Home » Empat Pintu Masuk Maksiat Menuju Manusia
Opini

Empat Pintu Masuk Maksiat Menuju Manusia

Mulanya  masuknya maksiat menuju manusia mulai dari pandangan, kemudian khayalan, kemudian langkah nyata, kemudian tindak kejahatan besar.
Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa barang siapa yang bisa menjaga empat hal, maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya.
Sekarang, mari kita bahas tentang empat hal tersebut. 
1. Al Lahazhat (Pandangan Mata)
Lirikan adalah pelopor, atau “utusan” syahwa. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan modal dalam usaha menjaga kemaluan. Maka barangsiapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya akan menjerumuskan dirinya sendiri ke jurang kebinasaan.
Pandangan adalah pangkal petaka yang menimpa manusia. Sebab, pandangan akan melahirkan lintasan dalam hati, kemudian lintasan akan melahirkan pikiran, dan pikiran akan melahirkan syahwat, dan syahwat membangkitkan keinginan, kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi tekat yang bulat.
Akhirnya apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karena itu, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah bahasa “bersabar dalam menahan pandangan (bebannya) lebih ringan dibandingkan harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya“.
2. Al Khatharat (Pikiran yang terlintas di hati)
Di sinilah tempat bermulanya aktifitas, yang baik ataupun buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan ( untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya berubah menjadi tekad yang bulat. Maka siapa yang mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas di hatinya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsunya. Dan orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunya yang berbalik menguasainya. Dan barangsiapa yang menganggap remeh pikiran-pikiran yang melintas di hatinya, maka ia akan diseret menuju kebinasaan secara terpaksa.
Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di hati seseorang, sehingga akhirnya dia akan menjadi angan-angan tanpa makna (palsu).
Sebenarnya pikiran-pikiran yang melintas itu tidaklah membahayakan, namun yang bahaya bila pikiran-pikiran itu sengaja didatangkan dan terjadi interaksi dengannya. Pikiran yang melintas laksana orang lewat disuatu jalan , bila anda tidak memanggilnya dan anda biarkan saja, maka dia akan berlalu meninggalkan anda. Namun bila anda memanggilnya, anda akan terpesona dengan percakapan, dan tipuannya. 
3. Al Lafazhat (Ungkapan Kata-kata)
Adapun tentang Al Lafazhat (Ungkapan Kata-kata) maka cara menjaganya adalah dengan mencegah keluarnya kata-kata atau ucapan yang tidak bermanfaat dari lidahnya.
Bila ingin mengetahui kondisi hati seseorang, maka lihatlah ucapan lidahnya, suka ataupun tidak suka, ucapan itu akan menjelaskan kepada anda apa yang ada dalam hati seseorang.
Pada lidah terdapat dua penyakit berbahaya. Bila seseorang bisa selamat dari salah satu penyakit maka dia tidak bisa lepas dari penyakit yang satunya lagi., yaitu penyakit dan penyakit diam. Dalam satu kondisi bisa jadi salah satu dari keduanya akan mengakibatkan dosa yang lebih besar dari yang lain.
4. Al Khuthuwat (Langkah Nyata untuk sebuah perbuatan)
Al Khuthuwat bisa dicegah dengan cara seorang hamba tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala dari Allah.
Tergelincir seorang hamba dari perbuatan salah itu ada dua macam; tergelincirnya kaki dan tergelincirnya lidah. 

Related posts

Pungutan Uang Sekolah Bukan untuk Kesejahteraan Komite

Afrizal

Hendrajoni Vs Bupati Pesisir Selatan di Situasi Pandemi Covid-19

Afrizal

Terima Kasih Ali Mukhni, Bupati Padang Pariaman

bandamaster