BANDASAPULUAH.COM –
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan Baitul Arqam bagi Dosen Tetap Nonstruktural sebagai upaya memperkuat pemahaman dan menegaskan kembali komitmen dosen terhadap nilai-nilai, filosofi dan jati diri Muhammadiyah.
Penguatan ini penting mengingat peran dosen di perguruan tinggi muhammadiyah tidak hanya sebatas kegiatan mengajar dan membina mahasiswa saja, namun juga sebagai representasi nilai-nilai dan gerakan muhammadiyah dalam menjalankan tugas profesinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang diikuti sekitar 140 peserta ini dilaksanakan pada Senin (12/10) di Hotel Convention & Dormitory Prime UMY. Baitul Arqam mengangkat tema “Memperkuat Komitmen Mewujudkan Budaya Organisasi yang Progresif”.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan pentingnya penguatan ideologi dan budaya organisasi bagi tenaga pengajar di lingkungan Perkumpulan. Menurutnya, Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan Islam telah berkembang menjadi sebuah gerakan besar dan mendapat kepercayaan masyarakat, termasuk di tingkat global.
Oleh karena itu, para dosen Muhammadiyah perlu terus memantapkan pemahamannya terhadap agama, ideologi, dan sistem muhammadiyah agar dapat menjalankan peran pendidikannya sekaligus mewariskan nilai-nilai persatuan kepada generasi mendatang.
“Sistem yang baik masih ada kelemahannya dan kita terbuka dan terus membenahi dan melakukan perbaikan. Jadi organisasi harus memperbaharui, melakukan reformasi. Dan sistem yang hebat ini biayanya mahal,” kata Haedar seraya mengajak seluruh civitas akademika UMY untuk terus memperbaiki dan menyelaraskan sistem ideologi Muhammadiyah.
Sementara itu, Rektor UMY, Achmad Nurmandi, mengatakan UMY yang kini memasuki usia ke-46 harus terus meningkatkan dan menjaga semangat perjuangan yang telah dibangun sejak awal berdirinya. Menurutnya, kemajuan yang diraih kampus berslogan “Young Globally” ini tidak lepas dari perjuangan panjang berbagai pihak.
“Sampai saat ini alhamdulillah posisi kita sangat baik. Artinya dosen yang bergabung tidak dalam situasi pengorbanan (wis kepenak),” kata Nurmandi.
Namun ia mengingatkan, prestasi dan kenyamanan yang telah dialami jangan sampai membuat para dosen dan pimpinan universitas kehilangan semangat untuk terus berkembang. Kemapanan, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melakukan perbaikan.
“Tapi jangan terlena dengan kenyamanan dan stabilitas. Kalau dalam situasi seperti itu kita merasa aman, damai, tenteram, seolah-olah dunia tidak berubah, maka kita dalam bahaya,” tegasnya. (Bisma)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






