Home » Mending ke Perpustakaan Sekolah daripada ke Gedung Perpustakaan Umum Daerah Pessel
Catatan Perjalanan

Mending ke Perpustakaan Sekolah daripada ke Gedung Perpustakaan Umum Daerah Pessel

Menjelang habis masa jabatannya, Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni meresmikan tiga gedung baru milik pemerintah setempat dalam kurun waktu sehari.

Hendrajoni meresmikan gedung tersebut secara maraton, pada Senin (15/2). Dimulai dari gedung Perpustakaan Umum Daerah kemudian dilanjutkan dengan gedung paru RSUD dr. M. Zein dan terakhir gedung rawat inap Puskesmas Asam Kumbang.

Ketiga gedung itu dibangun dengan pagu anggaran Rp 19,1 Miliar. Berasal dari Dana Anggaran Khusus (DAK) dan Dana Anggaran Umum (DAU). Khusus untuk gedung perpustakaan umum daerah dibangun dari DAK dengan pagu anggaran Rp 10 miliar.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip, Pesisir Selatan, Drs. Mawardi Roska, menyebutkan, Gedung Perpustakaan Umum Daerah ini terdiri dari ruangan perpustakaan konvensional, ruang perpustakaan digital, studio mini, tempat berselfi dan menikmati sunset, ruang layanan anak (rumah pintar), pentas literasi, ruang serba guna serta ruang kerja pegawai bidang perpustakaan.

Ruang layanan anak (rumah pintar) merupakan ruangan yang melayani kunjungan anak TK dan PAUD Se-Kecamatan IV Jurai serta kunjungan insidentil dari TK PAUD kecamatan lainnya.

Hal ini dibangun dengan tujuan agar anak dari dini sudah dibiasakan dekat dengan perpustakaan. Di rumah pintar ini, anak anak belajar sambil bermain main dengan menggunakan alat peraga edukasi (APE).

Pengalaman ke gedung Perpustakaan Umum Daerah Pesisir Selatan

Saya berkesempatan mengunjungi gedung baru ini beberapa hari sebelum diresmikan. Sebab, sebelum diresmikan gedung ini telah dibuka untuk umum.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk menambah referensi saya terkait hal yang bertalian dengan Pesisir Selatan. Baik itu, sejarah, budaya, pariwisata dan sebagainya.

Ketika itu, ruang perpustakaan konvensional berada di lantai dua. Di lantai dua ini juga terdapat ruang kerja pegawai perpustakaan. Disini pula saya berkewajiban untuk mengisi buku tamu dengan digital. Tak perlu lagi pena. Cukup diketik di keyboard, otomatis akan diucapkan “selamat datang.”

Buku yang ada disana cukup sedikit sekali dan tidak lengkap. Hanya ada 6 rak buku, seingat saya. Rak itupun sudah usang. Tapi tak apa, baru atau lama pun tak jadi masalah.

Buku yang adapun berkisar satu ribu. Sangat sedikit untuk perpustakaan sekelas kabupaten. Buku di perpustakaan SMA dan SMP saya dulu jauh lebih banyak dari yang ada disana. Apalagi buku yang di perpustakaan kampus saya, UNP.

Okelah, kita lupakan tentang jumlah atau kuantitas buku. Tak masalah sedikit buku tapi buku tersebut berkualitas. Baik dari segi isi maupun bahan.

Akan tetapi, buku yang ada disana hampir sama dengan buku yang ada perpustakaan SMA dan SMP. Bukan pula buku baru, tapi buku yang telah bertahun-tahun dipakai agaknya. Sekali lagi, tidak masalah.

Kembali ke tujuan awal datang, saya bertanya kepada pegawai perpustakaan disana tentang buku yang bertalian dengan Pesisir Selatan. Sang petugas mengarahkan saya ke rak dengan kode 900-an. Alangkah terkejutnya, ketika sampai disana. Saya diarahkan ke buku pelajaran sejarah SMP dan SMA. Kalaulah tau begini, lebih baik saya ke perpustakaan SMA dan SMP saja.

Lupakan masalah buku, sebab referensi bukan saja buku. Bisa arsip dan juga foto. Dengan 6 rak buku itu, tidak saya temukan satupun koleksi foto pejabat dan arsip surat-surat terdahulu.

Seharusnya disana dimuat juga foto-foto pejabat terdahulu. Biar tau pula saya seperti apa “roman” bupati terdahulu baik masih bernama Pessel maupun Pessel Kerinci. Ataupun foto ketua DPRD sebelum Ermizen.

Mengenai arsip surat-surat tidak juga ditemui. Apakah berbeda pula tempatnya, saya tidak ketahui juga. Sebab papan informasi tidak ada disana. Kalaulah ada arsip-arsip surat-surat terlebih surat yang dikeluarkan bupati, tentu saya tau pula seperti apa lekukan pena sang bupati.

Satu yang hampir lupa, pengawasan pegawai terhadap pengunjung kurang. Anak-anak yang masih menempuh pendidikan SD bukannya membaca buku malah asyik bermain game online. Berkerumunan dan tidak memakai masker. Entah tamu atau anak pegawai perpustakaan saya tidak tau.

Kalaulah seperti itu, tentu pembangunan tersebut hanya megah diluar tapi berbanding terbalik dengan isinya.

Mudahan saja, kekurangan itu sekarang telah dilengkapi pasca diresmikan. Dan dalam waktu dekat saya ingin berkunjung kembali.