Home » Menapaki Jejak Sejarah di Pulau Cingkuak
Sejarah

Menapaki Jejak Sejarah di Pulau Cingkuak

Dengan menumpang perahu bermotor tempel, kami berangkat dari Carocok Painan menuju Pulau Cingkuak. Di sana kami temui merek “Benteng Portugis”.

Pendapat kami benteng itu, bukan buatan Portugis. Sebab tidak ada bukti tertulis pada masanya yang mendukung pendapat itu. Bukti tertulis berupa prasasti atau pesan tertulis pada zamannya sangat diperlukan sebagai persyaratan terjadinya suatu peristiwa sejarah untuk pembenarannya.

Catatan sejarah yang dibuat oleh Belanda menerangkan bahwa sejak tanggal 22 Oktober 1662, VOC di bawah pimpinan Groenewegen, menjadikan Salido pusat perdagangan mereka dengan penduduk di pantai barat Sumatera.

Di sana dibangun Loji atau gudang tempat penyimpanan barang. Akan tetapi di sini sering datang gangguan dari Panglima Aceh, saingan Belanda dalam berdagang di Pesisir. Aceh dapat merangkul simpati penduduk Bayang karena satu agama.

Oleh karena kedudukan Groenewegen di Salido merasa terganggu maka ia menyiapkan Pulau Cingkuak sebagai tempat tinggal dan tempat gudang barang-barang dagangan. Mulailah Groenewegen menyerahkan petugas-petugasnya untuk bekerja di sana.

Pada tanggal 30 Oktober 1662, tempat itu siap, maka Groenewegen dan pasukannya pindah ke sana. Mulailah Pulau Cingkuak sejak itu menjadi pusat dagang VOC di pantai Barat Sumatera. Ketika itu banyak pedagang emas dari sungai Pagu datang ke pqulau Cingkuak lewat Salido.

‘Kemudian Groenewegen pindah tugas ke tempat lain, dan kedudukannya digantikan oleh Verspreet sebagai Kepala Dagang VOC di Pantai Barat Sumatera.

*Verspreet membangun benteng, pelabuhan dan sumur bor di Pulau Cingkuak, tahun 1666.*

Pertama Verspreet pada tahun 1666, membuat dermaga kapal di pantai Timur Pulau Cingkuak, untuk memudahkan pendaratan kapal atau perahu.

Pedagang pedagang emas Sungai Pagu, dengan adanya dermaga ini dapat dijemput ke daratan. Dan juga di sana ditempatkan kapal untuk transportasi pasukan pemelihara keamanan perdagangan.

Selanjutnya Verspreet masih pada tahun 1666, membangun loji penyimpan barang dagangan, dengan tiang-tiang tinggi, di tengah-tengah pulau yang ada bukitnya. Serta rumah tempat tinggal, tempat para pengungsi dan pengunjung Pulau Cingkuak, dekat dari Loji.

Untuk melindungi pulau dari serangan dari luar, Verspreet membangun benteng Agak dekat dengan pantai. Gerbang bangunannya menghadap ke Salido. Benteng inilah yang dianggap sementara orang sebagai benteng Portugis. Namun benteng Ini adalah buatan Verspreet tahun 1666.

Beberapa meriam dikatakan ditaruh di sini menghadap dermaga, untuk melindungi pelabuhan. Lihatlah tempat meriam benteng itu di bagian bawah ada lubang melengkung itulah bekas tempat meriam.

Ketika Veerspreet datang ke Pulau Cingkuak hampir tiap hari, ia menyuruh 8 orang kelasi pergi ke Salido untuk mencari air minum.

Maka tahun 1666 itu juga Verspreet membangun sumur bor yang dalam. Sejak itu tak perlu lagi kelasi mondar-mandir ke Salido mencari air. Sumur itu sampai sekarang masih ada.

Siapa Thomas Van Kempen?

Thomas Van kampen bukan orang Portugis. Karena bahasa Belanda kuno yang tertulis pada makam di sebelah benteng, orang mengira itu kepunyaan orang Portugis juga, sebab sedikit ada gaya gaya bahasa bernuansa bahasa Portugal.

Makam itu adalah makamnya istri Thomas Van Kempen, Residen Pulau Cingkuak. Van Kempen bertugas di Pulau Cingkuak sebagai Kepala Dagang dan disebut juga sebagai Residen Pulau Cingkuak dalam abad 18 Masehi.

Ketika terjadi gerakan kemerdekaan orang rantau Inggris di Benua Amerika, perantau Inggris (sebut saja orang Amerika), melawan orang Inggris leluhurnya, dengan tuntutan, berikan kemerdekaan kepada perantau guna membentuk negara sendiri, terkenal kemudian bernama negara Amerika Serikat, dalam abad 18. Negeri Belanda memberikan dukungan terhadap gerakan kemerdekaan itu. Inggris lantas marah kepada Belanda.

London memerintahkan pasukan Inggris di Bengkulu untuk menyerang Belanda di pantai Barat Sumatera dan sekaligus menyita kekayaannya pada tahun 1780 masehi. Dengan menggunakan kapal berbendera Belanda dan Perancis sebagai tipuan, kapal-kapal Inggris mulai menghantam Belanda di Air Haji.

Kepala dagang Belanda Johan Frederik Zugel ditangkap dan dinaikkan ke kapal, bersama uang dan kekayaan lain yang disita. Begitu juga Thomas Van Kempen dan istrinya di Pulau Cingkuak, dikiranya kapal-kapal temannya yang datang sebab bendera Belanda.

Nyatanya orang Inggris menangkapnya dan menyita segala kekayaan yang dimiliki Belanda di Pulau Cingkuak, berupa uang dan benda-benda berharga lainnya. Kapal membawa tawanan dan harta rampasan itu, berlayar langsung menuju Inggris. Pada tanggal 9 Maret 1782, baru sampai di sana.

Namun pada tanggal 24 Mei 1785, terjadi perdamaian Paris atas desakan Perancis. Inggris mengalah. Sehingga isi perjanjian mengatakan bahwa harta benda Belanda yang dirampas beserta tawanan, harus dibebaskan.

Kembalilah VOC Belanda berkuasa di pantai Barat Sumatera, menguasai monopoli perdagangan.

Pemerintahan Belanda menunjuk Hendrik Van Earth menjadi kepala VOC di Padang. Zugel menggantikan Thomas Van Kempen menjadi kepala dagang VOC di Pulau Cingkuak.

Van Kempen tidak mendapat jabatan apa-apa, oleh karena Thomas Van Kempen dan istri terlanjur cinta tinggal di Pulau Cingkuak, maka ia ikut kembali ke Pulau Cingkuak bersama Zugel.

Ny. Van Kempen meninggal dunia di Pulau Cingkuak. Jenazahnya dimakamkan di samping bangunan benteng bagian luar. Pada tahun 1911, anak cucu Ny. Van Kempen berkunjung ke Pulau Cingkuak.

Mereka membangun makam dengan suatu prasasti, yang sampai kini masih dapat dibaca. Dan itulah makam istri Thomas Van Kempen, bekas Residen atau kepala dagang VOC di Pulau Cingkuak.

Kini oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di atas makam itu dibuatkan bangunan beratap guna melindunginya dari kerusakan. Demikianlah tulisan ini semoga menjadi bahan pertimbangan bagi yang berwewenang terhadap objek wisata di pulau cingkuak tersebut.

Sumber :

1. Laporan Controleur Painan, BA Bruins tahun 1936, terjemahan Prof.Abazar Husein, Dosen UN Jakarta

2. Rusli Amran “Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang”, Sinar Harapan, Jakarta, 1981.

  • Agus Yusuf
  • Forum Lintas Rantau No. 33 Tahun VI/2006

Related posts

Kala Pendukung Menolak Putusan Hukum Pilkada Pessel

Afrizal

Peserta Pilkada Pesisir Selatan 2015

Afrizal

Mempertanyakan Benteng Portugis di Pulau Cingkuak

Afrizal