Home » Bayang ke Arah Serambi Mekkah : Jadi Sentra Pendidikan Islam di Pessel
Sejarah

Bayang ke Arah Serambi Mekkah : Jadi Sentra Pendidikan Islam di Pessel

Bayang, pernah 100 tahun lebih (Perang Bayang, 1663 – 1771) menjadi pusat konsentrasi perlawanan rakyat terhadap Belanda berbasis pada surau dan dipimpin ulama. Surau itu adalah Surau Buyung Mudo di Puluikpuluik, seangkatan dengan Syeikh Burhanuddin murid Abdul Rauf Singkel.

Dimulai dari surau ini, Bayang pernah pula menjadi sentra pendidikan Islam, bahkan menjadi pusat perkembangan Islam di Sumatera Barat abad ke-17 di samping Surau Ulakan, Surau Baru, Sungayang, Padang Ganting dan Lubuk Ipuh.

Sumber yang memberi tahu kebesaran Bayang di samping buku sejarah juga tokoh antaranya Ayah saya M.Yunus T. dan pamannya Sihabuddin malin kitab jebolan Bayang.

Mencermati fakta historis ini dari berbagai sumber ini, Bayang dimungkinkan menjadi Sarambi Makkah di Pesisir Selatan.

Kondisi objektif potensi Bayang ke arah Sarambi Makkah, sebagai gagasan alternatif, didukung fakta sejarah dan perkembanan Bayang sekarang, paradigma nasional dan daerah terutama tentang otonomi daerah, peluang dan kendala dalam lingkungan strategis Bayang.

1. Kondisi objektif Bayang

Bayang secara objektif (riil) dapat dilihat dalam lembaran sejarah dan perkembangan sekarang.

a. Bayang di pentas sejarah perjuangan nasional

Dari pentas sejarah perjuangan nasional dan pengembangan Islam, sebenarnya tidak dapat dilupakan nama besar Buyung Muda di Puluikpuluik (Bayang) yang kemudian dikenal Tuanku Bayang.

Ia berjasa mengembangkan Islam di Minangkabau. Ia bersama teman-teman seperguruannya belajar dengan Syiekh Abdul Rauf Singkel (Aceh), memulai proses perjuangannya dengan mendirikan surau sebagai sentra pendidikan dan pengajian Islam sekaligus surau itu basis perjuangan/ perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Di surau mereka mengajar sesuai dengan keahlian masing-masing, di mana Buyung Muda keahlianya adalah sintaksis Arab (ilmu nahu), sekaligus memotivasi para pejuang melawan penjajah dengan nilai hubb al-wathan mina l-iman (mencintai tanah air bagian dari iman).

Buyung Muda sebelum berguru dengan Syeikh Abdul Rauf Singkel, dimungkinkan ada guru sebelumnya di Minangkabau. Meski tidak banyak informasi tentang itu, namun ada indikasi yang menguat, bahwa Buyung Muda dan kawan-kawannya sebelum pergi ke Aceh telah pernah belajar Islam dari seorang guru yang sama di Mingkabau.

Sebab kalau tidak dengan guru yang sama, tidak mungkin mereka bertemu pada titik yang sama dalam tujuan perjalanan yang sama yakni menuju Aceh.

Diceritakan, dalam perjalanan hidup Syeikh Burhanudin, sebelumnya pernah berguru dengan Syeikh Abdul Arif dikenal dengan Tuanku Madinah, murid dari Syeikh Safiudin Ahmad bin Muhammad Al-Madani Al-Anshari dikenal juga namanya Al-Qushashih. Syeikh Abdullah Arif atau Tangku Madinah itu adalah orang Medinah (Saudi Arabiah), disuruh gurunya mengembangkan Islam tahun 1537.

Ia sengkatan dengan Syeikh Ahmad Al Qushashih. Syeikh Abdul Rauf Singkel ke Aceh mulai mengajar 1539, sedangkan Syeikh Abdullah Arif mengembara mengembangkan Islam pada suatu tempat yang tidak ditunjuk gurunya, tetapi diberi tanda yang cukup rahasia.

Akhirnya suatu tempat yang ditunjukan cirinya itu bertemu yakni dikenal Tapakis (Pariaman) sekarang. Lalu ia mengajar di sana. Karena mengajar di salah satu wilayah Pariaman Syeikh Abdullah Arif ini digelari dengan gelar orang Pariaman, yakni sebagai tokoh agama disebut Tuanku di Tapakis dan sebagai orang Pariaman yang terhormat diberi gelar kehormatan Bagindo.

Dikenallah kemudian dengan Tuanku Bagindo atau Tuanku Tapakis. Diduga, Buyung Muda (Bayang) ahli ilmu bahasa sintaksis dan kawan-kawannya pengembang Islam abad ke-17 yakni Tarapang (Sungayang) ahli bahasa morfologi, Dt. Maruhun Nan Panjang (Padang Ganting) ahli fiqhi dan Muhammad Nashir (Surau Baru Koto Tangah Padang) ahli tafsir, Khalidin (Lubuk Ipuh) ahli tasauf di samping Burhanudin Ulakan (nama kecilnya Pono dari Sintuk) sendiri ahli tasauf, telah belajar Islam pada awal mulanya bersama Syeikh Abdullah Arif di Tapakis ini, dalam waktu yang berbeda sehingga tidak saling mengenal.

Indikasi membuktikan, bahwa mereka punya hasrat yang sama hendak melanjutkan pelajaran dan membawa kaki mereka melangkah menelusuri jalur yang sama lalu berhenti pada titik yang sama, sehingga mereka lima orang bersama-sama meneruskan perjalanan menemui guru yang sama pula yakni Syeikh Abdul Rauf Singkel seangkatan dengan guru mereka sebelumnya Syeikh Abdullah Arif itu.

Sebab kalau tidak seperguruan dan tidak ada petunjuk dari guru yang sama, mustahil mereka mempunyai minat dan langkah yang sama dan bisa bertemu pada tempat yang sama setelah melewati jalur yang sama pula.

Berarti sebelum menemui Syeikh Abdul Rauf Singkel mereka telah mempunyai dasar yang kuat diperoleh dari guru yang pengetahuannya cukup tinggi, bahkan mungkin mereka telah memiliki keahlian, tetapi masih diperlukan menghalusi kaji dengan Syeikh Abdul Rauf Singkel ini.

Dengan bekal ilmu dari guru yang punya pengetahuan dan nama besar tadi, Buyung Muda mengajar di Surau yang ia dirikan di Puluikpuluik, juga di Asam Kumbang, di Kapunjan (Bayang) dll. Surau ini merupakan sentra pengembangan Islam di gerbang selatan Sumatera Barat (Pesisir Selatan).

Banyak orang datang ke pusat pengajian di Bayang ini. Sampai pertengahan abad ke-20 Bayang masih merupakan sentra (pusat) pendidikan Islam. M. Yunus Tara’an (ayah penulis) bersama pamannya Syihabuddin, belajar kitab kuning pada dasa warsa ke-3 di daerh ini.

Khusus Surau Buyung Muda (Tuanku Bayang) merupakan sentra pengembangan dan penyiaran Islam di Gerbang Selatan Sumatera Barat, sekaligus berfungsi sebagai pusat perdagangan.

Seperti itu pula Surau yang didirikan di Koto Tangah Syeikh Surau Baru (Muhammad Nashir), Surau Ulakan Pariaman, merupakan sentra penting dalam penyiaran Islam. Bayang, Koto Tangah dan Pariaman merupakan segi tiga santri, sekaligus transito bandar penting dalam menyalurkan komoditi dan hasil tanaman komersial seperti lada sebagai bahan dagang di Minangkabau ke Pesisir.

Dalam perdagangan jalur maritim (perairan laut) ketika itu yang menjadi rebutan adalah lada di samping emas. Bayang termasuk penghasil lada terbesar, menjadi rebutan Aceh dan Belanda bahkan saling memonopoli dalam perdagangan.

Faktor ini pulalah yang merupakan indikator pemicu proses sengketa antara Aceh dan Belanda berebut pengaruh dan saling hendak menguasai pantai barat Sumatera umumnya, termasuk Minangkabau mengambil peran di Bandar-X (wilayah perairan Pesisir Selatan) yang juga merupakan rantau Minangkabau.

Melihat gejala ini Minangkabau mengkonsolidasi diri dan membuat taktik dan strategis baru. Sri Maharaja Alam Alif yang dipertuan Pangaruyung ketika itu menghubungi Panglima Aceh di Ulakan, karena pantai timur dan pantai barat Sumatera telah dikepung oleh pengaruh Islam termasuk luhak nan tigo (Agam, 50 Kota dan tanah datar) atau Daerah Minangkabau.

Yang dipertuan Pagaruyung memeluk Islam dan menyusun pemerintahan sesuai dengan sistem pemerintah yang dinaungi pengaruh Islam, sehingga terbentuklah pimpinan yang kuat dengan sistim tungku tigo sajarangan dan tali tigo sapilin, yakni Pemerintah Tri Sila (Tigo Selo).

Ketiga pemimpin itu Rajo Alam di Pagaruyung mengurus soal administrasi pemerintah, Rajo Ibadat di Sumpur Kudus, mengurus masalah-masalah keagamaan (Islam) dan Rajo Adat di Buo menegakkan hukum adat dan mengurus masyarakat adat.

Pemerintah mereka dijiwai dengan filsafat adatnya, adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, syara’ mengato adat mamakai.

Dengan sistim pemerintah tigo selo dan pelaksanaan adat mengikuti ajar Islam, maka kerajaan Pagaruyung menjadi kerajaan Islam, berdiri kokoh selama 3 abad (abad ke-16 – abad ke-18). Sebagai kerajaan yang kuat, selalu mendapat ancaman dari luar dan dalam, terutama sekali ancaman Aceh dan Belanda.

Terbukti betapapun kuatnya Kerajaan Islam Pagaruyung, namun Aceh sejak mencapai puncaknya pada masa Iskandar Muda sekitar tahun 1607-1639, memegang dominasi kekuasaan di pantai barat Sumatera, termasuk Minangkabau.

Dominasi kekuasaan Aceh ini lambat laun tidak disenangi oleh masyarakat pantai Pesisir. Sebagai konpensasi mereka mebuat taktik pura-pura bermain mata dan pura-pura ingin berdamai dengan Belanda.

Belanda terpancing, serta merta tertarik dengan sikap masyarakat ingin berdamai. Sebetulnya keadaan seperti itu yang diharapkan Belanda. Sebaliknya Belanda tidak pula tahu, itu hanya sekedar taktik dan main mata, yang pada perinsipnya masyarakat benci kepada Belanda.

Belanda diperlukan untuk menghadapi Aceh yang sudah tidak menyenangkan lagi. Antara Aceh dan Belanda sering prontal baik dalam kepentingan ekonomi dagang lada, maupun kepentingan politik saling ingin berkuasa.

Dalam upaya mengambil hati rakyat Belanda melalui tokohnya Groenewegen politisi dan diplomat muda hebat VOC, banyak mengambil prakarsa, pura-pura menguntungkan rakyat, tetapi sebetulnya menguntungkan dagang lada monopoli Belanda.

Di Bayang ketika itu pengaruh dagang dan pengaruh penyiaran Islam berpangkal di Surau Buyung Muda. Sentra pendidikan Islam dan dagang ini disegani Belanda. Selain itu Bayang adalah daerah harapan Belanda sebagai produsen lada terbesar.

Hasil pasokan Belanda, Bayang melever lada antara 5000- dan 6000 bahar ke negeri Belanda. Produksi dan ekspor lada ini Belanda ingin meningkatkannya. Prakarsa ini diambil oleh Groenewengen melaksanakan strategi pengembangan kawasan tanaman andalan lada di Bayang.

Kredit lunak bahkan tanpa bunga diturunkan Groenewengen kepada rakyat. Kredit ini dibagikan tanpa setahu atasannya di Batavia.

Namun betapapun cerdiknya diplomat muda VOC ini, nasibnya bisa seperti bajing, sekali waktu gawa juga, ia terpeleset dan jatuh, pun dimakan rakyat.

Kredit yang dibagikan untuk peningkatan tanaman lada gagal total. Kredit yang diterima rakyat tidak digunakan sepenuhnya untuk peremajaan dan pembuatan baru kebun lada, tetapi sebaliknya kapas yang dilarang Belanda, justeru itu pula yang mereka tanam.

Bahkan, yang lebih pedih pula, uang kredit itu digunakan untuk berdagang, sekaligus biaya menentang Belanda secara diam-diam, di samping menentang Aceh dengan menggunakan jasa Belanda.

Akibatnya lada yang diharapkan Belanda tidak jadi bahkan gagal total. VOC merasa hati terluka perih diberi lada. Kapas yang tidak diharapkan, kenyataannya itu yang menjadi (diproduk) dan hasilnya melimpah. Akibatnya, mempunyai dampak terhadap pemasaran tekstil Belanda dan kandas di pasar sehingga menumpuk di pulau Cingkuk, sebuah pulau di mulut teluk Painan itu seperti yang telah dijelaskan dalam pembicaraan sebelumnya.

Groenewegen marah sekali, kreditnya gagal. Kredit ditagih dengan keras kepada rakyat. Tapi jangankan lada yang dapat sebagai pembayar kredit, bahkan setiap kali ditagih yang dapat hanya jawaban, tinggi gunung seribu janji / memang lidah tidak bertulang.

Bahkan yang sangat menyakitkan pula, rakyat tidak mau lagi sejak itu berdagang menjual ladanya kepada Belanda, tetapi beralih kepada orang Jawa dan Cina, karena kalau lada dijual kepada Belanda, pasti uang tidak akan dapat, diduga lada dibawa Belanda, uang tidak dibayar tetapi langsung dipotong untuk penutupi/ pembayar kredit.

Tetapi hanya satu yang masih melegakan Belanda, rakyat seperti tidak bersikap bermusuhan dengan Belanda, meskipun sikap itu pura-pura, sebagai kekuatan bawah tanah, memikat prihatin Belanda untuk melumpuhkan Aceh.

Aceh ketika itu masih memperkuat kekuasaan di pantai pesisir. Maka rasa tidak puas rakyat berada pada puncaknya. Rakyat membuat perjanjian yang dipimpin raja-raja pesisir dengan Belanda, secara rahasia.

Perjanjian rahasia ini diadakan di sebuah tempat agak tersembunyi berbentuk sebuah pulau kecil di muka pantai Batangkapas, tahun 1662, ada yang menyebut di Taluk Kasai dan ada yang menyebut di Taluk Tempurung.

Hadir tokoh masyarakat Bandar-X, berhimpun di Batangkapas yang dikenal kekuasaan Sidi Rajo yang digelari Belanda dengan Rajo Rampok .

Rupanya perjanjian rahasia itu bocor dan sampai di Tiku ketika Panglima Belanda datang ke sana. Sebagai tindak lanjut hasil perjanjian itu dibicarakan kembali di Painan dihadiri wakil Salido, Painan, Indrapura, Tiku dan Padang.

Sialnya perjanjian itu bocor lagi. Isinya diketahui Panglima Aceh di Pariaman, sehingga pantai pesisir dikawal ketat oleh Aceh. Bahkan Aceh membuat strategi ingin memutus jalur dagang pelabuhan penting Indrapura, Tiku dan Pulau Cingkuk, dan mengalihkan ke Pelabuhan di Aceh.

Sungguh pun perjanjian Batangkapas yang kemudian dikukuhkan di Painan yang kemudian dikenal dengan kontrak Painan hasilnya tetap dibawa ke Batavia (Jakarta), oleh wakil pesisir selatan dan utara bersama pimpinan VOC Groenewegen, tanggal 26 Maret 1663 (Agus Yusuf, 1986).

Isi perjanjian itu secara essensial : pertama, perdagangan lada dan emas hak monopoli VOC (seuah kepura-puraan yang memicu kemarahan Aceh). Tetapi kepura-puraan itu dikhawatiri jadi preseden buruk, tidak banyak dipahami sebagai taktik dan strategi memancing kemarahan Aceh.

Sehingga terjadinya pro dan kontra terhadap perjanjian yang kontroversial itu. Bahkan ada yang menuduh Painan (Pesisir Selatan) benar-benar memihak dan menjual bangsa kepada Belanda. Yang kontra (menentang) perjanjian beraksi mendekati Panglima Aceh dan yang menyetujui perjanjian seperti memihak Belanda.

Intinya ketika itu bagaimana bisa menggunting Belanda di kelipatan sendiri. Ternyata secerdik-cerdik Belanda melaksanakan politik adu dombannya secerdik itu pula rakyat pantai pesisir mengadu Belanda dengan kekuasaan Aceh di pantai pesisir ini.

Tipu Aceh pun dilumpuhkan strategi rakyat pesisir. Dari fenomena perjanjian itu, Belanda seperti dapat angin, lalu Yacob Groenewengen berpeluang membangun kantor dagang kayu di Painan dan Salido.

Dari pulau Cingkuk, pimpinan VOC ini memilih tinggal di Salido. Melihat keadaan ini, menurut Agus Yusuf, Panglima Aceh mundur dari Salido pertanda keadaan genting.

Sa’at Aceh mundur itu, rakyat yang terkonsentrasi di Bayang segera berbalik arah menentang Belanda terang-terangan. Sidi Naro yang digelari Belanda Rajo Rampok (kemudian mendapat kuasa di Batangkapas, makamnya masih terdapat di tengah pasar dari Pasar Kuok ibu negeri Batangkapas.

Tidak banyak informasi Sidi Naro berkuasa setelah raja Batang Kapas Raja Lele Garam, yang seangkatan dengan masa pemerintahan Muhammad Syah di Indrapura), ikut mengempur Belanda dan berpihak kepada Bayang.

Mendengar Bayang siap-siap menggempur Salido yang diperkuat Sidi Naro, penduduk ketakutan dan mengungsi ke pulau-pulau sekitar termasuk kepulau Cingkuk dekat benteng Belanda.

Benar saja tanggal 7 Juni 1663, Bayang yang mempunyai sense of bolonging serta kuat memiliki solidaritas primordialis yang berbobot wawasan kebangsaan dan dibakar oleh semangat jihad Islam, mencintai tanah air bagian dari iman, yang digerakan dari pusat pendidikan surau Tuanku Bayang, tidak lagi mengasih ampun Belanda.

Bayang menyerang Salido tempat kedudukan Groenewengen pimpinan VOC itu. Perang Bayang pertama meletus, pasca perjanjian Painan.

Di pihak lain seperti di Batangkapas yang tadinya berpura-pura berteman dengan Belanda (disebut Sandiwara Batangkapas) dengan indikasi adanya perjanjian dengan Belanda sebagai cikal bakal Perjanjian Painan, serta merta orang Batangkapas berontak ikut membantu Raja Adil dari Majunto dekat Indrapura, menyerang kerajaan Indrapura yang dipimpin Muhammad Syah.

Raja Adil yang tadinya tidak tahu lalu menentang perjanjian Batangkapas, meningkatkan aksinya menyerang Muhammad Syah yang memihak Belanda. Kekuatan Raja Adil selain di bantu Raja Batangkapas Raja Lela Garam, diperkuat pula barisan Raja Kambang.

Tetapi seperti perang Bayang 1663, Raja Adil, meskipun semua daerah yang baru saja takluk di bawah Indrapura berpihak kepadanya, namun Raja Adil akhirnya tidak berkutik.

Karena tadinya Sultan Muhammad Syah di Indrapura seperti duduk di atas bara meminta bantuan VOC di pulau Cingkuk. (N.St Iskandar 1981:133).

Ketika Belanda repot mempertahankan kepentingannya bidang ekonomi (dagang) dan politik, kompeni seperti tidak ditakuti lagi. Pimpinan VOC hilir mudik dari pulau Cingkuk ke Padang, terus ke Koto Tangah. Dari Koto Tangah tergopoh-gopoh pula ke Padang terus ke Pulau Cingkuk.

Orang ketika itu sudah boleh ketawa, Belanda seperti singa ompong tak bertaring, piutang tak bakal berbayar. Apabila ketika itu Padang bergolak pula, terpaksa pimpinan VOC mengambil hati rakyat, supaya jangan berpaling haluan.

Yang lebih berbahaya pula tersiar berita Utara dan Selatan akan segera menyerang, yakni dari Bayang dan pantai pesisir utara (mulai dari Padang dan Pariaman), yang lebih menakutkan pula berita bahwa Pauh akan menggempur.

Benar saja dari selatan meletus lagi Perang Bayang 1678, hampir saja Bayang merebut Salido, kalau tidak dibantu kekuatan meriam Belanda di sana.

Tapi, 1703 Bayang kembali menggempur dan berhasil merebut Salido dan memukul Belanda mundur ke pulau Cingkuk.

Demikianlah selanjutnya perang Pauh yang dapat melumpuhkan Belanda dan hancur berantakan. Perang Bayang (gerakan dari Selatan), Perang Pauh (gerakan dari utara dan timur), jelas-jelas dimotori semangat juang jihad fi sabilillah (di dalam jalan Allah) dan diyakini bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.

Semangat seperti ini dihembuskan dari kekuatan tiga tungku sejarangan dan tali tiga sepilin, yang melancarkan jurus ekonomi (dagang) politik (membela negara), agama (menyiarkan Islam) dari tiga sentra pendidikan yakni surau Buyung Muda di Puluikpuluik, Surau Baru Koto Panjang Koto Tangah dipimpin Syeikh Muhammad Nashir menjdi basis Pauh serta surau yang paling besar adalah surau Ulakan dipimpin oleh Syeikh Burhanuddin.

Tiga tokoh ini dahulunya seperjuangan juga sama-sama mengaji dengan Syeikh Abdul Rauf Aceh, pulang ke Minang tahun 1640 M. Perjuangan mengembangkan Islam dan membela tanah kelahiran, merupakan kerja mulia, yang tidak ringan berbasis di Surau Buyung Muda di Bayang, Pesisir Selatan.

Dengan demikian surau ini membentuk barisan yang kokoh pula dari satu surau ke surau yang lain. Surau Buyung Muda mempunyai jaringan hubungan tungku tiga sajarangan dengan surau Syeikh Supayang (Syeikh Muhsin, Supayang, Solok) dan Surau Baru Koto Tangah dengan Surau Tarantang membawahi 60 suru kecil-kecil.

Pada sisi lain dengan surau Ulakan dan Surau Buyung Muda ini, tiga Surau: Buyung Muda (Bayang), Tarantang Koto Tangah (Padang) dan Supayang (Solok) saling berhubungan. Masing-masing daerah itu menjadi basis strategis.

Koto Tangah dan Pauh merupakan pelabuhan transito Minangkabau, khususnya dari Kubung Tigo Baleh. Bayang (Puluikpuluik, Asam Kumbang, Kapunjan dll) merupakan pusat perdagangan di pesisir dan merupakan pusat penyiaran Islam terbesar seperti Ulakan dan Koto Tangah, terutama penyebaran Islam ke Kubung Tigo Baleh (Solok).

Karena Bayang lewat Asam Kumbang merupakan jalur pedalaman dalam perdagangan dan tempat transito pedagang ke Kubung Tigo Baleh yakni memintas di Alahan Panjang (Solok), insya Allah sebagai tapak sejarah jalan ini sekarang sedang digerakan pembangunannya kembali.

Jaringan Surau Buyung Muda di Bayang ini bercabang ke Supayang (Solok) dan Syeikh Supayang sering berulang ke Surau Bayang ini. Selain itu Surau Baru dengan Surau Tarantang di Koto tangah yang membawahi 60 surau kecil mempunyai cabang pula di Bayang dan di Supayang.

Surau Terantang yang merupakan surau tarekat dan induk dari 60 surau Minangkabau dan diperkuat Surau Bayang yang bercabang ke Supayang, banyak melahirkan para ulama dan muballigh. Dari sini memancar cahaya agama tidak saja di Minangkabau tetapi juga ke daerah lain di Nusantara, bahkan keluar negeri.

Daerah lain di Nusantara seperti Sulawesi dan Ambon. Ke Sulawesi ada 3 Muballigh, yakni Abdul Makmur Khatib Tunggal dikenal dengan Datuk Ri Bandang (wafat di Makasar), Khatib Sulaiman disebut Datuk Ri Patimang (menyebarkan Islam ketanah Lawu dan meninggal di Patimang/ Lawu) dan khatib Bungsu dikenal dengan Datuk Ri Tiro mengajar di Tiro Bulu Kumba (Mahmud Yunus 1979 : 24-26, banding Saifuddin Zuhri 1981 : 424-432). Ketiga Ulama ini Mattulada (19 : 14-26) dari catatan lontar, berasal dari Koto Tangah. Peranannya besar terutama Datuk Ri Bandang, meletakkan sendi syari’at Islam dalam masyarakat Bugis. Makasar yakni di Goa, Bone, Wajo dan Soppeng ( A.A Navis 1983 : 127).

Tidak saja di Sulawesi dan Ambon saja, tetapi Islam menyebar ke Brunai Darussalam setelah Serawak (Malaysia Timur) bahkan sampai ke Mindano (Philipina), karena orang Minangkabau dan dibantu Bugis kuat menjadi pelopor pegembangan Islam (Hamka 1976:69).

Di Sumatera Barat sendiri pengaruh Surau Puluikpuluik Bayang dan Koto Tangah serta Supayang ini tidak sedikit pula melahirkan ulama besar dan mengembangkan Islam sekaligus mendirikan sentral pendidikan terutama di daerah mereka masing-masing.

Demikian pula tiga tungku sejarangan Surau Buyung Muda, Syeikh Ulakan dan Surau Baru Koto Tangah, merupakan pusat penyiaran Islam ke seluruh wilayah Minangkabau dari pantai barat Sumatera. Buyung Muda dari Gerbang Selatan dan Ulakan dari Gerbang Utara, Surau Baru dari Utara dan Timur, Sumatera Barat.

b. Bayang hari ini

Bukan saja pernah meraih nama besar, sebenarnya Bayang tetap saja punya nama besar dan punya potensi besar dalam SDM dan SDA. Menyimak SDM Bayang sepanjang sejarah, masih terkesan basis lahirnya tokoh agama dan pemimpin bangsa. Di Pesisir Selatan pun Bayang sangat diperhitungkan dalam kepemimpinan daerah.

Pulangnya Darizal Basir dan bersedia memimpin daerah sebagai Bupati, bukan suatu kebetulan, tetapi karena ketokohannya dan didukung niat ikhlasnya rela mengabdi di daerah, meski harus meninggalkan kesempatan emas dan karirnya di papan atas dalam militer di perantauan.

Justru kalau dari segi kerelaan pengabdiannya itu, pantas diacungkan jempol kepadanya dibanding dua tokoh misalnya seorang tokoh nasional yang kemudian menjadi pahlawan Nasional yakni Ilyas Yacub yang banyak berkiprah di luar, kemudian tokoh pejuang penuh moral abad ke-20/ pahlawan Pendidikan Agama Islam yakni Syeikh Muhammad Dalil bin Muhammd Fatawi (1863-1928) kelahiran Pancuang Taba (Bayang) juga banyak berjuang di Padang dan bermakam di Padang di Mihrab Masjid Ganting.

Di pilar ekonomi misalnya dengan potensi alam, jangankan lahannya yang amat potensial subur, sejak dulu dikenal menghasilkan lada, Bayang yang cukup mewarnai pasar lada internasional, bahkan alamnya juga menyisakan potensi keindahan panorama alam aset pariwisata kelas dunia seperti pemandian Welkun, air terjun ekor kuda, batu puti di pantai Apiapi, mitologi rakyat Gadih Basnai, jembatan aka yang termasuk ajaib di dunia dengan sejarahnya juga bernuansa agama, dll.

Di pilar budaya dan agama, adat masyarakat masih amat kuat dan tradisi beragama sangat kental. Indikasinya perhatian perantau kuat membangun pusat keagamaan seperti Madrasah Al-`Arabiyah disponsori putra Bayang Afdhil, juga merupakan kondisi objektif Bayang mendukung kemajuan Bayang ke depan.

Potensi seperti ini bila dapat dimanfaatkan, didukung pardigma daerah dan dihadirkan dalam peluang-peluang sebagai hasil cermat dari lingkungan strategis daerah, way not (kenapa tidak) Bayang bisa menjadi Serambi Makkah.

2. Paradigma Bayang

Bayang ingin memasuki paradigma baru, sebagai sarambi Makkah. Paradigma ini akan didukung paradigma kembali ke nagari bersamaan dengan 36 nagari di Pesisir Selatan. Paradigma ini merupakan implementasi dari UU 22/ 99 dan UU 25/ 99, Perda Sumbar No.9/2000 dan 8 Perda Pesisir Selatan Tahun 2001 tentang Nagari.

Halaman:

Related posts

Peserta Pilkada Pesisir Selatan 2020

Afrizal

Peserta Pilkada Pesisir Selatan 2010

Afrizal

Kala Pendukung Menolak Putusan Hukum Pilkada Pessel

Afrizal