Home » “Runtuh Sebelum Berdiri”
Sastra

“Runtuh Sebelum Berdiri”

Waktu untuk Shalat Jumat telah tiba, agak mendung langit siang ini , sinar matahari tak dapat menembus awan yang menggumpal, sepertinya sore ini hujan akan turun membasahi tanah yang kering penuh debu ini.

Lantunan ayat suci mulai terdengar dari sebuah masjid yang berdiri tepat di tengah kampung , seolah-olah membelah kampung ini sama panjang dari Utara ke Selatan dan dari timur ke barat, jaraknya kira-kira 200 meter dari rumah saya , terlihat jelas  walaupun agak tertutup oleh pohon “rumbio” di tengah hamparan sawah, alangkah lebih baik bila kita berjalan kaki saja menuju masjid , selain jaraknya yang dekat saya ingin pula mengajak tuan menikmati perjalanan menuju masjid melewati pematang sawah yang saya rasa tuan belum pernah melakukan perjalanan seperti ini seumur hidup tuan.

Agaknya kita harus bergegas menuju masjid tuan, jam dinding sudah mengarahkan jarum panjang ke angka 12, kira-kira hanya 20 menit lagi khatib akan naik mimbar, menyampaikan khotbah dalam bahasa Arab kepada jamaahnya. Sedari saya masih kecil masjid ini tidak pernah memberikan khotbah Jumat dalam bahasa Indonesia apalagi dalam bahasa Minang , hal ini mungkin telah menjadi bagian dari aliran Syattariyah.

Sebelum melalui pematang sawah , tuan harus berjalan di atas tanah yang berkerikil yang panjangnya kurang lebih 50 meter. Jalan ini merupakan jalan lingkar di kampung saya yang dibangun 2 tahun yang lalu. Jalan ini hanya beralaskan kerikil yang ditimbun tanah  tidak pernah di beton apalagi di aspal. “Sungguh, jika tidak saya menjadi Wali Nagari rupanya takkan di beton jalan ini ” begitu yang sempat terpikir oleh saya seperti perkataan Tuanku Muda Kacak saja dalam Film Sengsara Membawa Nikmat yang mana orang takut dan segan kepadanya karena ia adalah kemenakan tuanku Laras  , orang yang di megahkan di kampung karena pangkat dan derajat nya . Setelah melewati jalan yang berkerikil  ini barulah tuan akan lewat  di selah2 hijaunya padi yang ditanam 2 Minggu lalu. Berjalanlah tuan dengan hati-hati agar tuan tidak tergelincir di tengah pematang sawah yang dapat mengotori baju tuan yang bersih dan bersanding itu.

Tak lama berjalan , tak terasa pula bahwa kita telah sampai di pintu  Samping Masjid. Tak perlu berlama-lama masuklah kami ke dalam rumah Allah ini, dengan hati yang bersih dan niat yang suci kami langkah kan kaki  ke dalam  masjid . Setelah berada di dalam  masjid,  sebelum duduk kami melaksanakan Shalat tahiyatul Masjid sebagai wujud penghormatan terhadap masjid, karena sebagaimana yang di ajarkan guru saya ketika kecil  hal itu sepadan dengan ungkapan salam ketika masuk ke suatu tempat, sebagaimana seorang yang memberi salam kepada sahabatnya ketika bertemu. Setelah melaksanakan Shalat tahiyatul Masjid sambil menunggu beberapa saat akhirnya beduk itu ditabuh tanda masuknya waktu Shalat Jumat.

Tak seperti biasanya , setelah beduk di tabuh berbicaralah seorang tua dengan baju serba putih dan sorban putih yang digunakan untuk menutup kepala sambil menoleh ke kiri dan ke kanan ” Assalamualaikum , kepada Hadirin Jumat yang berbahagia, seusai melaksanakan Shalat Jumat ini   ,jangan ada yang langsung pulang hendaknya karena kita akan bermusyawarah  untuk mencari kata Mufakat perihal suatu perkara, bagaimana kira2 itu Jang, apakah kita sepakat untuk tidak langsung pulang selepas Shalat Jumat ini, dan duduk bersama  sambil bermusyawarah terlebih dahulu ?” Kata orang tua itu sambil melempar pertanyaan kepada orang tua yang duduk  di saf ke tiga   , dengan nada yang tenang akhirnya pertanyaan itu di tangkap oleh orang tua itu sambil  berucap ” Apa yang Uda sampaikan tadi , kami di pihak sini akan mencari kata  seiya  , oleh sebab itu maka berilah waktu kepada kami untuk merundingkannya” dengan menoleh ke kiri lalu ke kanan dan bertanya ke depan dan ke belakang akhirnya seorang tua itu kembali berkata “Setelah sama dilihat dan sama di dengar , kami dari pihak sini mengatakan sepakat, kata kami pulangkan kepada Uda” kata orang tua itu sambil tersenyum . Setelah menemukan kata sepakat akhirnya orang tua yang berpakaian serba putih itu kembali berkata “Karena Semua yang hadir pada majelis ini telah sepakat, maka kami ucapkan terima kasih”. Dan setelah ucapan terima kasih itu keluar dari mulut tua itu , maka berdirilah khatib untuk  mimbar guna menyampaikan khotbahnya. Dengan Naiknya Khatib tadi ke atas mimbar maka kami pun melaksanakan Shalat Jumat dengan Khidmat sampai selesai.

Setelah selesai menunaikan Shalat Jumat , tidak ada satu pun dari jamaah yang keluar dari pintu Masjid, agaknya tak ada yang mengingkari janjinya yang telah mengatakan sepakat sebelumnya, semua duduk bersila membentuk sebuah bundaran. Ada yang bersembunyi dibalik tiang masjid ,ada pula yang bersandar kepada dinding masjid, mereka duduk sesuai dengan keinginan mereka dimana mereka merasa nyaman di dalam masjid itu. Setelah jamaah duduk berdirilah seorang gharim sambil membawa beberapa asbak rokok yang letakkan di depan jamaah yang duduk. Setelah diletakkan asbak rokok tadi , maka di bakarlah rokok yang berada di dalam kantong baju atau celana para jamaah. Amat Cair suasana siang itu, mendung yang menghiasi langit pun telah leleh diganti oleh terik matahari yang bersinar dengan terangnya. Sejurus dengan itu maka berbicaralah seorang tua dengan topi hitam di kepala , baju koko berwarna abu2 dengan kain sarung bermotif kan petak-petak .Orang tua itu membuka rapat dengan bahasa Indonesia dengan logat Minang yang kental terasa, dengan kata pujian, shalawat dan juga kata penghormatan yang panjangnya menjela jela serasa sampai ke lantai, akhirnya masuk pula orang tua itu pada pokok permasalahan, yaitu mencari kata Mufakat perihal Pendirian “Tonggak Tuo” di tengah Masjid ini. Seorang tua yang biasa di panggil “Katik” ini memaparkan bahwa permintaan pendirian Tonggak Tuo ini berasal dari kaum ibu yang prihatin melihat masjid ini ,karena masjid ini satu-satunya masjid di Nagari kami yang tidak memiliki Tonggak Tuo. Katik ini pun menambahkan “telah jauh rantau di tempuh ,telah banyak yang tampak oleh mata memang masjid kita inilah yang tidak memiliki Tonggak Tuo ” katanya meyakinkan jamaah. Setelah berkata yang demikian maka disambung kembali  kata yang terputus tadi sambil menghadap kearah seseorang tua yang duduk tepat di depan tiang masjid “Oleh sebab itu, kami dari pengurus ingin meminta pandangan daripada yang hadir ini, setuju atau tidak apabila Pendirian Tonggak Tuo di Masjid kita ini, bagaimana Din?”
“Sampai tik? Apa yang Katik  sampaikan itu?” Kata tua yang bernama Udin tersebut

“Sampai Din” kata Katik dengan pendeknya

“Kalau begitu , kami disini akan mencari kata sepakat terlebih dahulu” kata Udin sambil bertanya ke kiri dan ke kanan ” Setelah kami rundingkan, maka ada usulan dari pada kami yang duduk disini untuk menunda terlebih dahulu pembangunan tonggak Tuo , lebih baik di ganti genteng terlebih dahulu karena lihatlah genteng masjid kita yang berwarna warni tapi sayangnya tak seindah pelangi tak elok dipandang mata dan bila ada lagi dana yang berlebih kita keramik lantai di beranda masjid ini, itu kira-kira pendapat kami yang duduk disini , mungkin yang duduk di pojok sana ada pendapat yang berbeda dengan kami” kata Udin sambil memandang seorang yang lebih tua daripada nya yang duduk menyandar di dinding masjid.

Dengan arah pandangan yang tepat tertuju padanya itu , seorang tua itu pun berkata ” Maaf sebelumnya kepada sidang Jumat yang hadir pada siang hari ini, sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan yang turun temurun dari orang tua sebelum kita, tonggak Tuo ini bukan sekedar untuk kemegahan masjid ataupun untuk tiang penyangga masjid namun lebih daripada itu bila kita tidak mendirikan tonggak Tuo ini kita akan dikutuk Al Qur’an 30 juz oleh para tetua kita yang terdahulu “di atas tidak berpucuk di bawah tidak berakar ditengah digigit kumbang  ” kata tua itu memaparkan dengan tenang . Lalu melanjutkan kembali apa yang ia bicarakan “Agaknya kutukan itu telah berlaku pada masjid ini, lihatlah kepengurusan masjid ini yang kacau balau semenjak masjid ini direnovasi dengan menghilangkan tonggak Tuo, maka menurut hemat saya pendirian Tonggak Tuo ini yang di utamakan” kata seorang tua itu mengakhiri bicaranya”.
Mendengar hal yang demikian maka berkatalah Udin kembali “Memang benar yang Uda katakan itu , tapi melihat perkara ini ada lebih baiknya bila kita mendahului apa yang kita butuhkan daripada yang kita inginkan, apa yang kita inginkan itu adalah hawa nafsu , dan hawa nafsu itu sampai langit yang kedelapan pun tidak akan pernah terpenuhi kalau lah ada langit yang kedelapan, lagipula usulan ini kita dapati dari pada kaum ibu yang mana apabila kita turuti permintaan dari pada kaum ibu itu tidak akan ada baiknya, bukan kah telah banyak contoh yang bisa kita ambil dari hal yang sudah-sudah”

Mendengar hal yang demikian maka timbullah dua kubu yang pro dan kontra akan pendirian Tonggak tua, semua teguh dengan pendiriannya masing-masing. Tidak ada yang mengalah , suasana yang semula tenang akhirnya mulai ribut . Pemimpin rapat pun mulai sulit mengendalikan situasi Melihat perdebatan yang demikian sengit maka berbisiklah saya kepada tuan yang saya ajak ke masjid ini “Tuan ,alangkah lebih baiknya kita pulang saja dahulu,  karena menurut hemat saya perundingan ini akan berlangsung lama , saya takut nanti tuan akan terganggu urusan tuan, lagi pun ini bukanlah ranah kita, ini forum yang tua-tua kita hanya pelengkap saja di sini” kataku sambil meyakinkan beliau “tidaklah apa, mungkin kita sudah ditakdirkan untuk hadir di sini, mana tahu nanti pendapat kita yang muda-muda ini dibutuhkan di sini, lagi pula aku sudah lama tak mengikuti rapat orang-orang tua yang seperti ini” katanya sambil berbisik kembali ke telingaku
“Manalah mungkin tuan, kita yang masih “mudo matah “ini akan diminta pandangannya? Umur yang belum setahun jagung, darah  kita pun kata mereka belum setampuk pinang, apa yang tahu? jangankan di minta , memberikan pandangan pun kita mungkin tidak di dengarkan, budak sigha apo nan katau?” Kataku dengan membantah
“Aikh, sebegitu kesalkah engkau pada orang yang tua-tua yang duduk di hadapan kita ini? Hingga kau berputus asa demikian rupa? Hilang asa dalam jiwamu untuk menyampaikan ide-ide cemerlang untuk membangun Nagari ini yang lebih baik?”
“Aku bukanlah kesal, aku hannyalah bosan tiap kali menyampaikan pendapat yang tak pernah di indahkan , bukankah mereka tahu generasi kita saat ini adalah penerus dimasa mendatang? Dengan mereka bersikap demikian bukankah menghilangkan kepedulian kita untuk membangun Nagari ini karena sifat dan sikap mereka yang mengedepankan ego dan tak mau kalah oleh para kawula muda ?”

“Ah, belum tumbuh sudah engkau siangi . terlampau Arif diri binasa , kurang Arif badan celaka. Engkau terlampau Arif dalam hal ini, rupanya sebelum tonggak tuo ini berdiri rupanya pandanganmu kepada orang tua di kampung ini telah runtuh , bukan kah orang tua itu tempat kita bermufakat, meminta nasehat ?lalu apa gunanya tonggak Tuo di dirikan apabila sandaran  kaum muda kepada yang tua telah hilang?oleh sebab itu  duduk lah disini baik2 kita dengar saja apa yang mereka bincang kan lagipula siang ini urusanku tidak banyak betul , setakat satu jam dua jam tidak masalah aku duduk disini”

Mendengar perkataan tuan yang demikian , akhirnya luluh juga keegoisan yang ada pada diri saya ini. Apa yang dikatakan tuan ini memang benar adanya , orang tua di kampung ini memang selama ini  saya anggap tidak bisa untuk bersandar , tempat berlindung . Disini letak ke egois an saya , rupanya ilmu yang saya pakaikan selama ini adalah ilmu senter , melihat kaum tua itu yang egois rupanya diri saya lah yang egois.

Related posts

Pematah

bandamaster

Pupus

bandamaster

Kumpulan Puisi Ketum Impplisba

Afrizal