Ilustrasi jampi-jampi lagan
Home » Jampi-jampi Lagan: Antara Tauhid, Mistik dan Sastra
Budaya

Jampi-jampi Lagan: Antara Tauhid, Mistik dan Sastra

Hadirnya jampi-jampi secara sosiologis ada kaitanyan dengan sikap budaya masyarakat tradisional pedesaan dalam pola hidup sehat, sejahtera dan aman.

Sikap budaya hidup sehat penduduk pedesaan itu dipolakan dalam konsep-konsep tentang penyakit, konsep esksistensi (keberadaan) manusia dalam macro cosmos di samping konsep sebab akibat dari tindakan baik atau buruk.

Jampi-jampi mempunyai kekuatan magis dan super natural, berada pada dua alam, yakni alam nyata dan metafisik. Penggunaannya bagi masyarakat tradisional secara antropologis sosiologis adalah dalam fungsinya sebagai penawar kehidupan agar hidup sehat, sejahtera dan aman.

Secara aplikatif dalam prakteknya jampi-jampi benar saja berfungsi sebagai alat penolak bala, alat tangkal kekuatan ghaib, penyembuhan berbagai penyakit, alat pakasih (ajian pemikat yang dicintai), alat peningkatan produksi dan alat meraih kembali sesuatu yang hilang.

Melihat fungsi jampi-jampi ini yang secara substansial ada esensi kepercayaan, mistik menyarati bacaan sastra jenis mantra dalam penyembuhan penyakit misalnya, merupakan manifestasi dari kecenderungan sikap budaya hidup sehat yang tidak sepenuhnya percaya kepada cara pengobatan modern (cara medis).

Analisa ini beralasan dengan ditemukannya konsep religio-magis dalam penyembuhan berbagai penyakit dalam masyarakat tradisional. Pengobatan dalam konsep religio-magis ini masyarakat tradisional dominan di pedesaan menggunakan sarana dan cara sendiri dalam penyembuhan.

Cara dan sarana itu dalam penyembuhan penyakit sering berorientasi penggunaan;
(1) fasilitas-fasilitas seperti lambang berwujud jimat dan jampi-jampi,
(2) sumber daya alamiah menggunakan ramuan obat pribumi yang tradisional
(3) teknologi dalam bentuk keterampilan pijat dan sembur, serta
(4) barang-barang penyembuh lainnya.

Khusus pengobatan dengan penggunaan jampi-jampi itu oleh masyarakat tradisional sebenarnya mempunyai esensi kepercayaan yang dimungkinkan berakar dari tauhid, mistik dan esensi sastra jenis mantra yang mempunyai kekuatan magis. Di sini menariknya buku ini menjadi materi kajian ilmiah dalam bidang Tauhid dan kaitannya dengan Sastra dan Mistik.

Jampi-jampi yang diteliti Drs. H. Bakri Dusar ini di Lagan, Ranah Pesisir, Pesisir Selatan ini, sekarang masih banyak digunakan masyarakat dalam mempertahankan eksistensi dan berbagai kepentingan serta kebutuhan kehidupan masyartakat setempat.

Di Lagan, kata Bakri, masyarakat masih menggunakan Jampi-jampi untuk:
(1) kesehatan seperti mengobati orang sakit, umpamanya mengobati kumbu (diserang rasa dingin luar biasa), mengobati luka bakar, menghentikan kucuran darah sa’at terluka, mengobati sakit perut, mengobati orang tasapo (ditegur hantu jahat/ digangu makhluk halus), digigit binatang berbisa dll.
(2) untuk ketahanan diri dan pengaman hidup seperti menimbulkan keberanian umpamanya pengantar darah, pitunduk (menundukkan orang), pidareh (membuat orang berani), menjadi tungganai (orang yang mampu menjinakkan) harimau dan menangkal serangan binatang buas, gayuang (guna-guna untuk membuat lawan lumpuh, sejenis santet), memelihara tonggak tua (tiang utama) atau pemagar rumah dari kedatangan tamu tidak diundang (pencuri) dsb.,
(3) untuk pemeliharaan dan peningkatan produksi ekonomi pertanian (pangan dan ternak, perikanan) seperti untuk menangkal serangan hama padi (umpama pianggang, wereng, hama babi, tikus, serangan kemarau), mengobati ternak yang terluka, patah dan penyakit lainnya, pitunang memanggil ikan melalui alat tangkapnya,
(4) alat santet seperti gayuang (membuat lawan lumpuh, sakit bahkan mati), untuk gabaji (menimbulkan kebencian terhadap pasangan),
(5) untuk pemikat seperti fungsi pakasiah/ pitunang (menimbulkan rasa sayang/ dicintai) dan pitunang menangkap ikan dengan alat tangkanya seperti bagan, pukat, kail dll.

Dalam penggunaannya jampi-jampi Lagan ini diperlengkapi dengan peralatan tambahan seperti cincin, gelang, senjata tajam dan lain-lain. Alat-alat ini dijampi-jampi, agar mempunyai kekuatan magis.

Dalam melunakkan hati seseorang untuk dapat dicarikan jodoh dengan pakasiah misalnya, jampi-jampi diperlengkapi dengan alat-alat tambahan. Juga dalam mencari barang hilang dengan perantaraan setan/ iblis, berdo’a dengan memberi sesajian di tampat (tempat-tempat yang dianggap keramat dan sakti) dll., kadang bisa membaca mantra dan do’a-do’a yang tidak Islami.

Alat-alat perlengkapan Jampi-jampi Lagan itu dapat berbentuk ramuan. Ramuan itu bervariasi, seperti air dan minyak, tetumbuhan obat di antaranya sitawa, sidingin, sikumpai, siriah, pinang, kemenyan, daun jarak, kelapa hijau, asam (limau) puruik dll.

Di samping itu juga ada benda lain seperti benang 7 warna (disebut benang pincono) untuk alat gandun (jimat) sebagai penangkal yang diikatkan ke badan, telur, ayam putih. Namun ada pula jampi-jampi yang tidak disertai dengan ramuan, seperti do’a pitunduak, pidareh, gayuang, menundukkan harimau.

Pada perinsipnya Jampi-jampi Lagan sarat dengan esensi kepercayaan, apakah berakar dari nilai tauhid atau tidak namun yang jelas berkaitan dengan religo-magis. Nilai yang berakar dari ketauhidan, terlihat dalam bacaan-bacaan sastra mantra dan memasuki dunia mistik yang punya kekuatan magis.

Di antaranya bacaan sastra dalam bentuk mantranya banyak dimulai dengan keyakinan kepada Allah dan keesaannya (tauhid), ditandai dengan membaca basmalah dan di akhirnya sebagai kabulnya mantra dipatri dengan ucapan “tahlil” yakni “la ilaha illallah.

Selanjutnya: Selain itu juga ada yang berakar dari ayat Al-Qur’an….

Halaman:

Related posts

Semangat Baru Kesatuan Kerabat Kampai Alam Surambi Sungai Pagu

Afrizal

Carano

Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Kenapa Kawin Sasuku Dilarang di Minangkabau?

Afrizal