Home » Angin Kenangan
Sastra

Angin Kenangan

Masih ku pandang pulau ditanah seberang , awan yang menggumpal tak dapat di tembus sinar matahari sore, ombak yang menggulung nampak jelas dari kejauhan, Angin laut menggoyangkan Pohon kelapa yang menari kekiri dan kekanan , angin laut itu pun berbisik di telinga ku namun tidak memberi ku kesan , hampa  seolah tidak pernah menyapa.

“Bal, apa yang kau pikirkan?” Suara lembut itu masuk ke telingaku , sontak membuat aku tersentak dalam lamunanku.
“Tidak ada , hanya memandang ombak yang menari-nari saja sambil melihat mentari terbenam meninggalkan kita”
“Benarkah?” Kata wanita yang membangunkan aku dari lamunan itu sambil memandangi ku nyata-nyata ” jujur saja , tidak perlu di tutupi , tidak ada kata untuk di dustai , jangan lah kemunafikan diri, sudah lama kita berumahtangga , tindak tanduk dan sifatmu sudah ku pahami betul”
“Hmmm” aku regup hawa di tepi pantai ini sedalam dalamnya, agar aku lebih merasa bersatu dengan kehidupan yang indah ini ” ca, sebab kau adalah Istri ku maka apa yang kau katakan tadi itu adalah suatu kebenaran, yang tidak dapat dibantah-bantah”
“Hahahaha” garis bibirnya yang indah itu pun mulai tergores senyum bahagia, nada bicara nya mulai mencemooh ” oh suamiku, orang macam engkau pun pandai melamun ? Apakah yang kau lamunkan? Lalu pada siapa lamunanmu itu tertuju?”

Pertanyaan yang bernada cemoohan itu tidak ku sahut dan kujawab , aku  hanya  mengangkat kedua bahu saja. Aku diam dan ia diam pula dan kami pun diam. Angin dari laut itupun menyapa kami. Dan kemudian dia berkata “Aku ada sesuatu untukmu! Mungkin kau akan terkejut melihatnya”
Aku masih tinggal dalam diamku , hanya mengangkat kedua alisku . Lalu ia raba-raba dadanya sebelah kiri. Mangambil sesuatu didalam bajunya. Dan ia mulai bicara lagi
” Ini dia!”Sambil mengeluarkan sebuah foto yang tak asing lagi bagi diriku. Kuamati betul foto yang terlihat samar-samar itu, setelah melihat dengan sungguh-sungguh baru insyaf lah aku akan foto itu. Foto kenangan ketika aku masih  menempuh pendidikan di SMA ,waktu muda dulu ,sekitar usia tujuh belas tahun .

“ah, kenapa foto itu kembali kau keluarkan?” Kataku yang mulai kesal “setiap tahun selalu foto itu kau gunakan untuk membully ku ,tak bosankah memperlakukan aku demikian?”
Dia tak menjawab pertanyaan ku , selain hanya menggores kan senyum di bibir nya yang indah itu. Aku pun tak memaksa nya menjawab karena aku tahu ini telah menjadi tabiatnya tiap tahun.

Aku layangkan lagi pandangan ku pada foto yang ada ditangannya, foto itu seolah membawaku kepada yang kenangan yang silam seperti angin laut yang datang lagi menerpa mukaku, angin yang berhembus itu lewat tiada berkesan dan aku merasa diriku tiada larut  dalam lamunan yang lebih dalam. Makin kupandang makin terkenang , makin kupikirkan makin susah. Makin jauh kenangan itu membawaku padahal aku tau dengan memikirkan foto yang ada ditangan istri ku itu hasilnya hanya sedih dan pilu,padahal nasibku tak akan berubah, tetap begini juga dan Ica tetap  istriku sekarang tak mungkin wanita yang ada dalam foto itu.

Foto yang ada ditangannya itu adlah foto diriku bersama seorang wanita  ketika aku duduk di bangku SMA. pandangan ku berpaling dari foto itu lalu aku memandang lebih jauh   melampaui pulau di tanah seberang , sejauh aku larut dalam kisah indah yang tak mungkin terulang kembali . “Dan tak mungkin terulang Dan tak boleh terulang” kataku dalam hati.

“Teringatkah engkau kepada Maylan?” Kata Ica yang membangkitkan aku yang telah hanyut dalam  lamunan yang tiada bertepi
“Tidak, aku hanya memandang pulau di tanah seberang, kenapa aku mesti teringat kepada wanita yang telah menikah sebulan yang lalu itu” kataku dengan pelan dan dengan suara yang lunak tapi sendu
“Sudahlah tak Usah berpura , terlihat dari raut mukamu yang berubah, seolah ada rasa kecewa karena bukan engkau yang menjadi suaminya” Ica berkata dengan nada mengejek.
“Tidak baik itu dibahas setiap tahun, hanya akan mendatangkan hal yang tidak baik dalam bahtera rumah tangga kita. Lagipun cerita cintaku dengannya telah usai begitupun rasa kasih dan sayang ku padanya , telah usai dan harus usai .bukan lagi kasih tak sampai tapi kasih yang telah usai” kataku meyakinkannya . Ica hanya mengangguk tidak lagi berkata kata lagi seolah ia mengerti akan apa yang aku rasakan.

Walaupun begitu adanya aku masih terkenang akan maylan ,wanita yang pernah aku cintai 7 tahun yang lalu itu. Entah mengapa aku kehilangan keyakinan diriku bahwa aku telah bisa melupakannya. Alangkah lambat nya rasa ini berubah , mengapa pula istriku itu memperlihatkan foto itu sambil berharap aku melihat sesuatu yang menjijikkan sehingga  dengan cepat aku melupakan maylan itu ,meski aku tau ia adalah orang yang pernah aku cintai. Namun Pandangan ku yang tepat memandang foto itu justru aku lihat maylan itu  sebagai bunga yang sedang merekah di taman , tidak jenuh mata memandang , tidak bosan berlama duduk disana dan aku sudah lama larut dalam kenangan itu.

Sebenarnya aku punya berbagai alasan bahkan beribu alasan untuk membencinya lalu melupakan apalagi penolakan dari ibunya terhadap diriku yang menyebabkan hubungan aku dan maylan harus berakhir namun itu semua sia-sia bahkan menambah sedih dan pilu dalam jiwaku

Penolakan itu bukan karena perbedaan nasib, perbedaan harta aku dan maylan namun karena ketidaksukaan ibu maylan akan hal yang berbau pacaran  .  Kata yang terucap dari mulut ibunya itu sungguh perih mengiris hati walaupun aku tau yang kami lakukan ini memang salah namun tidak pula dengan kata kata “Masih bocah ingusan , tidak tau Agama, tidak beradat, tidak punya malu , apakah tidak malu engkau dengan orang kampung? Tidak punya mamak kah engkau yang mengajari mu tentang adat ? Sudah dilarang dalam agama masih saja engkau lakukan, tidak diperbolehkan oleh adat masih saja kau perbuat, sudah kah hilang Minang kau? Apakah kau ini kerbau?”. Kata-kata itu sungguh membuat ku sakit hati tapi tidak pula bisa aku menghilangkan rasaku pada Gadis yang menghiasi hidupku itu masih belum juga hilang dalam ingatan walaupun aku telah berusaha melupakan dan meyakinkan diri ini bahwa aku telah melupakannya namun masih teringat juga semakin terang dan semakin jelas apa yang telah kami lakukan  di kurung waktu yang hampir satu windu itu.

Maylan seorang gadis yang cantik , tidak ada cacat celanya, .Gadis keturunan China  dengan kulit yang kuning langsat, perawakannya sederhana besarnya, kecil tidak besar pun tidak, gemuk bukan kurus pun bukan , sedang manis dipandang mata. Rambutnya ikal sebagai awan berarak, mukanya bulat bulan penuh. Matanya laksana bintang timur bersanding dua, dan hidungnya bagai dasun Tunggul. Pipinya seperti pauh dilayang bibirnya limau seulas mulutnya delima mereka , yang tersedia untuk memperlihatkan senyum-senyum simpul. Sehingga kelihatan lesung2 Pipit yang seolah-olah menambah kemolekannya . Hati siapa yang takkan gila , hati siapa yang akan rela melepaskan gadis yang seelok itu . Namun apalah daya sudah menjadi kehendak Tuhan dan kemauan Alam hubungan itu mesti berpisah , tidak semua apa yang kita kehendaki itu boleh dan tidak semua apa yang kita pinta berlaku.

Gadis yang dahulu menjadi buah hati pengarang jantung, timbangan nyawa dan semangat badan itu mesti juga berpisah walaupun gadis itu selalu saya ada dalam pikiran  namun apalah daya jodoh itu tidak ada jua di tangan  .

Pemikiranku yang melayang kepada penghidupan masa dahulu itu telah membawa larat padaku, aku pun harus insaf akan diri dan harus mengetahui siapa aku dan maylan sekarang, tidak ada gunanya aku memikirkan itu sekarang walaupun hatiku maju mundur tidak tentu arah lagi.

Related posts

Untuk Seorang yang Tak Pernah Tau

bandamaster

Puisi-Puisi Arif P. Putra

Afrizal

Merayakan Hari Balai, Mencintai Kumandang Pasar

Afrizal