BANDASAPULUAH.COM –
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menanggapi wacana Kementerian Pendidikan Dasar yang menyebutkan siswa tidak lagi otomatis naik kelas mulai tahun 2027. Dilansir dari Detikcom, Sabtu (10/10/2026), ia menilai kebijakan tersebut terkait dengan perbaikan sistem pendidikan dan hak-hak anak.
Ubaid mengatakan, permasalahan utama bukan hanya kenaikan kelas saja, namun kualitas pembelajaran, kurikulum, dan kompetensi guru. Ia mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab ketika siswa mengalami kesulitan belajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jadi, pertanyaan saya, kalau ada anak misalnya kelas 1 SD yang tidak bisa membaca, siapa yang harus disalahkan? Karena anak bodoh atau cara belajar atau sistem pembelajarannya buruk? kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ubaid berpendapat permasalahan pendidikan perlu dilihat dari kondisi sistem yang ada saat ini. Ia mengatakan, ada permasalahan pada pembelajaran, kurikulum, buku, dan kompetensi guru.
“Sistem pembelajaran kita buruk, kurikulum kita buruk, lalu kompetensi guru kita juga buruk. Kalau sistem pembelajarannya buruk, kurikulumnya buruk, bukunya buruk, kompetensi gurunya juga buruk, kenapa siswanya dihukum? Saya mencium ketidakadilan di sana,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ubaid kemudian menggarisbawahi bahwa kebijakan kenaikan kelas perlu dikaji dengan mempertimbangkan permasalahan yang lebih luas dalam pendidikan Indonesia.
“Kita lupa dengan permasalahan pendidikan kita saat ini. Itu permasalahan kebijakan ini,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Menurut Ubaid, sebagian anak bisa memiliki kemampuan akademik yang lebih baik karena mendapat tambahan pembelajaran dari lembaga kursus di luar sekolah.
“Banyak kasus, anak-anak kelas 1 sudah bisa membaca, mereka mengikuti kursus di luar sekolah. Jadi, mereka kurang pandai matematika karena diajari oleh guru di sekolah, mereka tidak diajari membaca oleh guru di sekolah, tetapi mereka mengambil kursus di luar,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ia menilai kondisi tersebut bisa berdampak pada mahasiswa yang tidak memiliki akses terhadap mata kuliah tambahan. Mereka berpotensi menghadapi konsekuensi dari sistem pembelajaran yang dinilai belum maksimal.
“Nah dampaknya, anak-anak yang tidak mempunyai biaya untuk mengikuti kursus di luar, kemudian mengikuti sistem di sekolah yang buruk dan tidak maksimal dalam pembelajarannya, tidak akan naik kelas,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ubaid kembali menegaskan, pemerintah perlu memperbaiki sistem pembelajaran sebelum menerapkan kebijakan terkait kenaikan kelas siswa.
“Jadi menurut saya kebijakan ini perlu dipikirkan kembali, karena kebijakan ini akan merugikan keadilan bagi anak-anak yang bergantung pada sistem sekolah untuk bisa bertransformasi,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ia mengatakan, mayoritas masyarakat Indonesia masih mengandalkan sekolah sebagai tempat memperoleh transformasi pendidikan karena kondisi keluarga yang beragam.
Artinya, belajar bersama orang tua di rumah tidak mungkin dilakukan. Mayoritas masyarakat Indonesia mengandalkan transformasi di sekolah, kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ubaid berpendapat, sistem pendidikan yang baik perlu didukung oleh guru yang kompeten dan lingkungan belajar yang berintegritas agar seluruh siswa mempunyai kesempatan yang sama.
“Dan itu hanya bisa diakses oleh orang-orang yang mempunyai sumber daya, yang bisa mengikuti kursus bahasa Inggris yang mahal adalah mereka yang punya uang,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ia juga menyoroti kemampuan bahasa Inggris siswa yang menurutnya berkaitan dengan dukungan lingkungan belajar dan kualitas sistem pendidikan.
“Kenapa orang Indonesia belajar bahasa Inggris dari kelas 1 sampai SD tapi tidak bisa berbahasa Inggris? Ya karena lingkungan tidak mendukung, sistemnya buruk, gurunya juga tidak kompeten. Jadi anak tidak bisa berbahasa Inggris karena bodoh atau sistemnya buruk.
Jika sistemnya buruk, mengapa anak tersebut dihukum? “Di situlah letak permasalahannya,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pengawasan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






