Home » Ketika Saluang Sago Geni Bujang Jibun Tidak Lagi Sakti
Sutera unik

Ketika Saluang Sago Geni Bujang Jibun Tidak Lagi Sakti


Ketika Saluang Sago Geni Bujang Jibun Tidak Lagi Sakti

Ibaratkan kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan terjatuh juga. Itulah yang dialami oleh Bujang Jibun ketika Saluang kesayangannya kehilangan tuah. Saluang Sago Geni miliknya kehilangan kesaktian ketika dihadapan Gadih Raema yang datang dari Padang untuk menagih piutang.

Seperti biasa, ketika ada yang datang menagih utang maka Bujang Jibun mengajaknya duduk sambil memainkan saluang. Ketika selesai bermain saluang, biasanya orang tersebut akan larut dan terlena akan perasaan iba dan sedih hati yang tidak tertahankan, pun pada akhirnya utang tidak teringat lagi oleh penagih.

Begitulah nasib para penagih utang saat berhadapan dengan Bujang Jibun. Cara tersebut juga diterapkan kepada Gadih Raema yang ingin menagih utang, tapi sayangnya Gadih Raema tidak mempan. Telah dimainkan saluang oleh Bujang Jibun, beragam bunyi yang dilantunkan untuk membuat tunduk Gadih Raema, namun Gadih Raema tidak juga larut dan tunduk oleh alunan suara Saluang Sago Geni milik Bujang Jibun.

Merasa lelah bermain saluang, maka memohonlah Bujang Jibun kepada Gadih Raema untuk bersabar menunggunya melunasi utang. Akan tetapi Gadih Raema tidak akan menunggu utang Bujang Jibun, baginya lebih baik pulang nama daripada harus menunggu Bujang Jibun melunasi utang tersebut. Mendapat reaksi seperti itu, Bujang Jibun berteriak sekeras-kerasnya, setelah bunyi suara dari mulutnya menghilang maka dihantamkanlah kakinya di lereng Bukit Batu Balai sehingga miringlah bukit itu dikala itu.

Di saat amarah Bujang Jibun memuncak, berlarilah dia menuruni Bukit Batu Balai menuju tepi air Lubuk Timbulun. Ketika sampai di sana, bersumpahlah ia dengan suara lantang  saat itu 

Hei Tempat-tempat keramat, berkat Allah dan Nabi, berkat tempat yang keramat beserta Niniak dengan Aulia. Kalau ada harta dari Bujang Jibun, kalau saya menerjuni lubuk ini, jadikanlah saya sebuah batu juga segala harta yang saya miliki,” ucap Bujang Jibun.

Usai bersumpah, melompatlah Bujang Jibun ke air lubuk tersebut sehingga Bujang Jibun tertancap berdiri dalam lubuk dan seketika menjadi batu.

Kemarahan Bujang Jibun tidaklah diketahui oleh Gadih Raema. Telah lama menunggu, Gadih Raema tidak sabar menunggu. Akhirnya Gadih Raema berjalan menuruni Batu Bukit Balai untuk mengikuti jejak Bujang Jibun. Ketika  Raema sampai di daerah tepi air lubuk, diperhatikan baik-baik 
di sekitaran. Kemudian dipalingkannya penglihatannya ke arah air lubuk yang mengalir menuruti riaknya. Tanpa diduga, di dalam air lubuk Raema melihat sebuah batu, sosok Bujang Jibun rupanya yang telah menjadi batu. Melihat peristiwa yang terjadi itu, datanglah penyesalan dalam diri Raema.

Namun cerita ini terus beredar dikalangan masyarakat, sehingga membuat nama Bujang Jibun terkenal sebagai orang yang suka berutang. Cerita Bujang Jibun menjadi cerita Rakyat di Masyarakat setempat yang menyisakan beberapa peninggalan Bujang Jibun di Bukit Balai.

Related posts

Parang Pisang, Budaya Khas Masyarakat Surantih

Afrizal

Mengenal Panginang dan Pangasuah dalam Pernikahan di Surantih

Afrizal

Kapan Kecamatan Sutera berdiri? Ini Jawabannya!

Afrizal