Home » Kapal MV Boelongan, Wisata Sejarah yang Ada di Mandeh
Pariwisata

Kapal MV Boelongan, Wisata Sejarah yang Ada di Mandeh

Kapal MV Boelongan, Wisata Sejarah yang Ada di Mandeh

Wisata Mandeh menyajikan keindahan yang sangat luar biasa, terdiri dari hamparan gugusan pulau-pulau kecil mulai dari Pulau Cubadak yang terkenal eksotiknya, Pulau Setan ( P. Sutan ) yang begitu memukau mata, pulau Saronjong Kecil dan Pulau saronjong Besar yang mempesona dan tak lupa pula kawasan Hutan Mangrof yang terhampar dengan luas membuat sensasi yang memukau mata wisatawan baik lokal maupun asing.  

Menikmati wisata bahari di kawasan  Mandeh ini merupakan sebuah pengalaman wisata yang luar biasa. Apalagi ada saksi sejarah yang merupakan salah satu bukti begitu mengagumkannya wisata mandeh ini. Kapal Boelongan Nedereland yang saat ini menjadi destinasi pilihan Favorit bagi para penyelam untuk melihat dan menyaksikan bukti sejarah tersebut dengan kedalaman sekitar 27 Meter.  Selain itu, kita juga bisa sembari melihat hanparan terumbu karang nan cantik.

Mari kita coba ulas sedikit dari sejarah kapal Boelongan ini. Kapal Boelongan Nederland dirancang pada tahun 1915  oleh Gebroeders Pot N. V., Bolnes, dari perusahaan perkapalan Belanda, Koninklijke Paketvaart Mij. Kapal ini dirancang sebagai kapal transportasi. Kapal ini memiliki ukuran yang lumayan besar, beratnya saja 1053 ton, dengan dimensi atau ukuran 72,6 x 11,63 x 3,7 m. Kapal ini beroperasi menggunakan tenaga pendorong dari mesin 6cyl Werkspoor diesel engine, kekuatan daya jelajahnya 750 b.h.p. dengan kecepatan 8.25 knots.

Dilansir dari Arsaloka tours, Salah satu peristiwa penting yang dikait-kaitkan dengan kapal Boelongan Nederland adalah peristiwa tenggelamnya KPM “VAN IMHOFF”, yang saat itu membawa para tawanan yang terdiri dari orang-orang Jerman. KPM “VAN IMHOFF” adalah kapal ketiga yang berangkat dari kota Sibolga, Sumatra. Pada tanggal 18 januari 1942, kapal dengan berat 3000 ton itu berlayar menuju india, kebanyakan para awaknya adalah orang Jerman yang ditahan oleh Belanda.

Penahanan mereka sendiri tidak lain karena 10 Mei 1940 prajurit Jerman menginvasi Belanda dan pada hari yang sama Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia membalasnya dengan menahan sebanyak 2.436 orang Jerman untuk ditahan. Kebanyakan dari mereka adalah anggota administrasi kolonial bersama dengan keluarga mereka, ahli budaya, insinyur, dokter, ahli ilmu pegetahuan, ahli minyak bumi. Dan juga diplomat, banyak misionaris, penjual, pelaut, beberapa seniman seperti penemu sekolah lukis Bali yang terkenal, Walter Spies, ada diantaranya. Kamp pengasingan terbesar berada di Sumatera Utara.

Kapal yang berangkat tersebut, kapten kapalnya bernama Bongvani, dengan jumlah tawanan 477 orang Jerman dikawal dengan ketat sebanyak 62 orang tentara bersenjata dan para kru kapal yang yang berjumlah 48 orang. Anehnya sebagai kapal tawanan, kapal ini tidak melengkapi dirinya dengan simbol palang merah, seolah-olah memang diumpan untuk dihancurkan tentara Jepang -tak lain adalah sekutu Jerman sendiri- yang tengah bergerak ke Asia Tenggara. Dan betul saja keesokan harinya kapal itu dibombardir dari udara oleh Jepang, dari tiga bom yang dilepaskan, satu mengenai kapal “VAN IMHOFF”, para tentara Belanda justru kemudian menarik sekoci dan meninggalkan tawanan Jerman yang dihantam sekutunya sendiri itu, sebelumnya orang Belanda telah merghancurkan pompa air dan jaringan komunikasi kapal tersebut, ada juga yang sengaja mematahkan dayung dari sisa sekoci yang mereka tinggalkan.

Akibatnya tidak sedikit dari tawanan tewas, yang selamat berusaha berenang dan menaiki sisa sekoci yang ditinggalkan tentara Belanda dan kru kapal “VAN IMHOFF”, nasibnya juga mengenaskan karena tidak sedikit dari mereka yang “disikat” ikan hiu, ada juga dari mereka yang memilih bunuh diri. Keesokan harinya tanggal 20 Januari 1942, sebuah kapal bernama “BOELONGAN”. yang tak lain adalah kapal Boelongan Nederland mendekati puing-puing kapal “VAN IMHOFF” yang tenggelam itu, beberapa tawanan yang selamat mencoba menaiki kapal tersebut, namun malang nasib mereka, orang Belanda diatas kapal justru meninggalkan mereka begitu tahu para tawanan itu orang Jerman, bahkan ada beberapa orang sempat menaiki kapal kemudian dilempar kembali ke lautan. Tidak banyak dari mereka yang selamat selain beberapa puluh orang saja yang sampai kepulau Nias.

Inilah yang kemudian menjadi awal petaka bagi kapal Boelongan Nederland, sekutu Jerman, yaitu tentara Jepang ternyata membalas perbuatan orang Belanda tempo hari itu, tak banyak bicara begitu mereka menemui Kapal Boeloengan Nederland di sekitar perairan Padang, tentara Jepang langsung membombardir kapal tersebut. Tentu saja bagi Jepang terbayarlah sudah dendam kesumat sekutu mereka orang-orang Jerman yang lunas nafasnya dikapal “VAN IMHOFF” yang jaraknya cuma beberapa hari dari kejadian itu. Maka habislah pula riwayat kapal Boelongan Nederland yang megah sekaligus lambang supremasi kolonial Belanda di Bulungan itu tepat pada tanggal 28 Januari 1942 di Kawasan Mandeh ini.

Ketua Bidang Wisata Bawah air dan Tim Per­ce­patan Pengembangan Wi­sa­ta Bahari Ke­men­terian Pa­ri­wisata Cipto Aji Gunawan mengatakan bahwa perlu ada persepsi dan pe­ma­haman yang sama tentang sejarah kapal.

“Sejarah kapal akan me­n­­jadi hal yang me­narik un­tuk dikunjungi selain ke­as­rian dan keindahan di ling­kung­an kapal karam,” kata Cipto Aji Gunawan.

Related posts

Air Terjun Palangai Gadang: Bisakah Wisata Alam Lokal Menjadi Eksis?

Afrizal

Pulau Cingkuak, Benteng Bersejarah Peninggalan VOC

bandamaster

Masjid ‘Terapung’ Samudera Ilahi Painan Bikin Kagum Imam Besar Malaysia, Ini Kisahnya!

Riri Tri Utami