BANDASAPULUAH.COM – Wakil Bupati Pesisir Selatan, Risnaldi Ibrahim, mengajak generasi muda untuk tetap menjaga dan melestarikan adat istiadat di tengah derasnya arus modernisasi.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan “Bakatik di Tangah Padang” di Nagari Ampang Pulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Senin (23/3/2026).
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa adat merupakan identitas yang tidak boleh ditinggalkan, karena menjadi penuntun arah dalam menghadapi perubahan zaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jangan malu dengan adat kita. Adat adalah identitas. Tanpa adat, kita akan kehilangan arah di tengah perubahan zaman,” tegasnya di hadapan masyarakat dan tamu undangan yang hadir.
Menurutnya, tradisi bakatik adat bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi memiliki makna mendalam sebagai perwujudan falsafah Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Di dalamnya terkandung nilai-nilai musyawarah, rasa syukur atas hasil bumi, serta doa bersama untuk keselamatan nagari.
Ia juga menyebut bahwa tradisi ini menjadi “paru-paru sosial” yang menjaga keharmonisan hubungan antar kaum dan suku di tengah masyarakat.
Karena itu, keberlangsungan tradisi tersebut sangat bergantung pada peran generasi muda sebagai penerus.
Risnaldi Ibrahim menekankan agar momentum kegiatan ini dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi anak cucu, sehingga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur tidak terputus.
“Jadikan momen ini sebagai tempat belajar bagi generasi penerus, agar estafet nilai-nilai adat tetap terjaga dan terus hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Ampang Pulai yang masih teguh mempertahankan tradisi di tengah tantangan modernisasi.
Menurutnya, kekompakan masyarakat dalam menjaga warisan budaya merupakan kebanggaan tersendiri bagi pemerintah daerah.
Ia juga memastikan, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan akan terus mendukung kegiatan pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.
“Melalui kegiatan ini, kita berharap Nagari Ampang Pulai semakin diberkahi, masyarakatnya semakin rukun, dan ekonomi kerakyatan juga semakin meningkat,” tutupnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Anggota DPRD Pesisir Selatan Afridal dan Zulpian Aprianto, Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Andi Syafinal, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Asril Yesmen, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Ronald Bernando, Kepala Dinas PerkimtanLH Roli Buchari.
Selain itu, turut hadir Kepala Dinas PMPTSP Ahmad Hidayat, Kepala Dinas Perhubungan Zoni Eldo, Kepala Bapperida Subchandri, Kabag Umum Oriza Dharma, unsur Forkopimca, wali nagari dan Bamus se-Ampang Pulai, serta tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Irwandi Dt Batuah Nan Kayo dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan “Bakatik di Tangah Padang” bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan bentuk nyata pelestarian adat dan budaya Minangkabau.
Ia mengungkapkan bahwa tradisi ini terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1990, dan kini kembali dihidupkan sebagai upaya menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat kebersamaan, serta menjaga nilai-nilai adat dan agama agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tahun ini menjadi tanggung jawab Suku Chaniago sebagai panitia, dengan dukungan seluruh kaum dari empat suku yang ada di Kenagarian Ampang Pulai yang memiliki 24 kepenghuluan.
Kegiatan ini juga selaras dengan program unggulan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, yakni “Nagari Mangaji”.
Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Pulai, Nofriyon Dt Mandaro Jambak, menyebut bahwa momentum tersebut merupakan hari bersejarah bagi seluruh anak nagari.
Ia menjelaskan bahwa tradisi bakatik adat pernah berkembang pesat di Ampang Pulai sejak sekitar tahun 1950-an hingga awal 1990-an, sebelum akhirnya sempat terhenti dalam waktu yang cukup lama.
“Hari ini sesuatu yang lama hilang kembali kita hadirkan di tengah masyarakat. Ini adalah tonggak sejarah baru bagi Kenagarian Ampang Pulai,” katanya.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat, mulai dari KAN, tokoh masyarakat, Bundo Kanduang hingga generasi muda, dapat terus mendukung agar tradisi ini kembali menjadi agenda utama nagari.






