BMKG Operasikan Radar HF di Aceh, Pantau Dinamika Laut hingga 150 Kilometer
BANDASAPULUAH.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoperasikan teknologi Radar Array Frekuensi Tinggi atau High Frequency (HF) di Ujong Batee, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Teknologi ini dirancang untuk memantau dinamika lautan hingga radius 150 kilometer guna memperkuat layanan informasi meteorologi maritim, mendukung keselamatan pelayaran, serta menjadi salah satu sumber informasi pendukung dalam sistem mitigasi bencana.
Kehadiran radar tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pemantauan kondisi perairan di Aceh, wilayah yang memiliki risiko bencana gempa bumi, tsunami, dan cuaca ekstrem. Melalui teknologi ini, BMKG diharapkan dapat memperoleh data arus permukaan laut secara berkelanjutan untuk mendukung analisis kondisi perairan dan penyampaian informasi kepada masyarakat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, radar HF Array di Ujong Batee melengkapi perangkat serupa yang sebelumnya telah dipasang di Lam Teungoh, Kabupaten Aceh Besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kombinasi kedua radar tersebut memungkinkan pemantauan kondisi perairan pantai utara Aceh dilakukan secara lebih terintegrasi, terutama dalam mengamati arus permukaan laut dan perubahan dinamika perairan.
“Jangkauan pemantauan hingga 150 kilometer memungkinkan BMKG memperoleh informasi arus permukaan laut secara berkelanjutan. Data ini dapat mendukung pemantauan dinamika lautan sekaligus meningkatkan keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat pesisir,” kata Faisal di Aceh, Kamis (8/10/2026).
Penguatan sistem pemantauan tersebut dinilai penting mengingat Aceh memiliki sejarah panjang bencana alam, termasuk tsunami dahsyat pada 2004. Selain ancaman gempa bumi dan tsunami, wilayah ini juga menghadapi risiko bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi dinamika atmosfer dan kondisi cuaca.
Meski demikian, radar HF Array bukan merupakan sistem pendeteksi tsunami yang berdiri sendiri. Teknologi ini menjadi salah satu perangkat pendukung dalam pemantauan dinamika laut dan upaya mitigasi bencana, melalui penyediaan data yang dapat digunakan untuk memperkuat analisis kondisi perairan.
Teknologi radar HF Array di Ujong Batee merupakan bagian dari jaringan 10 lokasi radar yang dikembangkan melalui kolaborasi Indonesia dan Perancis.
Dengan beroperasinya perangkat tersebut, Aceh mendapat dukungan dua jenis teknologi observasi BMKG, yakni radar cuaca C-Band dan HF Radar Array. Kedua teknologi itu memiliki fungsi berbeda, dengan radar cuaca mendukung pengamatan kondisi atmosfer, sedangkan radar HF digunakan untuk memantau dinamika perairan.
Wakil Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Fabrice Fize, mengatakan pengoperasian radar tersebut merupakan bentuk nyata kerja sama Indonesia dan Perancis dalam mengembangkan teknologi observasi serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana.
Menurutnya, kerja sama kedua negara bertujuan memperkuat kemampuan pemantauan dan mendukung pengembangan sistem peringatan dini, khususnya dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi dan perubahan iklim di wilayah pesisir.
Fize menambahkan, kemitraan jangka panjang antara Badan Pembangunan Perancis (AFD) dan BMKG mencerminkan semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara. Hal tersebut sejalan dengan peningkatan status hubungan Indonesia dan Perancis menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 28 Mei 2026.
Sementara itu, Country Director AFD untuk Indonesia, Sandrine Boucher, menegaskan dukungan pihaknya terhadap upaya mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat pesisir melalui pengembangan teknologi radar maritim bersama BMKG.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus diperluas untuk memperkuat ketahanan iklim dan keselamatan masyarakat pesisir di Indonesia.
Selain memperkuat infrastruktur observasi, BMKG juga meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui program Sekolah Lapangan yang mencakup bidang cuaca, iklim, dan geofisika.
Program Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan (SLCN) bertujuan meningkatkan pemahaman nelayan terhadap informasi cuaca laut. Sementara itu, Sekolah Lapangan Iklim (SLI) membantu masyarakat, khususnya pelaku sektor pertanian, memahami informasi iklim sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Adapun Sekolah Lapangan Geofisika (SLG) berfokus pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai ancaman gempa bumi dan tsunami, termasuk langkah-langkah kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana tersebut.
Di Aceh, BMKG menyelenggarakan ketiga program itu secara terpadu untuk memperluas pemanfaatan informasi cuaca, iklim, dan geofisika dalam kehidupan sehari-hari.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Aceh, Robby Irza, yang mewakili Wakil Gubernur Aceh, menilai teknologi pemantauan kelautan memiliki peran penting bagi masyarakat setempat.
Menurutnya, kehidupan masyarakat Aceh sangat erat kaitannya dengan laut, mulai dari mata pencaharian nelayan hingga aktivitas ekonomi dan transportasi antardaerah.
Informasi terkini mengenai arus dan gelombang laut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi nelayan dalam menentukan waktu melaut. Informasi tersebut juga dapat membantu kapal merencanakan pelayaran dengan lebih aman.
Pemerintah Aceh berharap keberadaan radar tersebut tidak hanya menghasilkan data teknis, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi keselamatan dan penghidupan masyarakat pesisir.
BMKG juga mengimbau masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar lokasi pemasangan, untuk ikut menjaga fasilitas HF Radar Array agar dapat beroperasi secara optimal dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi keselamatan bersama.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






