BANDASAPULUAH.COM –
Kamis, 1 Oktober 2026 – 19:00 WIB
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jakarta, VIVA –Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) menyatakan belum membahas secara detail skema teknis pengoperasian KRI Sriwijaya-100 untuk mendukung misi pencarian dan penyelamatan (SAR), baik dalam penanganan bencana alam maupun non alam, seperti kecelakaan transportasi.
Akses Badan Kapal Virgo Transport 8 Sulit, Basarnas Ungkap Kendalanya
Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso mengatakan, rencana penggunaan kapal induk tersebut sebagai basis logistik dan operasi kemanusiaan, khususnya misi SAR, masih memerlukan kajian dan pertimbangan operasional yang matang sebelum diterjunkan ke lapangan.
“Belum seperti itu,” kata Edy di Jakarta, Kamis (1/10/2026) menjawab pertanyaan terkait koordinasi teknis penyiapan peralatan operasi pencarian dengan pihak militer.
![]()
57 Korban KM Virgo Transport 8 Masih Hilang, 1.041 Personel dan 63 Penyelam Dikerahkan
Menurut Edy, pengoperasian kapal berukuran sangat besar memiliki kompleksitas dan sejumlah kendala teknis yang perlu diperhatikan.
Pernyataan ini sekaligus merespons wacana optimalisasi KRI Sriwijaya-100 sebagai platform pendukung operasi laut dan udara di wilayah terpencil. Salah satu pertimbangannya adalah pengalaman Basarnas dalam menangani operasi pencarian dan penyelamatan pada fase tanggap darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
![]()
Basarnas Kerahkan Seluruh Tim Cari 64 Korban KM Virgo Transport 8 yang Belum Ditemukan
Meski demikian, Edy mengatakan armada utama SAR serta sarana dan prasarana yang dimiliki Basarnas, TNI, dan Polri saat ini masih memadai untuk menjangkau lokasi bencana di berbagai wilayah kepulauan Indonesia.
“Permasalahan di Sumatera kemarin misalnya, masih bisa dilaksanakan dengan alat utama (alut) yang ada saat ini. Mendatangkan kapal sebesar itu tidak mudah, banyak pertimbangan, antara lain kedalaman wilayah saat mendekati lokasi, kemampuan dermaga, dan lain-lain,” jelasnya.
Edy menambahkan, kedalaman perairan pantai (draft) dan kapasitas dermaga lokal menjadi faktor krusial, mengingat tidak semua pelabuhan di kawasan tersebut memiliki infrastruktur yang mampu menampung kapal-kapal besar.
Meski demikian, Basarnas terus memperkuat koordinasi interkonektivitas udara dan laut antar instansi untuk menjamin efektivitas penanganan bencana pelayaran dan bencana alam di daerah terpencil.
Diberitakan sebelumnya, kapal induk eks ITS Giuseppe Garibaldi resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 melalui upacara penurunan bendera di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026) lalu.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya mengungkapkan KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang diproyeksikan menjadi pangkalan terapung utama dalam percepatan penanganan tanggap darurat bencana di kepulauan Indonesia.
Halaman Berikutnya
Hal ini dinilai sangat mungkin mengingat kapal induk ini juga mampu menampung awak hingga 550 orang, jauh lebih banyak dibandingkan kapasitas KRI Brawijaya-320 yang hanya berkisar 203 awak. (SEMUT)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency






