Home » Datang dan Pergi
Sastra

Datang dan Pergi





 Dibawah pohon rindang tepi danau, terlihat seorang gadis cantik berjilbab biru malam sedang duduk tepat dikaki pohon. Namanya Christy, biasa dipanggil Ci. Dia sendirian, nampaknya sedang menunggu seseorang. Dengan anggunnya dia berjalan membawa sebuah buku coklat tua dengan pena biru malam. Dari apa yang ditampilkannya jelas sekali dia begitu menyukai warna biru malam. Sekali lagi dia melangkah ketepi danau, lalu kembali lagi duduk dibawah pohon. Lalu dia memasukkan buku dan penanya ke dalam tas putih mungil tanpa motif. Raut wajahnya begitu ayu namun tak dapat ditemukan apa yang sedang dirasakannya, tatapannya datar namun sedikit layu seakan ada sesuatu dibaliknya.

“Ci? “ seseorang lelaki muda menghampirinya. Lelaki itu menggunakan kemeja hitam disertai celana jeans bewarna cream yang serasi dengan sepatu putihnya.Namanya jonathan, yang sering dipanggil Jo, teman kuliahnya Christy.
“jo?” sapa Christy.
“kamu sendirian?” Tanya jo sambil melirik tepat kebola mata Christy.
“Kenapa kau kesini?” Christy bertanya balik tanpa memepedulikan pertanyaan jo.

             Jo berjalan menelusuri pinggir danau. Christy mengikuti langkahnya. Jo tak bergeming,dia hanya diam sesekali menghentikan langkahnya. Langkahnya seakan menceritakan tujuan dan maksudnya ketempat ini. Nampaknya dia begitu lelah, sama seperti Christy.

“apa ayahmu sudah membaik?” pertanyaan itu muncul dari mulut Christy.
Jo lama terdiam. Berulangkali dia mengehela nafasnya. Lalu dia menenangkan dirinya.
“kemarin aku menjenguknya, sepertinya tidak ada perubahan” jo membuka percakapan.
“aku mengerti perasaanmu” Christy menatapnya pelan.
“ayah memintamu menemuinya” jo membalas tatapan Christy
“nanti malam aku akan mengunjunginya” Christy berjalan meninggalkan jo


 Malam seperti tak bernyawa. Jalanan kosong, padahal masih pukul 20.00 WIB.Christy tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit dimana ayah jo dirawat. Dia memarkirkan mobilnya,lalu berjalan menelusuri koridor rumah sakit itu. Hatinya gusar, dia tak lagi setegar yang dulu semenjak ayahnya meninggal. Walaupun dia jarang menangis, tapi sangat jelas diwajahnya dia lelah dan kesepian. Kadang kita hanya bisa berharap tapi tak bisa memilih. Dia memasuki kamar No.15 sebelah kiri. Dia membuka pintu itu perlahan berharap agar tidak menggagu. Disana terlihat sosok lelaki separoh baya yang lusuh akibat sakit yang dideritanya. Seperti ingin melakukan sesuatu tapi sudah terlambat. Dan menyesal bukanlah jalan yang bisa mebalikkan fakta yang terjadi.

“kau sendirian nak?” Tanya ayah jo yang Nampak mengetahui kedatangannya.
“ iya om” Christy menundukkan kepalanya. Merasa tak sanggup melihat beliau begitu. Terlihat menyakitkan namun tiada lagi pilihan.
“senang sekali melihatmu datang menjengukku. Aku sangat merindukanmu nak. Semenjak ayahmu pergi, kenapa kau tak pernah datang berkunjung kerumahku lagi. Aku sangat sedih atas itu. Banyak sekali yang ingin ku critakan padamu. Aku tidak tahu kenapa aku selalu menemui jalan buntu dikehidupanku.Aku tidak tahu kenapa aku berujung disini dengan infus dan obat obatan ini. Aku tidak tahu bagaimana jo kedepannya jika aku tetap disini” ayah jo seakan menyampaikan secuil kegelisahannya.
“sudahlah om. Tidak perlu berputus asa begitu. Aku akan sangat senang jika om membaik. Aku berharap atas kesembuhan om.” Christy mencoba membuat suasana itu menjadi tenang.
“aku tidak tahu kapan aku akan pergi. Tidak ada yang dapat aku pastikan. Untuk itu aku memintamu datang. Aku ingin kau menjaga jo, tetaplah berteman. Aku takut bagaimana dia nanti jika aku pergi” ayah jo berkata lirih. Seakan dunianya telah runtuh.
“jangan ragu om. Aku akan tetap menjaganya. Kami sudah berteman sejak lama. Aku tidak akan membiarkannya terluka” Christy Nampak memperbaiki raut wajanhnya. Hatinya sedih. Jo akan menikah, dan itu bukanlah dengan dirinya.
“pulanglah, ini sudah malam. Kenapa kau tidak mengajak jo pergi bersamamu? Aku khawatir dengan keselamatanmu.” Kata ayah jo
“aku tadi sedang terburu-buru om. Aku tidak sempat menghubungi jo” Christy menjawabnya cepat.
“aku percaya padamu. Berhati hatilah.” Sambung ayah jo.
“baik om. Selamat malam.” Lalu Christy berlalu pergi.

Sesampainya dirumah. Dia memasukkan mobil kegarasinya. Tiba tiba saja jo menelponya, memberitahu ayahnya sudah tiada. Christy tersentak. Hatinya bertambah pilu. Nampaknya luka tiada berujung. Rasa tak berdaya menghantuinya. Dengan segala tenaga dia mengarahkan pikirannya. Dia harus kerumah sakit sekarang. Dia seperti kehilangan arah, memacu mobilnya dengan cepat. Sesampainya disana, dia berlari menelusuri koridor itu. Melewati banyak kamar. Hingga terlihat jo sedang menatapnya, jo terduduk didepan ayahnya yang terbujur kaku. Jo tampak muram, embun dimatanya tak kunjung reda. Lalu sontak Christy memeluknya.

“aku tak punya harapan. Aku tak lagi punya mimpi. Semua ini membuatku takut” jo memeluk Christy erat. Christy membiarkannya. Dia memberikan jo ruang untuk menyampaikan simpul dihatinya.
“jangan tinggalkan aku. Aku tak punya siapa-siapa. Aku butuh kamu.” Sambung jo dengan suara berbisik. Christy hanya diam. Membiarkan jo mengatakan semuanya.

Setelah kepergian ayahnya. Kini jo lebih sering dirumah. Diam dan membelenggu dirinya sendiri dengan berbagai penyesalan. Dia kehilangan dirinya sendiri.
Lalu Christy datang, nampaknya membawa makanan. Dia langsung menemui jo ditaman belakang. Terlihat jo duduk sambil memperhatikan air mancur kecil yang menghiasi taman itu. Dia menyadari kedatangan Christy namun memilih tak bergeming. Mengingat pernikahannya dengan gadis lain itu. Dia semakin membenci dirinya sendiri, kenapa tak satu kebahagiaan tersisa dihidupnya?.

“apa kau sudah makan? Kelihatannya kau begitu lelah.” Christy memulai percakapan,. Lalu duduk disamping jo. Namun jo tetap diam. Bahkan tak melirik Christy sedikitpu.
“aku membawakan makanan ini untukmu” Christy tersenyum sambil membuka makanan yang dibawanya.
“kenapa kau merepotkan diri untuk orang yang tidak berguna ini” kata jo dingin
“lebih baik kau berikan pada anjing” sambungnya lagi dengan nada lebih dingin lagi. Christy lama terdiam. Lalu dia memberanikan diri lagi untuk  berkata.
“kau boleh marahi aku. Semaumu. Sesukamu. Tapi ku mohon jangan siksa dirimu sendiri. Aku tahu kau banyak masalah. Hatimu tidak tenang. Aku tahu kau putus asa. Tapi sekarang kesehatanmu lebih penting. Makanlah dulu. Nanti kita selesaikan masalahmu. Sekarang terserah padamu, apakah kau akan menganggap perkataanmu sampah. Atau kau tak lagi mau mendengarkan nasihat ku. Tapi percayalah padaku, semua akan baik baik saja” Christy menghiburnya. Jo sedikit terobati. Kali ini dia lebih tenang. Lalu dia mengambil makanan itu sendiri lalu memakannya.
  “ aku ingin memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang sudah lama aku simpan. Aku tidak tahu bagaimana reaksimu nanti. Aku hanya ingin jujur padamu dan diriku sendiri. Aku tidak tahu apakah ini terlambat, entahlah. Aku tidak tahu harus memulainya darimana. Sejujurnya aku sudah lama menyukaimu. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku tidak hanya menganggapmu teman kecilku. Aku mencintaimu. Aku berharap kau menyimpan rasa yang sama” lalu jo menggenggam erat tangan Christy. Namun Christy melepaskannya.
“aku tidak tahu apa yang akan aku katakan” lalu Christy beranjak pergi. Tapi jo menyambarnya cepat. Dia memeluk Christy erat.
“aku akan selalu punya harapan, jika aku bersamamu. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku tidak lagi mau melihat orang-orang yang datang lalu pergi. Ku mohon tetaplah disampingku” bisik jo ditelinga Christy. Lalu tanpa disadari Christy mebalas pelukan jo erat.
“ aku selamanya disini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku juga mencintaimu. Ku mohon kembalilah menjadi dirimu sendiri” Christy berkata pelan. Lalu jo melepaskan pelukannya dengan tersenyum.
“tapi kau juga kehilangan dirimu sendiri, semenjak kepergian ayahmu aku tidak pernah lagi melihat kau tertawa, kau seperti ular berdarah dingin yang mematikan” jo tertawa kecil sambil berlari.
“kau membalikkan fakta mu ha?” Christy mengejar jo sambil tertawa.
“baiklah aku menyerah tuan putri” kata jo sambil terenga- engah.
“ah kau sudah tua rupanya kakek reyot, berlari sedikit saja kau sudah kelelahan” ledek Christy. Lalu mereka tertawa bersama.

Didunia ini terkadang kita harus melepaskan apa yang sudah ada dalam genggaman untuk bertahan hidup. Kita memberikan segalanya untuk orang yang kita cintai, namun siapa yang tahu. Mereka bisa meninggalkan kita kapan saja. Bahkan sekeras apapun kita memintanya untuk tetap tinggal, jika waktunya pergi. Dia tidak akan menghiraukan kita. Maka cintailah segala sesuatu sewajarnya. Terlalu berharap adalah penyakit. Kita berhak bahagia dengan cara sederhana sekalipun.
                      
                       


Related posts

Pematah

bandamaster

Sehimpun Puisi Sri Jumaini

Afrizal

Hujan Menghapus Kisah

bandamaster