Semangat Baru Kesatuan Kerabat Kampai Alam Surambi Sungai pagu
Home » Semangat Baru Kesatuan Kerabat Kampai Alam Surambi Sungai Pagu
Budaya

Semangat Baru Kesatuan Kerabat Kampai Alam Surambi Sungai Pagu

Oleh: Yulizal Yunus

Kampai Nan-24 (Nan Duopuluh Ampek) secara historis dipayungi Tuanku Rajo Bagindo/ Rajo Adat Alam Surambi Sungai Pagu, sejak dua tahun terakhir mengaktifkan perkumpulan pertemuan basuo-suo seperti Forum Acara Duduk Basamo (F-ADB) diketuai Syafrizal Dt.Sambayang. Lebih lanjut sudah pula membentuk Forum Komunikasi Pemangku Adat Alam Surambi Sunagai Pagu, sedang dinotariskan diketuai BN Inyiak Majolelo dibantu Ketua-ketua KAN dan melibatkan seluruh pemangku adat.

Minggu 24 Januari 2021 lalu, acara lanjutan F-ADB Kampai 24 itu, dilaksanakan Kampai/Bendang nan-12 di bawuah Pasia Talang pada rumah mandeh kaum Datuk Rajo Batampat, Kampai Tangah Nyiur Gading Nan-8. Direncanakan pertemuan berikutnya 13 Februari. Dalam pertemuan Minggu lalu itu, hadir Jasman Rizal (JR Dt. Bandaro Bendang) pernah Bupati (Pjs) Solok Selatan ketika bersamaan menjabat Kepala Dinas Kominfo Sumatera Barat, yang ia baru saja dilewakan di rumah gadang Bendang Nan-4 pimpinan Inyiak Mjolelo, Sabtu 28 November 2020. Pelewaan itu atas izin Penghulu Suku Kampai Nagari Palangai M.Dt.Rajo Bendang, Sandi Suku Kampai Palangai Sy. Dt.Bandaro Hitam dan Pucuk Suku Kampai Palangai K.Dt. Sari Dano, dengan surat pernyataan yang bermatrai 6000, 20 November 2020, untuk memakai gelar sako “Dt. Bandaro Bendang” Suku Kampai Nagari Palangai.

Kehadiran JR Dt. Bandaro Bendang (penghulu nagari Pelangai) disertai Syafrial Dt. Bandaro Itam Pucuak Kampai Nagari Kambang) dan YY Dt. Rajo Bagindo Pucuak Kampai Nagari Taluk Banda-X, merupakan semangat baru memperkuat persatuan dan kesatuan Kerabat Kampai di Sapiah Balahan/ Pucuak Rantau Alam Surambi Sungai Pagu dan Kapak Radai Banda-X.

Acara F-ADB Kampai nan-24, 12 nan di Bawuah tadi, terkesan efektif memperkuat hubungan silaturrahim (hubungan sekandung/ ibu) internal Kerabat Kampai di Alam Surambi Sungai Pagu dalam asal usul ninik 60 kurang aso (60 ninik -1 ninik = 59 ninik). Ialah Kerabat sapiah balahan asal usul Pagaruyung, baik secara internal di Sungai Pagu, maupun dengan kaum mekaran keturunan ibu di Banda-X fungsi kapak radai sudah jarang sekali berkumpul sekerabat itu. F-ADB ini menyatukan mereka badusanak. Sekaligus F-ADB itu memperkuat hubungan silaturrahmi (hubungan kasih antar) suku (Kampai nan-24 ibu, dengan Melayu 4 nenek, dengan Panai 3 ibu dan Tigo Lareh Nan Bakapanjangan yakni Jambak, Sikumbang dan Caniago) pada Kerajaan Sapiah Balahan Pagaruyung di Alam Surambi Sungai Pagu itu. Kata ketua pertemuan F-ADB, setidaknya berkumpul “bersilaturrahim” dan “bersilaturrahmi”, saling mengenal dusanak dan mempererat hubungan badusanak dalam kampai nan-24 dan dusanak yang di Banda-X Pesisir Selatan sekarang.

Inyiak Majolelo menyelaskan, pertemuan basuo-suo yang diselenggarakan kampai nan-24, 12 di bawuah, adalah sebagai bagian upaya memerlihatkan kekuatan awak, memperkuat kita pemangku adat, untuk melangkah lebih jauh menggali adat, mengembang sejarah asal usul dan sejarah hubungan dengan Kapak Radai Banda-X. Insya Allah kalau sudah dibukan jalan Muaro Labuah – Kambang yang sedang kita usahakan bersama, nanti hubungan dusanak akan menjadi lebih mudah. Namun sebelum melangkah lebih jauh, kita harus memperkuat basis suku kampai nan-24 Alam Surambi Sungai Pagu. Karenanya inyiak Majolelo mengamanatkan kalau boleh pertemuan direncanakan 13 Februari, hadir seluruh ninik mamak kampai-24 setidaknya nan 12 di bawuah, dimulai sesuadah isya, kalau boleh sampai pagi, suapaya lebih lapang berbicang, menggali adat untuk menambah pengetahuan adat yang kita pakai..

F-ADB digiatkan oleh Inyiak Majolelo, Inyiak Bendang Nan-4 (Nan Barampek) sebagai pucuak pimpinan kaum kampai nan-24. Ia menyebut sudah dua tahunan ini F-ADB itu digiatkan. Sebab hampir tidak ada pertemuan lengkap pertemuan pemangku adat dalam Masyarakat Hukum Adat (MHA) Alam Surambi Sungai Pagu, sejak wafat atau tidak ada lagi 4 pucuak adat, yakni 3 rajo 1 Panglimo. Keempatnya itu ialah: (1) Daulat Yang Dipertuan Rajo Disambah (dari Melayu 4 Nenek) sebagai Rajo Daulat di Alam Surambi Sungai Pagu, (2) Tuanku Rajo Bagindo (Kampai Nan-24 ibu) sebagai Rajo Adat/ Ulayat/ Ekonomi Alam Surambi Sungai Pagu, (3) Tuanku Rajo Batuah (suku Panai 3 ibu) sebagai Rajo Ibadat/ Qadhi Alam Surambi Sungai Pagu, serta (4) Tuanku Rajo Malenggang (Suku Tigo Lareh Nan Bakapanjangan: Jambak, Sikumbang dan Caniago) sebagai Panglimo/ Bea Cukai.

Dr. Syafrial Datuk Bandaro Itam Pucuak Kampai di Kambang menyebut sekarang boleh dikatakan, Inyiak Majolelo tidak terbatas dalam kampai nan-24, malah dipercayai memimpin Masyarakat Hukum Adat (MHA). Selama ini panasehat dari 4 pembesar (3 rajo dan 1 panglimo) tadi, karena pembesar nan-4 itu tidak adalagi, penasehat yang naik memimpin. Ia justru mau menggerakkan revitalisasi dan implementasi nilai adat di Alam Surambi Sungai Pagu semenjak raja nan-3 dan 1 panglima tidak ada lagi. Fenomena kehadiran JR.Dt.Bandaro Bendang dari Kampai Nagari Palangai salah satu Banda dari Banda-X, dimulai sejak memangku pjs Bupati Solok Selatan, kata Dt. Bandaro Itam, fenomena ini dipandang Inyiak Majolelo sebagai pemberi semangat baru dalam penguatan kekerabatan terutama dimulai dari suku kampai nan-24 dengan kapak radainya di Banda-X, bahkan memberadayakan (penyadaran kekuatan adat, pembekalan pengetahuan dan pendampingan/ konsultasi/ pasilitasi) komunitas suku-suku dalam payung 3 rajo/ tuanku dan 1 panglimo di Alam Surambi Sungai Pagu tadi.

JR Dt. Bandaro Bendang dalam kesempatan memberi sambutan, menyebut bangga, “kami datang dari Banda-X, tak orang lain, anak kamanakan Alam Surambi Sungai Pagu. Kalau urang Banda-X tak ber-Alam Surambi Sungai Pagu, berarti tidak orang Banda-X itu. Orang Banda-X mungkin lahir, gadang di Banda-X, tetapi kampungnya Alam Surambi Sungai Pagu. Tandanya adalah kami tidak boleh membuat rumah gadang di Banda-X, sebab rumah gadangnya di Alam Surambi Sungai Pagu ini. Sejarah asal usul seperti ini perlu ditulis, ada dusanak kita yang banyak tahu dan menulis sejarah. Kita bangga badusanak di Alam Surambi Sungai Pagu dan bisa bersatu. Kalau bisa bersatu, kalau bertampuk bumi ini kita jinjing. Contoh semangat bagi kaum kita dan kaum suku lain. Kita yakin dalam payung inyiak Majolelo, bisa bersatu duduk bersama seperti ini dilaksanakan kampai-24, 12 nan dibawuah ini, dapat kita manfaatkan untuk menyadarkan kita, membekali kita, mengkonsul kita, terhadap upaya penggalian adat, sejarah asal usul serta hubungan badusanak di Alam Surambi Sungai Pagu dan Banda-X di samping komitmen bersama terus mengurus pengembangan jalan Muara Labuh – Kambang. Artinya kalau kita bersatu, dapat melaksanakan berbagai gagasan, seperti tak kalah pentingnya gerakan ekonomi berbasis kaum ninik mamak diwadahi koperasi. Kalau boleh ada pengalaman 20 tahun di kaum lain, ada gerakan seribu (gebu) tiap bulan ditambah dengan menyisakan dari padi abuan. Hasil disediakan sebagai biaya kaum untuk membantu anak kamanakan ranah rantau dalam melanjutkan pendidikan, mau menjadi dokter, ahli hukum, ahli ekonomi, ahli pendidikan dsb., dan juga membantu modal usaha ekonomi keluarga kaum atau membantu pelaksanaan adat di kaum. Saya kira Koperasi seperti ini boleh kita gerakan, Inyik Majolelo pun sudah menyebut akan membentuk Koperasi Kaum. Insya Allah, saya siap secara berkaum dan pribadi turut membantui bagi kemajuan adat di nagari kita ini”, kata bijak JR Dt. Bandaro Bendang dalam F-ADB 24 Januari 2021 lalu.

Justru JR Dt.Bandaro Bendang, tidak saja sebagai anak Alam Surambi Sungai Pagu yang lahir, besar dan memangku gelar sako kaum Kampai Banda-X di Nagari Palangai, tetapi juga salah seorang pemangku adat di Kampai/ Bendang nan 12 di Bawuah Pasia Talang, Muara Labuh. Ia dilewakan 28 November 2020 yang prosesi batagak galanya itu disaksikan Gubernur Sumbar Prof.Dr. Irwan Prayitno Dt.Rajo Bandaro Basa. Pelewaan itu di atas kesepakatan seluruh ninik mamak Suku Kampai Nan 12 di Bawuah Pasia Talang dibawah payuang Inyiak Majolelo beserta 4 Datuk Bendang nan-4 yakni: Datuk Rajo Alam Nagari, Dt. Bandaro Putiah, Datuk Saidano, dan Dt.Rajo Kobo/ Dt. R.Nago di Kanagarian Pasia Talang Kecamatan Sungai Pagu Solok Selatan dan permufakatan Pangulu pucuak dan sandi kaum Kampai Bendang Palangai (Balai Selasa) Pesisir Selatan.

Kesepakatan seluruh ninik mamak Kampai/ Bendang nan 12 di bawuah Pasia Talang tadi didasarkan atas izin pemakaian gelar sako Kampai nagari Palangai Banda-X kepada JR Dt. Bandaro Bendang dengan surat pernyataan bermatrai, 20 November 2020 oleh Penghulu Suku Kampai Nagari Palangai M.Dt.Rajo Bendang, Sandi Suku Kampai Palangai Sy.Dt.Bandaro Hitam dan Pucuk Suku Kampai Palangai K.Dt. Sari Dano seperti tadi disebut.

Dt.Rajo Alam Nagari menyebut “pelewaan JR Dt.Bandaro Bendang, anak pulang ke induaknya. Tadinya JR Dt. Bandaro Bendang di Nagari Palangai Banda-X, lalu dilewakan gala sakonya pada kaum kampai di Pasia Talang Sungai Pagu, ibarat petatah: dek mujua mandeh malapeh, bak ayam pulang ke pautan. Ia menambah dan penanda lahir semangat baru beradat dan penguatan kaum kampai di Sungai Pagu di samping di Palangai”. Ungkapan ini sejalan dengan apresiasi Gubernur Irwan kepada kaum kampai dan Buapti Solok Selatan yang ketika itu Pjsnya JR.Dt. Bandaro Bendang itu sendiri, bahwa “prosesi adat pelewaan gala sako kaum kampai JR Dt.Bandaro Bendang di rumah tinggi Inyiak Majolelo ini, menandai masih hidup dan terpeliharanya keaslian adat”.

Related posts

Carano

Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Kenapa Kawin Sasuku Dilarang di Minangkabau?

Afrizal

Jampi-jampi Lagan: Antara Tauhid, Mistik dan Sastra

Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo