Home » Tugu Ikan Mungkuih, Realita atau Kenangan?
Opini

Tugu Ikan Mungkuih, Realita atau Kenangan?

Mungkui atau mungkus dalam bahasa Indonesia, merupakan ikan air tawar pemakan lumut, memiliki cupak di atas perutnya yang memudahkannya untuk menempel di bebatuan. Ikan ini biasanya ditemukan di perairan Sumatra.

Di Pesisir Selatan, khususnya di Kecamatan Ranah Pesisir, Mungkui merupakan ciri khas dari daerah Mungkui atau mungkus dalam bahasa Indonesia, merupakan ikan air tawar pemakan lumut, memiliki cupak di atas perutnya yang memudahkannya untuk menempel dibebatuan. Ikan ini biasanya ditemukan di perairan Sumatra.

Di Pesisir Selatan, khususnya di Kecamatan Ranah Pesisir, Mungkui menjadi ciri khas dari daerah tersebut. Tak khayal untuk  menampilkan ciri khas tersebut didirikanlah  tugu ikan “Mungkui” yang berlokasi di pertigaan jalan antara kantor Camat dan Polsek (Polisi Sektor) Ranah Pesisir.

Rizal MS (54), tokoh masyarakat setempat sekaligus penggagas ide tersebut mengatakan, berdirinya tugu di suatu daerah bisa menjadi ikon yang nantinya akan berpengaruh besar terhadap ciri khas wilayah.

Menurut dia, tugu Mungkui yang dibangun, ada empat sisi yang melambangkan ikon daerah, yakni logo Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, filsafat tentang keberadaan Nagari Pelangai, filsafat tentang keberadaan Nagari Sungai Tunu yang masuk dalam topografi Nagari Pelangai, kemudian terakhir tentang nama-nama pahlawan yang pernah berjasa di Kecamatan Ranah Pesisir.

“Ada lima nama pahlawan yang dituliskan pada tugu tersebut, yakni Sae Ahmad, Supin Yatim, Hamid Bai, M.Talip, dan Syofian Yatim. Penetapan nama pahlawan ini, sebelumnya sudah ada kesepakatan antara tokoh masyarakat, ninik mamak, KAN, dan pemerintah kecamatan, karena dinilai telah berjasa kepada daerahnya,” ucapnya seperti dilansir dari harianhaluan.com, pada (29/1)

Tugu Ikan Mungkuih yang diresmikan pada bulan Februari 2019 lalu itu, menurutnya, bisa diartikan dua hal, pertama, Tugu itu menunjukkan bahwa sungai di Ranah Pesisir menghasilkan Mungkui terbaik atau bisa juga diartikan sebagai simbol bahwa di Ranah Pesisir itu pernah hidup ikan yang bernama Mungkui. Dari realita yg terlihat maka tunggu mungkuih dapat disimpulkan sebagai kenangan dan akan menjadi cerita pengantar  tidur kepada generasi berikutnya.

Sepengatahuannya, Ikan yang memiliki nama latin ” sicyopterus stimpsoni” ini hidup di batang Pelangai Kaciak dan batang Pelangai Gadang. Pada batang Pelangai Kaciak , ikan mungkuih di sana biasanya berukuran kecil sedangkan pada batang Pelangai Gadang, ikan Mungkui di sana rata-rata berukuran besar dan ideal untuk dimasak.

Buktinya adalah ada beberapa rumah makan yang makanan spesifiknya adalah mungkuih sudah jarang ditemukan. Biasanya orang yang melakukan perjalanan ke arah selatan seperti sungai penuh biasanya akan berhenti di balai salasa untuk beristirahat sambil memakan ikan mungkuih yang digulai ataupun digoreng.

Akan tetapi, Syaiful Ardi, S.Sos, M.Hum, yang merupakan putra daerah Ranah Pesisir mengatakan, sempat ada pertentangan dari tokoh ranah dan rantau terkait nama-nama pahlawan yang dituliskan. Meski begitu, ia mengapresiasi adanya tugu Ikan Mungkuih di Ranah Pesisir. Menurutnya Ranah Pesisir memiliki history panjang dengan hewan air tawar tersebut, sampai mengantarkan Ranah Pesisir sebagai penghasil Mungkui terbaik dibanding  ikan Mungkui dari daerah lain.

Melihat kondisi Ibukota kecamatan, bisa dikatakan hanya Ranah Pesisir yang mempunyai tugu di Ibukota kecamatan, dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan. Melihat kelangkaan ikan khas yang sudah ada sejak beribu tahun lalu ini, tentu ada sebab dan akibat yang berdampak terhadap perkembangan hewan air tawar ini menjadi langka. Sehingga menimbulkan banyak asumsi dikalangan masyarakat, ditambah lagi ragam permasalahan menyoal keasrian alam Pelangai, tempat tumbuh kembangnya Mungkui. Selain itu, karena Mungkui juga menjadi jajanan langganan bagi orang dari luar Rananh Pesisir. Tidak jarang mereka yang mendatangi Balai Selasa ada mereka yang ingin membeli ikan Mungkuih. Tapi bagaimana lagi, setiap zaman punya rotasi yang berbeda, ada dampak yang sengaja dan tidak disengaja bagi pribadi serta khalayak. Serta muncul inisiatif pembangunan  Tugu sebagai: menampung kenyataan bahwa Ranpes adalah penghasil Mungkuih atau Ranpes sedang berusaha mengenang bahwa daerahnya pernah menghasilkan ikan Mungkuih terbaik.

Related posts

LGBT Tak Mempunyai Tempat di Negara Berketuhanan

Afrizal

Pessel Raih WTP, Kenapa Pembangunan Rumah Sakit di Bukit Taranak Tidak Dilanjutkan?

Afrizal

Pemimpin Sejati Akan Lahir dari Rahim Non Transaksi dalam Pilkada

Afrizal