Home » Apa Jadinya Kampung Tanpa Lebaran?
Opini

Apa Jadinya Kampung Tanpa Lebaran?

Bandasapuluah.com ,-Apa Jadinya Kampung Tanpa Lebaran?

Bagi para perantau, lebaran merupakan momen paling ditunggu untuk berkumpul bersama keluarga. Lebaran adalah saatnya pulang kampung, mudik, pulang ke kampung halaman. Masyarakat Minangkabau dikenal dengan tradisi merantaunya. Lebaran menjadi masa krusial bagi perantau. Mudik demikian niscaya. Selain bersilaturahmi, berkumpul, mudik sekaligus ajang untuk mengukur prestasi kemapanan seseorang, atau justru kegagalannya. Untuk yang terakhir, pulang sekaligus menjadi wadah baru untuk mencari rantau baru.


Secara umum, merantau, baik dalam komunitas masyarakat Minang maupun masyarakat dan suku lainnya, yang terjadi belakangan ini terjadi karena dua faktor utama: pendidikan dan ekonomi. Namun, mudik lebaran tetaplah keniscayaan, apa pun hasil yang didapat di perantauan. Kampung yang sepi dalam satu waktu tiba-tiba ramai menjadi semarak. Rumah-rumah berisi, jalanan penuh, beragam permainan muncul di hari raya, tempat-tempat wisata padat oleh pengunjung.

Di jalan bisa terlihat betapa plat kendaraan dapat menunjukkan dari daerah mana para perantau berasal. Seminggu selepas lebaran barisan kendaraan pribadi itu akan berbaris lagi meninggalkan kampung, membawa sekedar oleh-oleh, mengangkut jumlah perantau, membawa sejumput kenangan yang tak terlupakan.

Jika di hari-hari biasa kampung sepi-lengang, di hari lebaran semua jadi benderang. Apa jadinya kampung tanpa lebaran? Tak dapat kita bayangkan. Sukar sekali mencari waktu yang pas di mana sebagian besar perantau berkumpul bersama keluarga, bertemu kawan-kawan lama, sebelum menghilang lagi di telan tanah rantau. Pariwisata berkembang pesat di musim-musim mudik. Warga panen raya. Para perantau menjadi tuan di kampung sendiri.

Pesisir Selatan yang memanjang di selatan kota Padang, dengan jalan sempit dan curam akan dipenuhi kendaraan. Jalan menuju tempat wisata akan dipenuhi beragam jenis kendaraan, semua ingin berwisata di kampung sendiri, membandingkan perkembangannya dengan rantau. Maka kawasan wisata Mandeh, Jembatan Akar, Carocok, Langkisau hingga Pantai Sumedang demikian sesak oleh pengunjung. Belakangan banyak kawasan wisata baru yang tak kurang menampung pengunjung. Keluhan kecil selalu ada, mulai dari sarana dan prasarana, dan semacamnya, sisanya adalah kegembiraan

 Kerangka kerjanya, perantau ikut memasarkan pariwisata lokal, dan warga setempat mampu memanjakan para perantau. Lihat saja, setiap waktu tumbuh lokasi-lokasi wisata baru yang akan dikerumuni para pemudik. Sebuah nikmat mudik yang tak selalu didapatkan di hari-hari lain.

 Mudik, selain mempertautkan yang lahir dan yang batin, sekaligus ranah memupuk semangat para perantau. Kampung adalah candu dan buah rindu, yang mesti diulang dan selalu minta diulang. Memanggil-manggil perantau pulang.

  Indrian Koto, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Februari 1983; adalah seorang sastrawan dan penyair Indonesia

Related posts

Energi dan Tantangannya

Afrizal

Marxisme Tidak Sama dengan Komunisme

Afrizal

Mari Mengenal Latar Belakang Lahirnya Islam Nusantara

Afrizal