Home » Batagak Pangulu-Malewakan Gala: Edi Hendra Datuak Rajo Mangkuto
Berita

Batagak Pangulu-Malewakan Gala: Edi Hendra Datuak Rajo Mangkuto



Batagak Pangulu-Malewakan Gala: Edi Hendra Datuak Rajo Mangkuto


Senin 10 Februari 2020 di Kampung Tanjung Alai, Nagari Koto Taratak, Kecamatan Sutera diadakan acara Batagak Pangulu-Malewakan Gala Datuak Rajo Mangkuto. Amanah tersebut diserahkan kepada Edi Hendra untuk meneruskan gelar adat tersebut. Kegiatan adat tersebut diselenggarakan oleh kaun suku sikumbang Nagari Koto Taratak.

“Hasil dari musyawarah kaum, tujuannya tak lain dan tak bukan untuk menjalin silaturahmi, mempererat hubungan kaum dan antar kaum. Maka terpilihlah Edi Hendra sebagai pewaris gelar ini.” Kata Kolonel TNI (Purn) Sjamsu Anwar, mamak kaum Sikumbang Koto Taratak yang sekaligus sebagai tuan rumah penyelenggaraan.

Pada acara pengangkatan datuak ini Hendra Joni, Bupati Pessel diwakili oleh Asisten I Setdakap Muskamal. Lisda Hendrajoni yang merupakan anggota komisi VIII DPR RI juga hadir pada kegiatan tersebut. Acara tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat terkait, tokoh adat dari LKAM, KAN Perangkat Nagari dan sejumlah tokoh adat lainnya.

Edi Hendra dalam pidatonya menyampaikan tugasnya sebagai datuak tentulah tidak ringan. Sebagai pemimpin kaum tugasnya tentu tidak semata mengurusi sanak sepersekian saja, tapi juga mesti terlibat aktif dalam menjaga harmoni dengan masyarakat serta melakukan kerja kolaborasi dengan pemerintah terkait urusan kemasyarakatan.

Malewakan gala sendiri merupakan upacara adat untuk mengangkat datuak dari suku atau kaum tertentu sekaligus pemberitahuan kepada masyarakat umum. Dengan upacara ini, posisi seseorang yang sudah diangkat menjadi datuak akan dituakan selangkah akan menjadi pemimpin bagi sukunya dan posisinya sendiri di tengah kaumnya maupun masyarakat tidak akan seperti dulu lagi.
Keluarga besar kaum Rajo Mangkuto sendiri tidak hanya tinggal di Koto Taratak tetapi juga menyebar ke banyak daerah di Indonesia dan negeri tetangga. Edi Hendra bekerja di Disnakertrans  tinggal dan menetap di Nagari Koto Taratak. Harapannya posisi tersebut benar-benar terhubung langsung dengan masyarakat sekaligus menjadi pintu bagi kaumnya yang berada di luar daerah.

Pada acara yang sama, selain mengangkat Datuak juga perangkat suku sikumbang lainnya. Gelar ini sendiri terakhir kali dipegang Ayek Rasul Datuak Rajo Mangkuto. Menurut Sjamsu Anwar,  gelar tersebut tak dipakai hampir ratusan tahun. Menurutnya saat ini adalah masa yang paling potensial untuk mengembalikan yang tersimpan.

“Dengan demikian selama ratusan tahun gelar Datuak Rajo Mangkuto tidak ada yang memakai. Ibarat kain terlipat dan payung kuncup. Saat ini kemenakan sudah berkembang dan memerlukan bimbingan dan asuhan. Acara Malewakan datuak ini ibarat membuka kain yang terlipat dan mengembangkan payung yang kuncup,” tambah Sjamsu Anwar.

________________
Indrian Koto, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Februari 1983; adalah seorang sastrawan dan penyair Indonesia

Related posts

Program ‘Satu Tahun di Kampung’ dari Anak Muda Pelosok yang Menginspirasi

Afrizal

Ini Alasan Mengapa Khutbah Jumat Berbahasa Arab di Masjid Syathariyah

Afrizal

Ini Alasan Aurel Hermansyah Kenakan Baju Adat Minang Saat Syukuran Akad

Riri Tri Utami