Home » Canny : Perjalanan yang Sia-Sia
Sastra

Canny : Perjalanan yang Sia-Sia

Benci benar Canny mendengar perkataan rika, hampir-hampir tak dapat ia menahan hati. Tiba-tiba tanpa di perintah mulutnya pun berucap,
“ini memang sulit,” katanya  dengan pasti. “Apabila aku memberitahu mu terlebih dahulu, tidaklah seperti ini yang aku terima.”

Canny menatap Rika dengan mata berkaca-kaca dan dengan hati yang luka tapi ia berusaha untuk tegar agar tak terlihat rapuh di hadapan wanita yang ia cintai itu.

“Kau seharusnya tau diri,” kata gadis pujaan hati canny itu selanjutnya. ” Sebenarnya apa yang kau kemukakan itu, menampakkan kebodohan dan kenaifan kau sendiri.”

Canny semakin terpukul , ucapan Rika tidak hentinya menyayat hati canny.

Dan canny ingin menyakinkan Rika bahwa perjalanan dengan pengorbanan lima semester ini tak akan sia-sia. Tapi sebelum ia selesai menyusun kalimat yang hendak di ucapkannya , gadis manis itu berkata lagi. Katanya “Aku Sudah jenuh dengan mu can, sikap mu terlalu kekanak-kanakan.”

Baca sebelumnya : Canny dan Rika
Canny semakin luka hatinya tak mampu lagi ia menahan tusukan yang tancapkan Rika yang tepat mengenai ulu hatinya namun ia tak mampu berkata bahkan untuk bergerak saja tak mampu . Terpaksa lah ia mendengar gadis itu melanjutkan ucapannya.

“Coba kau bayangkan kembali . Jauh-jauh kau kemari dari Padang ke Surabaya hanya untuk menemui ku yang belum ada kepastian hubungan denganmu?. Apakah kau sudah gila?” Kata gadis cantik itu seraya memandang canny yang berdiri didepannya dengan tatapan serius .
“Tidak sama sekali,” Canny dengan cepat membantah.
“Tentu saja kamu tidak sadar. Karena hatimu telah mati dan matamu telah buta. Tak dapat lagi membedakan mana yang benar mana yang salah, sifat kekanak-kanakan kamu itu adalah bagian dari kegilaanmu, can,” Rika menatap canny dengan sorotan mata yang tajam.

Canny bertanya pada dirinya sendiri. Benarkah ia telah gila oleh cinta? Apakah benar hatinya telah mati hingga tidak dapat lagi mengetahui apa yang dibuatnya ini salah atau benar. Canny berusaha memperbaiki keadaan . mulai lah ia berkata “Apakah aku bodoh bila harus mengungkapkan rasa ku padamu dengan cara yang seperti ini? Gila kah aku bila harus menemui mu disini ? Kau anggap ini sebuah kesia-siaan tapi bagiku….,”
“Sudahlah jangan mengharapkan iba dariku aku tak akan iba denganmu, aku tak peduli dengan pengorbanan mu,” ujar Rika yang memotong perkataan canny yang berbicara terbata-bata dengan kata yang dipaksa-paksakan itu.

Canny tak mampu memandang Rika lebih lama, Rika berbicara dengan pelan-pelan dan dengan suara yang lunak tapi sendu membuat hatinya semakin tak tau arah hendak kemana. Canny mulai merangkai kata di saat hatinya yang tak karuan lagi . canny mulai berucap, “apakah kau tau berapa berat perjuangan ku untuk menemui mu disini? Lima semester aku sisihkan uang belanja ku untuk dapat menemui mu disini. Mabuk darat , mabuk laut terpaksa aku lalui demi mu. Namun disini kau siksa aku dengan katamu yang teramat tajam itu,” ujar canny dengan tergesa-gesa yang tak ingin dipotong kembali perkataannya oleh Rika.

Angin menghampiri mereka berdua , menghentikan perdebatan sejenak sembari membelai dengan lembutnya, seolah ingin mereka berdua berdamai . Canny merasakan angin yang berhembus ini sedikit membantunya .

“Persetan dengan perjuangan dan pengorbanan mu, aku tak peduli . Itu urusan mu lagipun aku tak pula mengharapkan ini dari mu kau selalu saja melebih-lebihkan sesuatu,” ucap Rika dengan pelan. “Bila uang yang kau sisihkan selama itu kau gunakan untuk membantu anak yatim atau orang miskin tentu sudah banyak orang yang terbantu dengan uang yang kau tabungkan itu?”.

Mendengar kalimat itu, canny kehilangan akal. Tak tau apalagi yang harus ia perbuat. Ingin lari dan pergi tapi ia melihat bibir Rika yang merona ia urungkan niat untuk pergi dan memilih tegak diam sembari mengangkat kepala memandang Rika yang ia cintai itu.

“Atau kau gunakan untuk meringankan beban orang tua mu dengan uang sebanyak itu ,daripada menemuiku yang tak pernah mengharapkan kedatangan mu ini,” kata Rika melanjutkan perkataannya.

Kalimat Rika itu membuat Canny untuk kesekian kali tidak dapat berkata , hatinya menjadi tak tentram, semakin lama ia berdiri dihadapan Rika semakin gelisah hatinya.

Perempuan itu sukses mengoyak hati laki-laki yang nampak menyerah itu. Canny melangkah dengan tenang kebelakang , tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah. Dan Rika tinggal dengan perasaan yang semakin jauh dari canny , mulai pergi dan menghilang jauh dari tempat ia berbicara dengan canny yang datang dari jauh itu.

Disaat langkah kepergian canny dari Rika, ia tak sepatah kata pun bercakap, hanya menatap kebawah , masih memikirkan perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia itu. Sepanjang Jalan pulang hanya memikirkan Rika dan hanya Rika saja yang ia pikirkan.

Related posts

Malam Tanpa Suara

Afrizal

Pupus

bandamaster

Rabab Pasisia

Afrizal