Home » Mempertanyakan Benteng Portugis di Pulau Cingkuak
Sejarah

Mempertanyakan Benteng Portugis di Pulau Cingkuak

Latar belakang Sejarah dalam Leaflet yang mendasari bahwa benteng yang ada di Pulau Cingkuak buatan Portugis, masih berasal dari “berita lisan” yang diperoleh dari tuturan keturunan Raja Alam Sungai Pagu yang berdiam di Batang Kapas.

Kita dapat memaklumi, mengapa “orang sejarah” yang ada di Balai Arkeologi atau di kantor Persemibud Sumbar, dapat menerima keterangan itu. Sebab objek pokok dari sejarah adalah manusia di masa lampau, tentang segala usaha dan aktivitas mereka.

Maka yang menjadi bahan sejarah ialah segala apa yang ditinggalkannya. Masalahnya ada peninggalan, yang dilengkapi oleh suatu keterangan tertulis seperti prasasti, dan ada yang tidak.

Ilmu sejarah mensyaratkan, bahwa peninggalan berupa tulisan, atau berita tertulis pada masanya adalah merupakan bukti terkuat dibanding sumber yang berasal dari berita lisan. Namun tulisan, tidak sejak mulanya ada, bersama-sama dengan keberadaan manusia. Maka berita lisan sebagai sumber, dibiarkan berkembang sangat pesat.

Namun kemudian ternyata banyak ditemukan hal-hal yang tidak masuk akal. Maka dalam abad ke-17 di dunia banyak timbul kritik-kritik dalam hal penulisan sejarah yang demikian oleh pakar sejarah. Kita dapat menyebut nama-nama seperti mobilon, Ernest Berheim, sebagai pendekar-pendekar yang menumbuhkan “disiplin sejarah” di dunia.

Leopold Von Rangke dari Jerman, menegaskan bahwa tugas Sejarah adalah menunjukkan apa-apa yang benar-benar terjadi. Muncullah ketika itu sejarawan- sejarawan dunia yang memperjuangkan sejarah sebagai ilmu, artinya segala apa yang dikatakan itu harus dapat dibuktikan dengan bukti tertulis yang dapat dipercaya, sebagai sumber.

Namun Sejarah adalah cerita manusia masa lalu, yang tak selamanya dapat dibuktikan oleh peninggalan tulisan. Maka disepakati bahwa sejarah jenis ini, yaitu sejarah yang belum dapat dibuktikan peristiwanya oleh bukti tertulis, adalah termasuk seni, Sqeni cerita atau sastra.

Jenis sejarah sebagai seni, dibiarkan berkembang menjelang adanya bukti tertulis. Akan tetapi, jika pada suatu kali, peristiwa dari seni cerita manusia masa lalu itu dapat dibuktikan oleh suatu sumber tertulis, maka sejarah sebagai seni naik tingkat menjadi sejarah sebagai ilmu pengetahuan.

Biasanya jika terjadi perbedaan antara berita yang diperoleh dari berita lisan dengan berita yang telah dapat dibuktikan oleh peninggalan tertulis, maka yang dipakai adalah peristiwa yang telah dapat dibuktikan oleh berita tertulis tadi.

Maka dengan dasar uraian diatas, kita dengan rendah hati bermohon kepada pihak-pihak yang berwewenang tentang cagar budaya Pulau Cingkuak itu, agar Sudi melakukan analisis ulang. Sebagai bahan Analisis untuk mempertimbangkannya, bersama ini penulis Urutkan bukti-bukti tertulis sebagai berikut ini.

1. Buku “Padang Riwayatmu Dulu”, karya Rusli Amran seorang sarjana yang antara lain belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Amsterdam, Negeri Belanda. Sumber tulisan beliau sangat kuat yang diselidiki Selama belajar di negeri Belanda. Dalam halaman 347 ditegaskan bahwa Belanda membangun benteng di Pulau Cingkuak tahun 1664.

2. Berikutnya dalam Memory akhir jabatan BA Bruins, Controleur Painan tahun 1936, penulis temukan di kantor Arsip Nasional Jakarta. Kemudian tulisan itu diterjemahkan oleh Prof. Abazar Husein, dosen Universitas Negeri Jakarta. Sumber penulisan BA Bruins tentang Pulau Cingkuak, adalah dari laporan Von Basel, penulis sejarah terkenal.

Di dalam uraian itu dijelaskan bahwa oleh karena sering terjadi gangguan rakyat Bayang di salido, akibat pengaruh Panglima Aceh, pesaing dagang VOC di pesisir Barat Sumatera, maka mulai tanggal 12 Desember 1662, kedudukan VOC pindah dari Salido ke Pulau Cingkuak menjadi kedudukan utama VOC di pesisir barat pulau Sumatera, di bawah pimpinan Groenewegen.

Ketika itu banyak orang Sungai Pagu datang ke Pulau Cingkuak menjual barang dagangannya, terutama menjual emas kepada VOC. Groenewegen kemudian digantikan oleh Verspreet.

Selanjutnya Bruins mengatakan bahwa, masa Verspreet ini, dibangun benteng di atas bukit (agak di tengah maksudnya) dan deretan rapat tonggak-tonggak runcing, keduanya diperkaya dengan meriam yang mengarah ke depan. Di sebelah timur Pulau Cingkuak ada pelabuhan.

Verspreet selanjutnya membangun Loji baru di Pulau Cingkuak mengganti gubuk-gubuk jerami yang tidak menyenangkan. Juga dibangun sumur bor dan bangunan baru di pinggir pantai untuk mendapatkan angin laut.

kemudian Veerspreet menjadikan Salido kembali menjadi tempat tinggal bersama-sama dengan Pulau Cingkuak, yang digunakan sebagai tempat berdagang, tempat menyimpan barang dagangan, dan sekaligus menjadi tempat mengungsi, jika gangguan datang.

Pada tahun 1667, kedudukan Verspreet digantikan oleh peach dan Pitts. Dan Pitts sekaligus memindahkan kedudukan VOC dari Pulau Cingkuak – Salido ke Padang.

3. Dalam Ensiclopedie Stibe (1939) (penulis memperolehnya dari Arsip Nasional Jakarta) menjelaskan bahwa di Pulau Cingkuak ada satu benteng tua peninggalan Company VOC , tebalnya 50 cm panjang dindingnya yang tersisa dari batu 40 meter ,dan satu pintu gerbang. kemudian dijelaskan pula tentang makam Ny. Van kampen, (meninggal pada tahun 1765) yaitu isteri Van kampen Residen Pulau Cingkuak. Oleh anak cucunya yang berkunjung ke Pulau Cingkuak pada tahun 1911, dibangun makam neneknya dengan suatu catatan atau prasasti di makam tersebut sebagai kenang-kenangan dan sebagai tanda terima kasih terhadap moyangnya.

4. Rusli Amran dalam bukunya “Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang”, halaman 225 mengatakan bahwa ketika Belanda menerima penyerahan Tambang Emas Salido dari yang empunya kepada pits pimpinan VOC pada tahun 1670, banyak orang asing didatangkan ke Salido baik sebagai kuli maupun sebagai pekerja. Namun semua usaha mencari emas itu gagal.

Dari tulisan Rusli Amran itu dapat pula penulis mengetahui bahwa pernah pula VOC mendatangkan dengan jumlah banyak orang-orang keturunan Portugis dari Batavia ke Salido dan sebagian mereka tinggal di Pulau Cingkuak dan sebagian di Salido. Mereka membantu keamanan di tambang oleh karena mereka didatangkan dari Batavia jelas mereka dapat berbahasa Melayu dan dapat berkomunikasi dengan rakyat.

Penulis yakin dari sinilah lahirnya cerita rakyat tentang asal benteng di Pulau Cingkuak adalah buatan Portugis Padahal mereka adalah pegawai VOC.

Malah Lapre Controler Painan pengganti BA Bruins dalam memorinya, juga menyaksikan cerita-cerita rakyat mengatakan asal kata Salido dari Sancta Sleida dan cerita-cerita rakyat lainnya tentang Portugis.

Penulis menyimpulkan sementara, bahwa benarlah tidak ada peninggalan Portugis di Pulau Cingkuak, dan yang benar menurut bukti tertulis yang memperkuat dugaan bahwa benteng di Pulau Cingkuak adalah peninggalan VOC. Namun sebaiknya lah kita serahkan saja hal ini kepada lembaga yang berwewenang untuk mengambil kebijakan tentang cagar budaya di Pulau Cingkuak tersebut agar diperoleh putusan yang benar.

  • Agus Yusuf
  • Forum Lintas Rantau No. 34 Tahun VI/2006

Related posts

IMPPS, IKPS DAN IWPS: Sosio-History Tri-Organisasi Perantau Pesisir Selatan

Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Menapaki Jejak Sejarah di Pulau Cingkuak

Afrizal

Setelah Setengah Abad, Akhirnya Putra Painan Kembali Pimpin Pesisir Selatan

Afrizal