Dalam Kegelapan, Banjir, dan Menghangatnya Persaudaraan

Jumat, 28 November 2025 - 17:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Perjalanan Syamsul Bahri Ys kembali ke desanya berubah menjadi kisah kemanusiaan di tengah banjir di Aceh Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan kepada pemilik foto

i

Perjalanan Syamsul Bahri Ys kembali ke desanya berubah menjadi kisah kemanusiaan di tengah banjir di Aceh Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan kepada pemilik foto

BANDASAPULUAH.COM – Kisah mengharukan ini diceritakan oleh Syamsul Bahri Ys, dosen senior FKIP Bahasa Inggris Universitas Syiah Kuala yang kini telah memasuki masa pensiun. Istrinya berasal dari Kota Langsa dan keduanya sudah lama tinggal di Banda Aceh.

Hampir setiap dua minggu sekali, perjalanan pulang sudah menjadi rutinitas keluarga ini – sebuah perjalanan mesra yang biasanya tenang dan penuh kehangatan. Namun perjalanan mereka kali ini berubah menjadi pengalaman luar biasa, kejutan yang tidak pernah mereka bayangkan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN

Senja baru saja turun saat kami meninggalkan SPBU Bugeng sekitar pukul lima sore pada Kamis (27/11). Biasanya perjalanan menuju Bireuen hanya memakan waktu 25 menit, namun sore itu banjir mengubah segalanya. Usai melintasi Jembatan Peudada, air mulai meluap ke jalan sehingga memaksa kendaraan merayap pelan. Satu jam kemudian kami sampai di Bireuen – dalam suasana yang terasa asing dan berat.

Kami mengambil arah kantor bupati menuju Matang. Air masih menutupi sebagian jalan, dan masyarakat berdiri berjajar mengatur arus kendaraan dengan lampu darurat. Wajah mereka lelah, namun mereka tetap berusaha membantu siapa pun yang datang.

Sesampainya di Matang menjelang Maghrib, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu – sedikit sisa sate untuk tambahan bahan bakar. Firdha dan beberapa wanita melaksanakan salat Maghrib di sebuah kedai sate yang kebetulan menyalakan genset. Di luar, Matang gelap gulita. Hanya suara angin dan langkah kaki orang yang lewat yang terdengar.

Baca Juga :  Jaga Kebugaran dan Perkuat Kebersamaan Internal, Personil Polda Babel Gelar Olahraga Bersama

Tak lama kemudian kami mendapat kabar bahwa di belakang kedai kopi terdapat musala kecil. Di situlah kami menunaikan salat Maghrib dan Isya, diiringi cahaya redup dan suara gemericik air di kejauhan.

Ini adalah malam ketiga kami menginap di mobil Hiace di Matang. Mobil sengaja dimatikan untuk menghemat bahan bakar solar sehingga membuat malam terasa lebih tenang dan sejuk. Beda dengan SPBU Bugeng yang kalau malam genset galon hidup, air melimpah, nyaman untuk salat, bahkan bisa mandi. Di Matang, semuanya terbatas.

***

Ⓒ Hak cipta foto diatas dikembalikan kepada pemilik foto
Perjalanan Syamsul Bahri Ys kembali ke desanya berubah menjadi kisah kemanusiaan di tengah banjir di Aceh Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan kepada pemilik foto

Saat kami bangun untuk salat subuh, kami – yang kini hanya tersisa lima penumpang – berjalan sekitar sepuluh menit menuju Masjid Matang. Masjid itu penuh dengan pengungsi dan penumpang lain yang terdampar. Tempat wudhu gelap gulita, kami harus menggunakan senter dari handphone. Usai salat, di antara dua orang yang tertidur di lantai masjid, kami berjalan kembali menuju mobil.

Baca Juga :  Mencegah Penyalahgunaan Media Sosial - Jaringan RakyatPos

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seorang penjual nasi bebek. Ibu-ibu beli, tapi kami laki-laki menundanya karena berharap dapat nasi yang enak. Namun pada pukul tujuh pagi, tidak ada satu pun warung yang buka. Tidak ada bensin. Banyak rumah penjual yang terendam. Bireuen ternyata terendam banjir sejak Selasa.

Kami penumpang laki-laki berkeliling mencari kedai kopi. Akhirnya menemukan kedai kopi di area pasar. Kopi sachet pun terasa nikmat di tengah penat dan ketidakpastian.

Di dekat warkop, ada seorang laki-laki yang berjualan pisang. Kami membeli dua sisir, tapi dia menambahkan dua sisir lagi sebagai “bonus” – mungkin karena kaldunya terlalu matang. Pisang tersebut berat untuk dibawa, namun sepanjang perjalanan banyak penumpang yang belum makan. Kami memberi mereka sebanyak yang mereka inginkan. Terasa ringan–tidak hanya di tangan, tapi juga di hati.

Di teras warkop kami membuka pisang untuk dimakan bersama penumpang mobil dan penumpang mobil lainnya. Dua hari tiga malam yang tersisa seperti ini menumbuhkan ikatan persaudaraan baru di antara kami. Dalam keadaan gelap, tanpa sinyal, tanpa listrik sejak Rabu pagi pukul 08.30, kami saling mendukung. Komunikasi terputus total, namun arus umat manusia semakin melimpah.

***

Pukul sembilan pagi, sopir memutuskan kami harus pulang ke Banda Aceh. Empat jembatan yang menghubungkan Matang-Kuta Blang semuanya putus. Menyeberang dengan kano tidak mungkin dilakukan – airnya terlalu tinggi, arusnya terlalu deras.

Baca Juga :  Game online Steam dan Valve sedang down

Kami berempat penumpang kembali ke Banda Aceh bersama beberapa penumpang lainnya hingga mobil penuh. Salah satu penumpang asal Langsa ikut rombongan suaminya yang juga hendak menuju Langsa.

Sepanjang perjalanan, antrian panjang muncul di setiap SPBU. Rumah warga terendam. Di Pidie Jaya, sisa-sisa banjir dan kerusakan jalan nasional terlihat jelas. Sesampainya di Kede Ulim, kami berbelok ke kanan menyusuri jalan desa karena jembatan di Meureudu dikabarkan rusak. Jalan alternatif yang menghubungkan Ulim–Merdu–Trienggadeng juga terendam air deras – namun masih bisa dilalui.

Oh ya, di kawasan Jeunib, pengemudi mengisi solar secukupnya di pinggir jalan. Alhamdulillah di SPBU Ulee Glee kami bisa mengisi bahan bakar solar setelah mengantri selama 30 menit.

Perjalanan menuju Banda Aceh berlanjut…
Dan ketika hampir sampai di Sigli, kami mengucap syukur – Alhamdulillah.
Setelah tiga hari berjalan dalam kegelapan, air, dan isolasi, akhirnya kami melihat cahaya kembali.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. bandasapuluah.com tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini.

Follow WhatsApp Channel bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolri: Jangan Ragu Laporkan Peredaran Narkoba, Termasuk Jika Melibatkan Polisi
Komdigi dan Polri Perkuat Sinergi Berantas Judi Online dan Penipuan Digital
BNN Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamine, Warga Taiwan Jadi Tersangka
Hadapi Tekanan Digital, Meutya Hafid Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Jurnalis
Operasi Taat 2026 Dimulai, Polri Ajak Masyarakat Utamakan Keselamatan Berlalu Lintas
Bantu Warga Hadapi Kemarau, Brimob Polda Kalbar Distribusikan Air Bersih
Muhammadiyah Dorong Potensi Lokal Jadi Peluang Usaha Pariwisata
Indonesia dan Australia Satukan Langkah Melindungi Anak dari Risiko Digital

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:31 WIB

Kapolri: Jangan Ragu Laporkan Peredaran Narkoba, Termasuk Jika Melibatkan Polisi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:50 WIB

BNN Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamine, Warga Taiwan Jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:52 WIB

Hadapi Tekanan Digital, Meutya Hafid Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Jurnalis

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Operasi Taat 2026 Dimulai, Polri Ajak Masyarakat Utamakan Keselamatan Berlalu Lintas

Senin, 26 Oktober 2026 - 07:29 WIB

Bantu Warga Hadapi Kemarau, Brimob Polda Kalbar Distribusikan Air Bersih

Berita Terbaru