Home » Saluang Sago Geni, Cara Bujang Jibun Menghindari Utang
Sutera unik

Saluang Sago Geni, Cara Bujang Jibun Menghindari Utang


Saluang Sago Geni, Cara Bujang Jibun Menghindari Utang 

Kaba atau cerita Bujang Jibun merupakan cerita rakyat yang berkembang di Kecamatan Sutera, Kab. Pesisir Selatan. Kaba ini  menceritakan seorang “parewa” yang hobi menyabung ayam. Selain terkenal sebagai tukang sabung, Jibun juga orang yang memiliki utang yang banyak. Dalam kehidupan masyarakat Sutera hari ini, orang yang memiliki utang selilit pinggang akan dijuluki sebagai “Bujang Jibun”. 

Berdasarkan buku “Alam Sati Nagari Surantih ( Asal Usul, Adat Istiadat, dan Monografi Nagari Surantih )” diceritakan, Setiap kali orang yang datang menagih piutang kepadanya, maka Bujang Jibun akan memainkan saluang kesayangannya. Saluang ini bernama Saluang Sago Geni. 

Bujang Jibun hanya akan memainkan saluangnya pada waktu-waktu tertentu saja, terutama saat datang penagih hutang. Lantaran Bujang Jibun tidak memiliki apa-apa, maka untuk mengalihkan perhatian orang yang datang dimainkanlah saluangnya itu.

Apabila telah ditiup saluangnya, maka yang mendengarkan akan merasa iba dan sedih hati yang tidak tertahankan. Ratok yang dimainkan Bujang Jibun membuat pendengarnya larut dalam kesedihan. Saking “santiang”nya Bujang Jibun memainkan saluang, serasa mau putus jantung dan hati. Hingga piutang yang hendak ditagih ada tidak akan terkatakan lagi. 

Hampir setiap orang yang datang untuk menagih akan mendapatkan hal yang sama: terlena akan saluang saktinya itu.  Sebelum orang itu sampai ke rumahnya, Bujang Jibun telah siap dengan saluang Sago Geninya. Mereka disuruh menungggu lebih dulu. Alasannya, sebelum utang akan dibayar lebih baik duduk dan minum terlebih dahulu sambil mendengarkan bunyi saluangnya. Setelah salung selesai dimainkan, yang namanya utang tidak akan pernah teringat lagi oleh sang penagih.

Demikianlah cara Bujang Jibun menghadapi orang-orang yang menagih utang padanya. Beda zaman tentu berbeda pula cara orang untuk menghindari orang yang menagih piutang. Seperti zaman sekarang, tentu orang tidak bisa lagi memainkan saluang seperti yang diperagakan oleh Bujang Jibun. Saluang yang membuat hati iba bila mendengarnya, sehingga lupa untuk menagih piutang. Kesaktian atau kemagisan saluang seperti itu, sekarang sudah tidak ada lagi,  generasi muda sekarang juga tidak tertarik mendengar hal yang demikian.

Musik tradisional seperti saluang  memang tidak terlalu  mendapatkan tempat di hati masyarakat, tapi untuk menghindari untuk membayar utang masih mendapatkan tempat yang prioritas oleh masyarakat. Cuma bedanya, jika Bujang Jibun piawai dalam memainkan Saluang hingga orang terlena dan lupa akan piutang yang ditagihnya, masyarakat sekarang piawai memainkan lidahnya untuk membuat orang terlena. Tapi juga ada yang bersilat lidah untuk meyakinkan sang penagih bahwa utang akan dibayar tapi dilain waktu. 

Related posts

Tradisi Masyarakat Surantih Sebelum Masuknya Islam yang Masih Bertahan Hingga Sekarang

bandamaster

Langkanya Huruf “R” di Surantih

Afrizal

Anak Naiak, Fenomena “Aneh” yang Ada di Surantih

Afrizal