BANDASAPULUAH.COM –
Tokoh gerakan Syahganda Nainggolan membeberkan alasan dibalik perubahan posisi politiknya, dari sebelumnya mendukung Anies Baswedan di Pilpres hingga bergabung di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Syahganda kini dipercaya oleh Prabowo sebagai Kepala Badan Komunikasi Indonesia (Bakom) dan dilantik pada 2 Oktober 2026. Pergantian jabatan ini menimbulkan pertanyaan publik karena sebelumnya Syahganda dikenal sebagai salah satu pendukung Anies.
Dalam perbincangan dengan pakar hukum tata negara Refly Harun yang ditayangkan di YouTube pada 3 Oktober 2026, Syahganda menegaskan pergeseran tersebut bukan karena fanatisme terhadap tokoh politik atau kepentingan pragmatis.
Ia menyebut dirinya sebagai “aktivis intelektual” yang sejak tahun 1980-an konsisten mengangkat isu-isu agraria, buruh, petani, nelayan, dan masyarakat miskin kota.
“Saat Anies mencalonkan diri sebagai presiden, saya adalah pendukung Anies karena dialah yang mengangkat tema-tema tersebut. Sedangkan saat itu Pak Prabowo bersama Jokowi, rezim Jokowi saat itu sepertinya kurang peduli dengan isu-isu tersebut, apalagi saya dipenjara oleh rezim Jokowi,” jelas Syahganda.
Menurutnya, dukungan terhadap Anies saat itu merupakan pilihan berdasarkan kesesuaian agenda perjuangan. Pasca pergantian pemerintahan, Syahganda melihat ada peluang untuk membawa agenda tersebut ke pemerintahan Prabowo.
“Saya mendukung Anies saat Anies mencalonkan diri sebagai presiden karena dialah yang membawakan tema-tema tersebut. Sekarang rezim sudah berganti, saya harus melihat ini sebagai peluang agar ide-ide perjuangan buruh, tani, dan nelayan bisa menjadi agenda besar,” jelasnya.
Salah satu momen yang disebut-sebut menjadi poin penting perubahan pandangan Syahganda adalah pertemuan tertutup di kediaman Prabowo di Kertanegara, Jakarta Selatan, pada 31 Januari 2026.
Syahganda mengatakan, pertemuan tersebut hanya dihadiri delapan tokoh. Beberapa di antaranya adalah Sjafrie Sjamsoeddin, Said Didu, Abraham Samad, Siti Zuhro, dan Susno Duadji.
“Saat itu tanggal 31 Januari 2026 di Kertanegara. Saya di sana hanya delapan orang, bersama aktivis. Ada Sjafrie Sjamsoeddin, Said Didu, Abraham Samad, Siti Zuhro, dan Susno Duadji,” kata Syahganda.
Dalam pertemuan tersebut, Syahganda mengaku melihat langsung bagaimana Prabowo menerima masukan dari para aktivis. Pengalaman tersebut semakin memperkuat pandangannya bahwa masih ada ruang untuk menyampaikan agenda perjuangan dari luar sistem pemerintahan.
Syahganda juga menilai Prabowo pasca pemilu menunjukkan karakter politik yang berbeda dibandingkan saat masih di pemerintahan sebelumnya.
Baca Juga: Selamatkan Dr Tifa dan Roy Suryo, Kepala Bakom Syahganda Ungkap Lobi ke Kalangan Prabowo
“Pak Prabowo sendiri kembali ke jati dirinya, setelah pemilu terlihat bahwa dia sebenarnya Garuda, dia sebenarnya singa, dia macan, bukan semut (semut/bawahan) Jokowi. Semakin lama semakin terlihat. Saya senang mendukungnya karena ide perjuangan saya cocok dengan idenya,” jelas Syahganda.
Kini, melalui Institut Besar yang didirikannya, Syahganda mengaku mengambil posisi di “lingkaran pinggiran” kekuasaan. Dari posisi tersebut, ia mengaku ingin terus memberikan masukan berbasis data sekaligus memastikan agenda kesejahteraan ekonomi yang inklusif dapat diimplementasikan dalam kebijakan pemerintah.
Bagi Syahganda, mengubah posisi politik bukan berarti meninggalkan agenda yang selama ini diperjuangkannya. Ia menilai pergantian pemerintahan merupakan momentum untuk mencari ruang baru agar gagasan mengenai kepentingan buruh, petani, nelayan, dan masyarakat miskin dapat masuk dalam agenda kebijakan negara.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






