Home » Samsul dan Samsir
Sastra

Samsul dan Samsir

Di kedai Mak Sarifa yang berdiri tepat di tengah kampung . Duduklah seorang pemuda  di palanta sembari menggeser-geser layar smartphone nya, Seperti ada sesuatu yang ia cari.

“Ndeeh,” pemuda itu menghembuskan nafas panjang.
“Ada apa sul?” Tanya seorang tua dengan rasa ingin tau.
“Tak ada pak samsir, hanya kecewa pada pemerintah daerah ini,” jawab pemuda itu. “Tidak ada perhatian Pemda terhadap kampung kita ini.”

“maksud mu sul? Perhatian yang bagaimana? Bukankah jalan lingkar itu sudah bukti pemkab peduli pada kampung kita ini?” Ucap Pak Samsir sembari meneguk kopi hitamnya.

Samsul menghirup nafas , sambil meletakkan smartphone nya. Kemudian berkatalah Samsul dengan nada yang pelan “Jalan lingkar itu bukanlah jalan kabupaten pak Samsir, jalan itu adalah jalan nagari 
“Bukankah jalan nagari itu termasuk jalan kabupaten ? Karena Nagari adalah bagian dari kabupaten?” Orang tua itu bertanya dengan wajah penasaran.

Samsul mengambil smartphone yang diletakkannya di atas meja tadi, mencari sesuatu dan memperlihatkannya kepada lelaki tua itu.
“Lihatlah pak Samsir , di dalam UU no 38 tahun 2004 tentang jalan bahwa jalan itu diatur sesuai wewenang penyelenggara jalan , jalan kabupaten wewenang penyelenggara jalan adalah pemerintah kabupaten begitu pun jalan desa wewenangnya ada pada pemerintah nagari, dan jalan rusak di depan kita ini adalah jalan kabupaten” ujar Samsul dengan menunjuk jalan rusak di depannya.

Pak Samsir hanya mengangguk takzim. Ia tak menjawab penjelasan dari anak muda yang tamatan Ilmu hukum itu. Dan lelaki tua itu kembali menyeruput kopi hitamnya lagi yang kali ini ditemani dengan Goreng singkong . Angin pun berhembus dengan lembut membelai kedua orang itu.

Samsul merasakan angin yang berhembus lembut itu membawanya kepada masa yang silam.

Masih teringat jelas dalam ingatan Samsul , ketika ia kecil , jalan di kampungnya ini sudah rusak, bahkan menurut pengakuan  ayahnya jalan ini sudah rusak sejak ayahnya masih remaja. Jalan ini hanya diperbaiki oleh masyarakat dengan kerikil dan pasir untuk menutupi lubang besar yang menganga yang dapat membahayakan keselamatan pengendara yang melintasi jalan tersebut.

Bila kemarau melanda maka jalan itu akan dipenuhi oleh debu yang membuat mata perih dan bila musim penghujan pula jaln itu tak ubahnya seperti kubangan.

“Telah berpuluh tahun jalan ini dibiarkan rusak sebegini parah. Tidak ada perhatian sama sekali , bahkan bupati yang duduk  saat ini tidak peduli dengan jalan ini padahal dia pernah berkunjung kemari dan berjanji memperbaikinya, dasar bedebah,” Samsul berbicara dengan  wajah yang memerah.

Pak Samsir yang duduk dihadapan Samsul terkejut dengan suara Samsul  yang meninggi dan raut wajah yang memerah. Pak samsir mencoba menenangkan anak muda itu.

“Jangan terbawa suasana Samsul, sudah biasa mereka berkata-kata manis , menabur janji di sana-sini . Itu semua hanya menjelang hajat mereka tercapai. Bila hajat mereka tercapai mereka akan lupa atau pura2 lupa dengan janji yang telah ia buat,” Pak Samsir memberi nasihat pamungkasnya kepada Samsul dengan pandangan yang tenang.

Nasihat pak tua itu tak membuat wajah merah Samsul seperti sedia kala. Wajahnya masih saja memerah dan hatinya pun tak tentram dan masih gelisah.

“Kita bisa lihat pak Samsir, kita bandingkan kecamatan kita dengan kecamatan tanah kelahiran bupati bedebah itu , hampir semuanya sudut nagari licin karena aspal, apa ia jadi bupati untuk kecamatannya saja atau bupati untuk semua.
“Benar anak muda, tapi setidaknya masih ada jalan di kecamatan kita ini yang diperbaikinya, contohnya jalan di desa sebelah, janganlah menutup mata akan kebaikan bupati itu anak muda” Pak Samsir mencoba menjelaskan sembari berharap anak muda itu tenang
“Memang benar jalan itu diperbaikinya, tapi hanya itu saja yang diperbaikinya di kecamatan kita ,hanya satu pak Samsir, sekedar pelepas tanya saja.   tapi bila dibandingkan, kecamatan kita jauh dari perhatiannya ,”  ujar Samsul sambil mencicipi gorengan yang terhidang di meja.

Pak samsir mulai merangkai kata terbaiknya . Kali ini ia berhati-hati dalam menjelaskan perkara ini kepada Samsul agar debat ini tak berkepanjangan.

“Anak muda” Pak Samsir menatap Samsul menatap Samsul dengan pandangan yang masih tenang. “Aku ini memang orang tua yang tidak bersekolah tinggi , hanya tamatan SD , tidak berguru pada orang pintar yang bergelar profesor dan doktor seperti mu , tapi aku tau guru yang terbaik adalah pengalaman . Sejauh hidup yang aku lalui , memang begitu lah tabiat pejabat di negeri kita, ia akan lebih memfokuskan pembangunan pada kampung halamannya.

Pak Samsir berhenti sejenak menghirup nafas lalu melanjutkan kembali perkataannya. “Kalau pun ditempat lain ia bangun itu pastilah ada kepentingan di balik itu, tidak ada makan siang yang gratis ,” pak Samsir mengakhiri.

“Kepentingan? Apakah kampung kita ini tidak penting bagi bupati bedebah itu.
“Jangan berkata begitu kasar anak muda pada bupati kita itu,” pak samsir mengingatkan Samsul.
“Kasar? Aku hanya bilang ia bedebah, dan itu memang kenyataan pak Samsir,” Samsul  membela diri.

Suasana hening sejenak , tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kedua Manusia itu.

” kalau kau berkata bedebah , aku yang hanya orang tua ini  lebih setuju kalau yang bedebah itu adalah wakil rakyat yang duduk di kursi empuknya. Bukankah ia yang mewakili kita tapi tak peduli dengan kita . Ia hanya peduli dengan kita bila sudah mendekati musim pemilu, apakah itu tidak bedebah?”

“Benar pak Samsir , kalau sudah musim pemilu ia sibuk membantu, hadir dalam banyak acara, bahkan membuat kandang ayam bila banyak orang datang ia akan datang tanpa di undang.
“Hahaha” pak Samsir tertawa. “Ingatlah nasihat ku ini anak muda, negeri kita ini penuh dengan para bedebah, selagi masih ada para bedebah itu jangan harap akan ada kemajuan . Kalau dengar kabar jalan ini akan diperbaiki tahun ini ? Apakah sudah masuk anggarannya dalam APBD-P ?”
“Masuk bagaimana pak samsir ? Diusulkan saja tidak”
“Benar-benar bedebah .”
“Sudahlah pak samsir daripada kita terus membahas ini, bagaimana kalau kita main domino saja? Sudah lama saya tak main domino , tangan ini sudah gatal ingin membanting batu domino .
“Kita berdua saja? Mana seru. Situ ada Sudin dan Saipul ajak lah dia bermain bersama kita” pak Samsir menyuruh Samsul mengajak Sudin dan Saipul.

Tanpa basa-basi Samsul pun mengajak Sudin dan Saipul bermain domino yang sedang duduk di pojok kedai Mak Sarifah.

Related posts

Senja Bersama Si Terluka

Afrizal

Sebuah Puisi : Nyanyian Sepi

Afrizal

Terperangkap

bandamaster