Home » Wilayah rawan bencana Di Kabupaten Pesisir Selatan
Berita

Wilayah rawan bencana Di Kabupaten Pesisir Selatan



Sebagai negara yang beberapa kali terkena sebuah imbas dari sebuah fenomena alam, tentu kita tidak bisa menampik akan bagaimana rapuhnya Indonesia terhadap “bencana”. Menurut data yang dikeluarkan oleh, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR) beberapa tahun lalu menepatkan nama negara kita menjadi wilayah paling rawan akan hal tersebut. Salah satu wilayah yang memiliki potensi bencana besar di Indonesia  adalah Kabupaten Pesisir SelatanDitinjau dari kondisi Geografis, Geologis dan Hidrometeorologis,Kabupaten Pesisir Selatan termasuk wilayah yang berpotensi mengalami bencana.Adapun potensi bencana yang dimaksud adalah:
                  

                 

a. Gempa Bumi dan Tsunami

Secara umum wilayah Kabupaten Pesisir Selatan terletak di wilayah seismik aktif yaitu pertemuan antara dua lempeng tektonik aktif euroasia dan indo-australia. Berdasarkan catatan sejarah dan pendapat kalangan ahli gempa menyatakan bahwa periode ulang gempa besar dikawasan zona subduksi Mentawai berada pada kisaran 170 hingga 200 tahun sekali. Selain terletak diantara dua lempeng tektonik aktif, wilayah Kabupaten Pesisir Selatan juga terimbas efek dari adanya jalur patahan aktif di Sumatera yaitu Patahan Semangka. Sebagai konsekuensi dari letak geografis tersebut, Kabupaten Pesisir Selatan merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap bahaya gempa bumi dan tsunami. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, gempa bumi yang menimbulkan efek masif kerusakan terjadi pada tahun 2007 dan 2009. Berdasarkan riset 
terakhir para ahli terhadap kondisi zona subduksi Mentawai diketahui bahwa tumbukan lempeng euroasia dan indo-australia telah terkunci (tidak bergerak lagi), sehingga potensi gempa berskala besar yang berimbas pada daerah di sekitarnya sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat. Selain kerusakan akibat 
gempa, hal lain yang menjadi ancaman adalah terjadinya tsunami yang diprediksi akan menyapu kawasan pantai hingga radius 5 (lima) kilometer dari bibir pantai.

b. Banjir

Kerentanan bencana lain yang mengancam wilayah Kabupaten Pesisir Selatan adalah potensi terjadinya banjir, baik banjir biasa maupun banjir bandang. Khusus untuk banjir bandang, wilayah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan daerah yang banyak dialiri sungai-sungai besar. Secara historis tipikal daerah dataran rendah Pesisir Selatan yang terletak di sepanjang pantai dan pada umumnya merupakan lembah, diyakini oleh para ahli merupakan endapan aluvial akibat adanya banjir purba pada masa lalu. Hal ini ditandai dengan bentuk dataran yang menyerupai kipas (kipas aluvial).

c. Tanah Longsor

Kabupaten Pesisir Selatan berada pada daerah perbukitan dengan kemiringan yang cukup curam ± 50 % dari luas wilayah, dengan struktur tanah yang sangat rawan terhadap longsoran. Beberapa hal yang dapat menyebabkan 
tanah longsor antara lain :
a.Tingginya curah hujan 
b.Penebangan pohon yang sembarangan 
c.Peladangan yang sembarangan dan berpindah – pindah 
d.Pembabatan hutan yang tidak semestinya
e.Tidak ditanaminya kembali hutan yang telah gundul (reboisasi)

d. Abrasi Pantai dan Sungai

Wilayah Kabupaten Pesisir Selatan berada di sepanjang pantai Sumatera ± 234 km dan kemiringan pinggir pantai sangat curam dengan gelombang pasang yang cukup tinggi sehingga sangat berpotensi terhadap abrasi pantai. Akibat dari tejadinya abrasi pantai tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan tehadap pemukiman masyarakat yang berada disepanjang pantai, dengan perbedaan ketinggian antara permukaan laut dengan pemukiman masyarakat sangan kecil yaitu ± 3 m. Abrasi pantai adalah bencana alam yang terjadi di wilayah sekitar pantai yang diakibatkan oleh :
a.Adanya perubahan musim 
b.Tingginya gelombang pasang
c.Berkurangnya kawasan hijau disepanjang garis pantai (hutan bakau) 
d.Permukiman penduduk yang semakin dekat dengan pinggir pantai 

e. Kebakaran

Pemukiman penduduk dan lahan perkebunan wilayah Kabupaten Pesisir Selatan sering terjadinya kebakaran. Faktor utama tingginya tingkat kebakaran antara lain ;
– Padatnya rumah penduduk dengan akses jalan yang tidak memadai dalam melakukan pemadaman api pada beberapa titik-titik lokasi dikecamatan. 
– Rata-rata rumah dan pertokoan tidak melakukan pemeriksaan ulang atau penggantian instalasi listrik baru rumah atau pertokoan yang pemakaiannya lebih dari 15 tahun.
– Kebakaran hutan disebabkan masih tradisionalnya masyarakat kita dalam pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran dan beberapa wilayah yang mempunyai lahan – lahan gambut. 

f. Angin Badai dan Puting Beliung

Kerentanan bencana lain yang mengancam adalah potensi terjadinya angin badai dan puting beliung. Secara historis tipikal daerah dataran rendah Pesisir Selatan yang terletak di sepanjang pantai dan pada umumnya merupakan lembah, diyakini masyarakat sering terjadinya bencana angin badai dan puting 
beliung pada masa lalu.

Related posts

Partisipasi Pemilih Pilkada 2020 di Pessel Meningkat

Afrizal

SKB 3 Menteri, Ketua MUI Sumbar : Bagaikan Menembak Pipit dengan Meriam

Afrizal

Wow, Pengusaha Minang Ini Sumbangkan Satu Juta Sajadah untuk Memakmurkan Masjid

Afrizal