Home » Tradisi Masyarakat Surantih Sebelum Masuknya Islam yang Masih Bertahan Hingga Sekarang
Sutera unik

Tradisi Masyarakat Surantih Sebelum Masuknya Islam yang Masih Bertahan Hingga Sekarang


Nagari Surantih berdasarkan buku ” Alam Sati Nagari Surantih ( Asal Usul, Adat Istiadat dan Monografi Nagari Surantih )” karya Almasri Syamsi dan Riri Fahlen, dituliskan bahwa leluhur masyarakat Nagari Surantih yang berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu telah mewariskan Agama Islam yang sebelumnya telah disalurkan dari hubungan baik yang tak pernah terpisahkan antara masyarakat dengan Kerajaan Aceh hingga sekarang. 

Masyarakat Minangkabau yang terkenal dengan kegigihannya untuk mendapatkan sesuatu telah banyak menuntut ilmu tentang keagamaan ke Aceh dan kemudian mengembangkan ilmu tersebut di Ranah Minang. Ajaran Agama Islam yang dibawa ke Ranah Minang dapat diterima dengan mudah oleh berbagai kalangan masyarakat di Ranah Minang baik itu masyarakat bawah hingga kalangan pejabat kerajaan. 

Wilayah Kesatuan Banda Sapuluah memiliki banyak bandar untuk berlabuh bagi pencalang Aceh sehingga arus pelayaran ke Aceh sangat lancar. Itu pula sebabnya pemuda Nagari Surantih bisa mempersunting wanita Aceh, seperti Tuanku Marah Bara’i yang katanya menetap dan berkembang di Kampung Timbulun. Begitu juga dengan masyarakat lainnya di Banda Sapuluah ada yang menetap di Aceh sampai sekarang.

Setelah Agama Islam berkembang di Ranah Minang, terjadi asimilasi Agama Islam dengan budaya-budaya yang ada. Hal ini dapat dilihat dari sikap dan tindakan masyarakat yang masih tetap mempertahankan prinsip-prinsip keyakinan yang berbau budaya Animisme dan Hindu. Dari tradisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa adanya upaya untuk mempertahankan budaya lama dengan perilaku tersebut. 

Kenyataan itu terlihat dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Surantih yang sekilas dilihat memang aneh, seperti jika seseorang mengalami sakit, untuk mengetahui penyebab sakitnya di minta bantuan dukun untuk membantu melihat penyakit yang diderita pasien dengan manyarayo limau kapeh (asam) untuk mencari kebenaran apakah orang tersebut tasapo atau tidak. Asam tersebut akan memberi tanda dan lokasi kejadian dimana orang itu tasapo. Dukun akan membacakan mantra yang memerintahkan asam untuk menjelaskan bagaimana kejadian tasaponya si pasien walaupun hakekat dari proses tersebut sulit diketahui. Setelah dukun mengetahui dimana pasien tasapo, maka dukun akan melakukan langkah selanjutnya untuk maulak (menolak bala) pada tempat yang dianggap sebagai penyebab pasien sakit. 

Kebiasaan lainnya adalah dalam pembacaan doa, biasanya dalam pembacaan doa baik doa selamatan di rumah mau pun di tempat-tempat yang dianggap keramat seperti  Tampat (kuburan orang keramat). Sebelum do’a dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan pembakaran kemenyan. Pembakaran kemenyan diperuntukkan sebagai pemberi tahu, pemanggilan bagi arwah sebagai penghormatan, selanjutnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Setelah doa selesai dibacakan ada yang dilanjutkan dengan pemotongan hewan seperti, Ayam, Kambing dan lain-lain.Selain itu, keyakinan masyarakat Nagari Surantih yang masih memiliki kajian mendalam tentang keberadaan alam Supra Natural yang terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi. 

Dari beberapa contoh yang disajikan di atas dapat dilihat bahwa segala isi alam dimanfaatkan oleh masyarakat nagari Surantih.Kebiasaan tersebut bisa dikatakan masih bersifat abstrak dan berbau Animisme. 

Tidak dapat dipungkiri di Nagari Surantih memang masih ada yang meyakini hal tersebut. Adanya pikiran dan anggapan bahwa kebenaran dalam suatu keyakinan  masih diwarisi hingga saat ini. Namun meskipun demikian, kepercayaan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa tetap menjadi hal yang terus dijunjung tinggi oleh masyarakat Surantih hingga saat ini. 

Pelaksanaan ritual yang demikian oleh masyarakat Nagari Surantih mempunyai alasan-alasan tersendiri bagi mereka.  Walaupun kepercayaan seperti ini merupakan warisan yang dibawa dari daerah asal nenek moyang, Alam Surambi Sungai Pagu.Umumnya masyarakat Nagari Surantih menganut Agama Islam. Keyakinan ini dianut, diterima dan diwarisi dari Niniak/orang tua yang memeluknya di nagari ini. 

Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan landasan hidup masyarakat nagari. Meskipun dalam kehidupan masyarakat Nagari Surantih masih terdapat golongan masyarakat yang menyakini cara yang berbeda, namun itu sesuai dengan masa dan situasi pemahamannya. Meskipun demikian tidak satu pun terjadi penyalahgunaan. Perdamaian sesama umat beragama sangat bagus dan lancar sama-sama diterima oleh masyarakat nagari.

Related posts

Jeli Lihat Peluang, Pemuda Asal Surantih Ini Buka Bisnis Baju ‘Alah Final 2020 Ganti Bupati’

Afrizal

Efektivitas PPKM Mikro di Kelurahan Perlu Ditingkatkan

Riri Tri Utami

Maubek Pasie, Tolak Balanya Masyarakat Pesisir Pantai Surantih

Afrizal