“Setiap gelar mengandung tanggung jawab untuk menjaga keluarga, suku, kampung, dan nagari, serta mempertahankan marwah adat Minangkabau,” tegasnya.
Ia juga berharap kegiatan ini menjadi model penguatan hubungan kerabat Pagaruyung di berbagai rantau dan diaspora Minangkabau di seluruh dunia.
Mengakhiri sambutannya, ia mengingatkan bahwa tali persaudaraan tidak akan pernah hilang selama tali rahim dan tali nasab tetap dijaga serta Ranji Limbago tetap dihormati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, Kaum Suku Malayu Koto Tuo telah melaksanakan konsolidasi adat dalam rangka perluasan kaum melalui penyelenggaraan alek gadang kerapatan ninik mamak, yakni prosesi pelewaan mandeh paruik Ietje Rizal Sini untuk “manapek” atau masuk ke dalam kaum.
Rangkaian kegiatan tersebut diselenggarakan pada 18 November 2025. Dalam alek itu, prosesi adat ditandai dengan penyembelihan jawi (sapi) sebagai simbol dimulainya hajatan adat Kaum Malayu dari paruik Ibu Ietje menjadi bagian dari urang Minangkabau.
Alek “manapek” Ibu Ietje tersebut turut dihadiri oleh berbagai unsur, di mana Kaum Malayu Koto Tuo mengundang kerabat kaum, tetangga dari Suku Malayu di Koto Tuo dan Batang Kapas, serta ninik mamak nagari lainnya di Banda X Kerabat Pagaruyung.
Kegiatan awal ini dipusatkan di Rumah Mandeh Sako Marlina yang berfungsi sebagai Rumah Gadang kaum di Koto Tuo Batangkape Banda X.
Dalam suasana sakral kerapatan ninik mamak, prosesi diisi dengan pelewaan adat “manapek” Ietje Ika Suwarsih Rizal Sini sebagai bagian sah dari urang Minangkabau dalam Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Kerabat Pagaruyung, sebagaimana tercantum dalam Ranji Limbago Pagaruyung.
Sebagai kelanjutan dari upacara sakral tersebut, Kaum Suku Malayu di bawah payung Datuk Sampono Batuah kemudian menyelenggarakan puncak acara di Istana Pagaruyung melalui Alek Gadang “Manjalang Induak
Ia juga menegaskan komitmen bersama untuk menjaga marwah kaum, memperkuat tali rahim, serta mengamalkan nilai-nilai filosofi adat Minangkabau seperti ABS-SBK, Syara’ Mangato Adat Mamakai, dan Alam Takambang Jadi Guru.
Sementara itu, Payung Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Datuk Sampono Batuah, menyampaikan bahwa prosesi Manjalang Induak bukan sekadar seremoni adat, melainkan penguatan tali pusako serta peneguhan hubungan mamak dan kamanakan.
“Di sinilah marwah kaum dijunjung dan asal-usul kembali ditautkan dalam kebesaran ranji limbago Pagaruyung. Momentum ini menjadi tonggak kokoh sejarah kaum serta penguatan silaturahmi kerabat,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan generasi Minangkabau yang memahami asal-usul, adat, serta tanggung jawabnya sebagai bagian dari kaum dan nagari.
Terpisah, Mandeh Sako Kaum Malayu Koto Tuo Batangkape, Helgawati, mengaku bahagia dan terharu atas terselenggaranya alek gadang tersebut.
Ia menilai prosesi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar kaum Malayu Koto Tuo.
Sementara itu, Prof. Dr. Raudha Thaib menyampaikan rasa haru dan bahagia atas kepulangan anak kemenakan Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X ke ranah asalnya.
Menurutnya, anak kaum yang selama ini merantau dan telah lama tidak pulang, kini kembali “manjalang induak” ranji Limbago Pagaruyung, sebuah momen yang sangat membahagiakan bagi seorang mandeh.
“Betapa membahagiakan mandeh bahwa anaknya pulang ke rumah asalnya di Istana Silinduang Bulan Pagaruyung. Sudah lama tak pulang, kini kembali, tentu patut disambut dan diparalekkan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kebanggaan karena kaum Suku Malayu Koto Tuo memilih menggelar alek gadang secara penuh dengan tradisi penyembelihan kerbau sebagai bentuk penghormatan adat di Istana Silinduang Bulan.
“Senangnya anak, senangnya mandeh. Pintu rumah asal Istana Silinduang Bulan senantiasa terbuka bagi pulangnya anak dan seluruh kerabatnya,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Sultan Dr. Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah menegaskan, hubungan kekerabatan dalam adat Minangkabau bukan sekadar simbol, melainkan harus terus dirawat melalui silaturahmi dan pemastian kembali hubungan genealogis.
Menurutnya, Ranji Limbago merupakan peta besar kekerabatan Minangkabau yang menghubungkan nagari-nagari serta kerajaan-kerajaan kerabat yang tersebar di Nusantara hingga mancanegara.
Ia menilai momentum Manjalang Induak ini sebagai langkah nyata dalam menghidupkan kembali semangat kekerabatan tersebut, sekaligus memperkuat posisi induak sebagai pusat kasih sayang, pendidikan, dan kekerabatan dalam kaum.
Lebih lanjut disampaikannya, gelar adat yang dianugerahkan bukan sekadar simbol kebesaran, tetapi merupakan amanah besar dalam kepemimpinan kaum yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Setiap gelar mengandung tanggung jawab untuk menjaga keluarga, suku, kampung, dan nagari, serta mempertahankan marwah adat Minangkabau,” tegasnya.
Ia juga berharap kegiatan ini menjadi model penguatan hubungan kerabat Pagaruyung di berbagai rantau dan diaspora Minangkabau di seluruh dunia.
Mengakhiri sambutannya, ia mengingatkan bahwa tali persaudaraan tidak akan pernah hilang selama tali rahim dan tali nasab tetap dijaga serta Ranji Limbago tetap dihormati.
Sebelumnya, Kaum Suku Malayu Koto Tuo telah melaksanakan konsolidasi adat dalam rangka perluasan kaum melalui penyelenggaraan alek gadang kerapatan ninik mamak, yakni prosesi pelewaan mandeh paruik Ietje Rizal Sini untuk “manapek” atau masuk ke dalam kaum.
Rangkaian kegiatan tersebut diselenggarakan pada 18 November 2025. Dalam alek itu, prosesi adat ditandai dengan penyembelihan jawi (sapi) sebagai simbol dimulainya hajatan adat Kaum Malayu dari paruik Ibu Ietje menjadi bagian dari urang Minangkabau.
Alek “manapek” Ibu Ietje tersebut turut dihadiri oleh berbagai unsur, di mana Kaum Malayu Koto Tuo mengundang kerabat kaum, tetangga dari Suku Malayu di Koto Tuo dan Batang Kapas, serta ninik mamak nagari lainnya di Banda X Kerabat Pagaruyung.
Kegiatan awal ini dipusatkan di Rumah Mandeh Sako Marlina yang berfungsi sebagai Rumah Gadang kaum di Koto Tuo Batangkape Banda X.
Dalam suasana sakral kerapatan ninik mamak, prosesi diisi dengan pelewaan adat “manapek” Ietje Ika Suwarsih Rizal Sini sebagai bagian sah dari urang Minangkabau dalam Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Kerabat Pagaruyung, sebagaimana tercantum dalam Ranji Limbago Pagaruyung.
Sebagai kelanjutan dari upacara sakral tersebut, Kaum Suku Malayu di bawah payung Datuk Sampono Batuah kemudian menyelenggarakan puncak acara di Istana Pagaruyung melalui Alek Gadang “Manjalang Induak






