Mengapa generasi muda takut menikah? Krisis Ekonomi Menjadi Penyebab Utama

Minggu, 21 Desember 2025 - 16:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengapa generasi muda takut menikah? Krisis Ekonomi Menjadi Penyebab Utama

i

Mengapa generasi muda takut menikah? Krisis Ekonomi Menjadi Penyebab Utama

DDi berbagai platform digital, mulai dari TikTok hingga yang lebih ekstrem lagi, “Lebih baik menyendiri saja, hidup sudah susah.”

Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan kegelisahan massal generasi yang hidup dalam tekanan ekonomi yang semakin menyesakkan. Mereka tumbuh di tengah narasi bahwa pernikahan bukan lagi ladang kebaikan, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang bisa memperburuk kondisi keuangan. Akhirnya lahirlah istilah yang semakin populer, pernikahan itu menakutkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebenarnya ketakutan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Hal ini timbul dari luka yang lebih dalam, yakni luka ekonomi kapitalisme yang menghantam cara berpikir, perasaan, dan cara hidup generasi sekarang.

Ketika Ekonomi Membentuk Pandangan Anda tentang Pernikahan

Dahulu, pernikahan adalah sesuatu yang dinanti-nantikan. Orang tua bahagia, keluarga bahagia, lingkungan mendukung. Hari ini? Banyak anak muda memandang pernikahan dengan perasaan cemas.

Melonjaknya harga kebutuhan pokok, biaya perumahan yang tidak terjangkau, gaji yang stagnan, dan persaingan kerja yang brutal menyebabkan banyak orang merasa “tidak layak” untuk menikah. Survei bahkan menunjukkan bahwa generasi muda lebih takut menjadi miskin dibandingkan tidak menikah.

Mereka melihat kenyataan, pasangan suami istri harus bersusah payah membayar sewa mahal, cicilan menumpuk, biaya melahirkan puluhan juta, harga susu bayi bikin mengelus dada. Tak sedikit yang menyaksikan orang tuanya—yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya—masih mengalami kesulitan. Lalu mereka bertanya, “Kalau berat, bagaimana dengan saya?”

Narasi “tunda nikah sampai berumah tangga” semakin menguat, padahal stabilitas sistem kapitalis ibarat fatamorgana. Dia tampak dekat, tetapi semakin jauh dia dikejar.

Baca Juga :  Angels, keluarga Skaggs mencapai kesepakatan di menit-menit terakhir

Akar Masalahnya: Ketakutan yang Diciptakan Sistem, Bukan Sekadar Pilihan Pribadi

Jika ditelusuri lebih dalam, ketakutan untuk menikah bukan hanya sekedar masalah mental generasi muda. Merupakan produk sistem kapitalis yang menciptakan biaya hidup super tinggi karena kebutuhan masyarakat dikelola layaknya komoditas, ketatnya persaingan kerja karena kesempatan kerja tidak sebanding dengan jumlah generasi muda, rendahnya upah, tidak mengikuti inflasi gaya hidup yang terus meningkat. Beban hidup ditanggung individu karena negara hanya berperan sebagai pengatur, bukan penanggung jawab kesejahteraan.

Di tengah kondisi seperti ini, wajar jika generasi muda memandang pernikahan sebagai beban baru. Mereka tidak salah—sistemlah yang salah. Belum lagi pengaruh pendidikan sekuler dan media liberal yang mengagung-agungkan gaya hidup hedonis, jalan-jalan setiap bulan, jalan-jalan mewah, belanja impulsif, dan mengejar status sosial. Semua ini menjadikan pernikahan tampak seperti “penghalang kebebasan”, bukan jalan menuju berkah.

Alhasil, lahirlah generasi berkepribadian ganda, tampil bernuansa Islami, namun dengan gaya hidup kapitalis. Beragama, namun keputusan hidupnya ditentukan oleh standar duniawi.

Islam Menganggap Pernikahan sebagai Kebaikan Besar

Ketakutan ini berbanding terbalik dengan pandangan Islam. Allah berfirman, “Dan nikahilah orang-orang yang sendirian di antara kamu… Jika mereka miskin, maka Allah akan memudahkan mereka dengan rahmat-Nya.” (QS An-Nur : 32)

Ayat ini sepertinya menepuk pundak kita. Kemiskinan bukanlah penghalang untuk menikah. Padahal, keberkahan pernikahan akan membuka pintu rejeki.

Baca Juga :  Obat Kanker Generasi Berikutnya Ditemukan Memperlambat Penuaan dan Meningkatkan Umur Panjang dalam Studi Lab

Nabi SAW juga menegaskan, “Ada tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah, salah satunya adalah orang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.” (HR. Tirmidzi)

Artinya pernikahan adalah ibadah, menjaga kesucian, sekaligus jalan datangnya pertolongan Tuhan. Pernikahan tidak dimaksudkan untuk menjadi beban; itu adalah solusi untuk ketenangan pikiran dan kelanjutan hidup.

Namun, dalam sistem ekonomi yang menghilangkan peran Allah dan menggantikannya dengan logika pasar, ayat dan hadis ini terdengar seperti utopia. Bukan karena ajarannya tidak relevan, melainkan karena sistem yang mengatur kehidupan sudah tidak selaras lagi dengan nilai-nilai tersebut.

Belajar dari Sejarah: Ketika Negara Menjadi Penopang Keluarga

Dalam sejarah Islam, negara hadir tidak hanya sebagai pemungut pajak atau pengatur. Ia hadir sebagai rā’in (pengelola umat) dan junnah (pelindung).

Pada masa Umar bin Khattab, negara memberikan tunjangan bagi setiap bayi yang lahir sehingga para ibu tidak terbebani. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, masyarakat kesulitan mencari orang yang mau menerima zakat karena kemakmuran yang begitu merata.

Dalam berbagai era, negara mengelola ammah milkiyyah seperti minyak, tambang, air, dan hutan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk swasta atau asing. Hasilnya kembali ke masyarakat melalui kebutuhan dasar yang terjangkau, lapangan kerja yang luas, layanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan stabilitas ekonomi yang menjadikan pernikahan bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Dengan sistem seperti itu, generasi muda tidak tumbuh dengan rasa takut, namun dengan keberanian membangun keluarga dan peradaban.

Baca Juga :  Al Jazeera Study menyelenggarakan konferensi “Afrika dan Tantangan Keamanan dan Kedaulatan” untuk mengubah benua ini dari marginalitas menjadi sentralitas

Saatnya Memulihkan Kepercayaan Generasi terhadap Pernikahan

Pernikahan tidak lagi dianggap sebagai beban jika biaya hidup berkurang, bukan karena diskon yang dibuat-buat, tetapi karena negara mengelola kebutuhan masyarakat dengan cara yang dapat dipercaya. Kesempatan kerja dibuka seluas-luasnya, tidak hanya untuk kepentingan investor, tapi untuk kesejahteraan masyarakat. Generasi dididik dengan aqidah, bukan dengan standar hedonis. Dan keluarga diposisikan sebagai institusi besar, bukan sekedar urusan privat.

Ketika kondisi tersebut terwujud, pernikahan menjadi sumber ketenangan, bukan kecemasan. Islam telah menunjukkan bagaimana sistem kehidupan berbasis wahyu mampu menciptakan ekosistem yang mendukung keluarga. Hal ini tidak berarti bahwa masalah ini hilang sama sekali, namun generasi-generasi tidak dipaksa untuk hidup dalam ketakutan yang diciptakan oleh struktur ekonomi.

Mengakhiri Ketakutan yang Diwarisi Sistem

Generasi muda tidak salah jika mengatakan pernikahan itu menakutkan. Mereka hanya merespons realitas perekonomian yang tertatih-tatih dan sistem kehidupan yang berat sebelah. Namun Islam mengajarkan bahwa solusinya bukan dengan menunda kebaikan, melainkan dengan membangun tatanan kehidupan yang menafkahi umat, melindungi generasi, dan menjunjung tinggi keluarga.

Oleh karena itu, perjuangan menata kembali kehidupan dengan nilai-nilai Islam menjadi kunci menghilangkan rasa takut yang saat ini membelenggu kita. Ketika sistem memihak rakyat, maka keberanian menikah akan tumbuh kembali – seperti yang terjadi dalam sejarah kejayaan bangsa ini.

Wallahu a’lam bishawab.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. bandasapuluah.com tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini.

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Calvin Verdonk berpeluang mengukir sejarah sebagai WNI pertama di Liga Champions
Komnas HAM Dalami Alasan Komdigi Blokir Konten 486 Saat Demo Agustus
Siswa SMAN 1 Taman Ubah Rumus Matematika Menjadi Batik Berbasis AI – monitorday
Tinjauan Lengkap – BMKG: Titik Panas di Sumatera Capai 3.663, di Lampung Ada 471 Titik
Kementerian Agama Rejang Lebong
Kabupaten Pesisir Selatan Tetapkan Status Tanggap Darurat Pasca Dilanda Banjir dan Longsor
Bupati M. Syukur Tegaskan Transparansi Pengelolaan Dana BOSP dan Melepaskan Kepentingan Pribadi
Cetak Sejarah di Kampar, Koperasi Plasma Berkat Lestari Dapatkan Hibah PSR untuk Peremajaan Kelapa Sawit — Sawit Indonesia

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:01 WIB

Calvin Verdonk berpeluang mengukir sejarah sebagai WNI pertama di Liga Champions

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Komnas HAM Dalami Alasan Komdigi Blokir Konten 486 Saat Demo Agustus

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Siswa SMAN 1 Taman Ubah Rumus Matematika Menjadi Batik Berbasis AI – monitorday

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Tinjauan Lengkap – BMKG: Titik Panas di Sumatera Capai 3.663, di Lampung Ada 471 Titik

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:40 WIB

Kementerian Agama Rejang Lebong

Berita Terbaru