Home » Hubungan Rantau dengan Kampung Halaman
Opini

Hubungan Rantau dengan Kampung Halaman

Hubungan Tanah Leluhur Inggris dengan para perantaunya

Semenjak Inggris dapat memproduksi kapal-kapal laut banyak dan lebih cepat, maka orang Inggris yang didahului oleh revolusi industri, mereka suka mengembara di dunia.

Mereka merantau ke daerah-daerah yang jauh dari negerinya. Jika bertemu dengan daerah kosong penduduk, mereka membikin koloni (tempat tinggal baru) di situ.

Ketika mereka sampai ke benua Amerika, mereka mengatakan bertemu dengan benua baru. Padahal di sana, ada penduduk pemiliknya yaitu orang Indian.

Sebenarnya bukan daerah baru. Tanah yang seharusnya menjadi milik orang Indian sebagai penduduk disitu, akhirnya menjadi milik orang-orang dari Eropa terutama milik orang Inggris.

Imigran-imigran Inggris itu, akhirnya mendirikan negara yang kemudian sangat terkenal dengan Amerika Serikat. Walau pada awalnya ada sengketa antara perantau (yang tinggal di Amerika karena ingin merdeka) dengan penduduk tanah leluhur di Inggris, namun mereka dapat damai.

Sampai sekarang, keakraban antara perantau dan kampung halamannya tak dapat diragukan lagi. Kerjasamanya tak dapat diragukan pula.

Kemudian para perusuh di Inggris dibuang ke benua baru, yang ditemui J.Cook yang seharusnya menjadi negara buat orang Aborigin, penduduk asli di situ.

Namun akhirnya perantau-perantau sukarela Inggris Raya, semakin banyak datang ke sana, maka kemudian membentuk negara yaitu Australia. Aborigin menjadi penduduk terpinggirkan.

Sampai sekarang, ikuti saja politik dunia betapa pun keadaannya Amerika, Inggris, Australia akan tetap bersatu.

Juga hasil perjalanan Cook, tetangganya yang seharusnya kepunyaan orang Maori, akhirnya menjadi tempat tinggal yang indah, yaitu surga dunianya orang-orang perantau Inggris di tepian Pasifik.

Kini menjadi New Zealand. Antara New Zealand dan Inggris, tak pernah mereka mengalami hubungan yang retak.

Dalam perjalanan sejarah dunia, bangsa Inggris, Amerika, Australia dan New Zealand selalu bersatu yaitu bersatunya antara “orang di kampung” dengan “orang rantau’ pada tingkat dunia.

Karakter Inggris yang berbudaya, yang kita akui berbudaya tinggi, dengan daerah jajahannya pun, terhubung kasih sayang yang bagus. Negara-negara bekas jajahannya bersatu dengan Inggris, dalam “persemakmuran”.

Mereka bersatu membangun ekonomi. Oleh sebab itu, negara-negara bekas jajahan Inggris relatif ekonomi bangsanya lebih baik. Bandingkanlah kita dengan Malaysia.

Hubungan perantau cina dengan masyarakat tanah leluhur

Perhatikan pula Cina. dahulu Taiwan sebenarnya didiami oleh orang asli yaitu Melayu. Yang asli kalah karena begitu banyaknya datang emigran ke Taiwan, sehingga Pulau itu menjadi milik Cina. Kemudian mereka menyebar Merantau ke seluruh pelosok dunia.

Antara perantau dan penduduk kampung halaman, antara keluarga dengan keluarga mereka, sangat akrab. Keluarga rantau dan keluarga di rantau, tetap bersatu dalam usaha dagang.

Akhirnya hampir semua Asia Tenggara dikuasainya, dalam bidang perdagangan. Lihatlah tempat tinggal mereka selalu mengumpul pada tempat strategis dengan jumlah yang relatif banyak.

Cina sangat menjaga hubungan keluarga. Bukan saja keluarga yang masih hidup, keluarga yang sudah mati pun tetap dijaga hubungannya apalagi hubungan orang Rantau dengan orang di kampung halaman.

Perhatikanlah kuburan Cina. Pasti tempatnya berada di tempat ketinggian atau Bukit, sebagai penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal. Di sana dibangun seperti perkotaan, karena mereka menganggap nenek moyang mereka masih hidup cuman tidak punya badan lagi.

Oleh karena itu, mereka membuat perkampungan orang meninggal yang ditata dengan baik, dibersihkan. Karena mereka menganggap bahwa nenek moyang akan tetap datang melihat cucunya.

Mereka masih dianggap hidup tanpa tubuh dan para roh nenek moyang akan ikut memelihara keluarga rumah. Oleh karena itu, di setiap rumah orang Cina selalu ada “hio” yang dibakar di pedupaan setiap rumah tempat menghormat roh nenek moyang.

Oleh sebab itu, orang Cina tetap memelihara hubungan baik antara mereka di tanah leluhur dengan orang di perantauan, antara yang hidup dengan yang telah mati. Maka terciptalah hubungan yang akrab antara sesamanya. Dan dengan cara itu terciptanya kekuatan raksasa.

Barangkali kita punya falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” ,cerita di atas patut dijadikan guru baik oleh perantau maupun keluarga kita di kampung halaman.

Semoga Pesisir Selatan bangun dengan membina kerjasama yang akrab antara masyarakat yang berada di kampung dengan masyarakat yang berada di rantau,begitu sebaliknya, dengan membuang jauh-jauh saling curiga dan mengembangkan etika bardunsanak.

Jangan lagi membuat sekat-sekat saya orang Tarusan, saya orang Surantih, saya orang Air Haji, Saya orang indopuro, dalam frame Pesisir Selatan. Tapi “saya anak Pasisia“, sebab sama nasibnya dalam cemo’ohan “tempo doeloe“, sebagai “orang baruah nan salalu tatingga

Dan orang Rantau janganlah berlagak serba bisa dan serba tahu dan kemudian memandang remeh orang di kampung. Mereka yang seperti itu sama dengan membuang dirinya sendiri dalam penjara pengasingan. Belajarlah dari sejarah, semoga semangat persatuan dan kesatuan tetap terpelihara. Aamiin.

Pernah dimuat di Buletin Forum Lintas Rantau

Related posts

Pro dan Kontra Terkait Pelaksanaan Pilkada 2020 di Tengah Pandemi Covid 19

Afrizal

Otonomi Daerah, Adat Minangkabau dan SKB 3 Menteri

Afrizal

Bumi tidak butuh kita !!!

bandamaster