BANDASAPULUAH.COM –– Masjid telah lama memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat. Tidak hanya sekedar menjadi pusat ibadah dan dakwah, peran masjid juga berkembang menjadi pusat pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Saat ini, potensi peran masjid dalam kehidupan sosial semakin meluas seiring perubahan bencana iklim dan menguji ketahanan masyarakat.
Laporan Green Mosques Initiative dari Ummah for Earth (2021) menempatkan masjid sebagai ruang yang mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat dan berpotensi menjadi bagian solusi krisis iklim. Dalam konteks ini, peran masjid dapat mencakup pendidikan lingkungan hidup, sosialisasi informasi bencana dan penyediaan pos perlindungan saat terjadi bencana, hingga mobilisasi aksi lingkungan berbasis masyarakat. Melihat potensi yang sangat besar tersebut, Greenpeace Indonesia bersama Kader Hijau Muhammadiyah, EcoMasjid, Dompet Dhuafa Disaster Management Center (DMC), dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) meluncurkan Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
“Kalau bicara masjid berketahanan, kita tidak hanya berbicara tentang seberapa kokoh bangunannya, tapi juga ketahanan jemaah dan masyarakat sekitar. Ummah for Earth Greenpeace Indonesia bersama tim penyusun melihat ketahanan masjid dalam menghadapi krisis iklim dapat dibangun melalui pengetahuan, gotong royong, penggunaan instrumen ZISWAF terhadap lingkungan, serta aksi nyata yang dilakukan jamaah dan warga sekitar,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama RI (SIMAS), terdapat 710.739 masjid dan musala yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Aktivis Kader Hijau Muhammadiyah, David Efendi, mengatakan banyaknya jumlah masjid berpotensi menjadikannya sebagai tempat penerapan nilai-nilai Islam yang ramah lingkungan.
“Saat ini, Muhammadiyah mengelola 12.000 masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Kami menyadari bahwa masjid sendiri bisa menjadi ruang untuk membangun kesadaran lingkungan dalam beribadah sehari-hari. Dari seluruh masjid yang dikelola Muhammadiyah, kami berusaha menjadikan setiap aktivitas di masjid mulai dari wudhu, sholat, penggunaan listrik, pengelolaan sampah, hingga menjaga kebersihan adalah kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai Islam yang ramah lingkungan,” kata David.
Aktivis lingkungan hidup dan Pendiri EcoMasjid, Hayu Prabowo menambahkan bahwa menanamkan nilai-nilai lingkungan dalam kehidupan sehari-hari bagi pengelola masjid dan jamaahnya merupakan bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah fi al-ardl diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengemban amanah dan memakmurkan bumi.
Selain itu, upaya memobilisasi jamaah dan komunitas untuk melakukan aksi iklim setiap hari juga merupakan bagian dari upaya kita untuk saling membantu dalam kebaikan dan memakmurkan masjid, terutama di tengah ancaman krisis iklim yang berdampak besar pada kehidupan kita sehari-hari, kata Hayu.
Tak hanya soal fungsi masjid sebagai ruang edukasi lingkungan hidup, masjid yang kerap dijadikan tempat evakuasi pertama pascabencana juga harus memiliki bekal dalam menghadapi bencana. Terutama bencana iklim yang saat ini semakin sering terjadi. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan 99,26 persen bencana yang akan terjadi pada tahun 2025 merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Bencana-bencana tersebut merupakan akibat dari aktivitas manusia yang memicu perubahan iklim yang sedang terjadi.
Mengingat pentingnya unsur tanggap bencana di lingkup masjid, maka Pusat Penanggulangan Bencana Muhammadiyah (MDMC) turut berkontribusi dalam panduan ini untuk memberikan bekal bagi pengurus masjid, jemaah, dan masyarakat sekitar ketika terjadi bencana iklim. Pasalnya, masjid kerap dijadikan tempat pengungsian sementara untuk menyalurkan bantuan kepada para korban setelah bencana mereda.
Salah satu contohnya adalah Masjid Haji Gumerman di Katingan, Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan tersebut memaksa pengurus masjid memanfaatkan ruang masjid sebagai rumah oksigen bagi para korban kabut asap, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya. “Pemanfaatan ruang masjid untuk kebutuhan penanggulangan bencana membuktikan bahwa masjid dapat berperan dalam mengatasi dampak krisis iklim, terutama bagi mereka yang paling terdampak,” ungkapnya.
“Dengan membekali masyarakat masjid dengan pengetahuan dan keterampilan tanggap bencana, kami berharap masjid dapat lebih siap menghadapi bencana, lebih tanggap dalam merespons bencana, dan mengurangi risiko bencana,” kata Shofa Qudus, Ketua DMC Dompet Dhuafa.
Selain kerentanan terhadap bencana, kerentanan ekonomi juga menjadi permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam situasi bencana dan krisis iklim. Bagi umat Islam, dana dan aset Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) – yang berada di masjid dan aksesnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga – juga berpotensi mendukung proyek ramah lingkungan dan tanggap bencana yang berkelanjutan. Misalnya melalui Zakat Hijau (Zakat Hijau) dan Wakaf Hijau (Wakaf Hijau).
Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas mencakup berbagai bahan yang dibutuhkan masjid untuk bersiap menghadapi dampak krisis iklim. Mulai dari dasar-dasar aksi iklim, manajemen bencana, hingga penggunaan instrumen keuangan syariah dan pengembangan sumber daya manusia masjid.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






