Home » Resonansi Pesta Tahun Baru Berdoa
Opini

Resonansi Pesta Tahun Baru Berdoa

Oleh: Yulizal Yunus

Menadah kelangit dan menembak langit, dua tradisi yang berbeda dalam menyambut tahun baru. Sebuah resonansi tradisi lama, memberi pilihan berbeda pesta tahun 2021 ini. Perbedaan itu yang pasti dilatari kemurnian akidah iman warga masyarakat di samping ada keinginan tampil beda mereka.

Tampil beda dilatari kemurnian akidah iman menyambut tahun baru itu (masehi dan hijrah), mengingatkan saya ide cemerlang Lisda Rawdha dalam mendukung suaminya Bupati Pesisir Selatan Hendra Joni dalam wujud kegiatan pesta tahun baru di Pandopo Rumah Dinas Bupati ketika menyambut perubahan 2016 ke 2017 yang biasa disebut tahun baru masehi itu.

Ia tampil beda dari biasa biasanya, dari menembak langit beralih ke ritual menadahkan tangan ke langit. Menadahkan tangan ke langit wujudnya menampung tangan ke langit dan menundukan kepala berdoa dan dzikir pada Allah SWT. Inti doanya meminta pada Yang DiAtas Yang Maha Kuasa itu, apa yang diperlukan negeri, pemerintahan dan rakyat, Aman Santoso, terutama mengawali tabun baru sebagai sesuatu yang pasti yakni “perubahan” dalam perjalanan hidup sebuah negeri, pemerintahan dan rakyat sepanjang masa.

Tanpa mengurangi semarak dan gembira bersama, karena sudah dirahmati Allah SWT melewati pase perubahan tahun itu, dihiasi dengan nasyid dan salawat. Oleh Lisda Hendra Joni ibu Pesisir Selatan itu sebagai Ketua TP PKK sekarang anggota DPR RI ketika itu ditampilkannya Nasyid Asmaul Husna dan Tim Salawat Ibu-ibu PKK binaannya sendiri. Justru ia mantan pramugari cantik pesawat kepresidenan ini yang punya multi talenta ini juga punya bakat dalam dunia tarik suara yang diketahui piawai bernyanyi. Ia sudah memiliki album yang banyak disukai, tak ketinggalan turut menghiasi acara dengan suara emasnya yang disukai banyak kalangan.

Menarik, kata Lisda Rawdha kepada wartawan, kita ingin memberikan warna yang berbeda dalam malam pergantian tahun di Pesisir Selatan. Mudah-mudahan dzikir dan doa menadah tangan pada Allah SWT ini menginspirasi dalam pembentukan tradisi positif pesta penyambutan tahun baru berikutnya”.

Ternyata ide Lisda 3 tabun lalu memang menginspirasi. Beberapa daerah mengubah tradisi lama. Ada pesta pantai ditutup dan kembang api sepi. Berbeda dari biasanya. Pesta penyambutan tahun baru diakhiri pada jam nol:nol, terdengar ledakan dan langit merah, aksi menembak langit disebut pesta kembang api. Aksi itu tak jauh dari panggung hiburan malam.

Menembak langit siapa nyana langit marah. Ya adakalahnya langit menyirami bumi dengan guyuran hujan lebat dan bumi menjadi banjir, bencana mengancam semua. Kadang bumi menjadi panas, hujan tak turun, malah langit ditutupi awan kabut memicu asma. Mata hari bagai bola merah menggelantung di langit bumi bagaikan melotot marah, dan memicu bencana.

Boleh jadi perbandingan memilih menadah langit menampung tangan berdoa dan berdzikir atau tetap menembak langit mencat merah langit. Pilihan sudah barang tentu yang terbaik. Saya kira ide Lisda Rawdha tadi menarik dan menginspirasi untuk alternatif pilihan terbaik menyambut tahun baru.

Selamat memasuki tahun baru, yang pasti itu perubahan dalam hidup kita, semoga tahun 2021 ini kaya hari baik kutiko elok dan mita melayari lautan kehidupan yang damai.

Related posts

Ranawa, Nama Anak Kedua Raffi Ahmad dan Nagita Slavina

Riri Tri Utami

Siapa Alang Palabah? yang Katanya Kakek Buyut dari Hendrajoni

Afrizal

Hubungan Rantau dengan Kampung Halaman

Afrizal