLH Gandeng Kemenag dan Kemendikbud, 2.649 Sekolah Bergerak Wujudkan Pertobatan Ekologis Demi Lingkungan Berkelanjutan

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:20 WIB

Puluhan Tokoh Adat dan Budaya Kunjungi Gedung Negara Grahadi

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:55 WIB

Pantau Persiapan Porprov Atlet di Palu, KONI Bangga Berikan Dukungan Moral dan Hadiah Motivasi – Luwuk Times

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Belajar dengan AI Boleh Dimulai sejak Dini

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:05 WIB

”Editor yang Terhormat”: Jangan takut tidak dipromosikan

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Dekatkan Budaya Solo ke Wisatawan, Wali Kota Respati Pamerkan Koleksi Museum di 9 Hotel Solo Raya

Berita Terbaru

Puluhan Tokoh Adat dan Budaya Kunjungi Gedung Negara Grahadi

Nasional

Puluhan Tokoh Adat dan Budaya Kunjungi Gedung Negara Grahadi

Senin, 12 Okt 2026 - 20:20 WIB

Belajar dengan AI Boleh Dimulai sejak Dini

Nasional

Belajar dengan AI Boleh Dimulai sejak Dini

Senin, 12 Okt 2026 - 19:30 WIB

”Editor yang Terhormat”: Jangan takut tidak dipromosikan

Nasional

”Editor yang Terhormat”: Jangan takut tidak dipromosikan

Senin, 12 Okt 2026 - 19:05 WIB